Munif Chatib – Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

DALAM sebuah reuni kelas di sebuah SMA, terjadi dialog dan ramah tamah yang cukup memantik memori masa lalu. Maklumlah selama 30 tahun mereka berpisah dan baru pertama kali berkumpul. Lalu ada yang iseng bertanya siapakah yang paling sukses di antara mereka. Ternyata ada satu orang, sebut saja si Bejo.

 Latar belakang pendidikannya adalah S1 Teknik Elektro, lalu S2-nya juga Teknik Elektro. Bejo sukses dalam pekerjaannya, makmur hidupnya sebagai peternak ikan Lele di beberapa pulau di Indonesia. Ketika ditanya apa hubungannya kuliah sampai 10 tahun yang ujungnya berakhir pada profesi peternak Lele? Bejo menjawab, minimal dia tahu cara menghidupkan saklar lampu pada kolam-kolam lelenya. Dan pasti semua tertawa kala mendengarnya.

Penulis yakin, banyak orang yang senasib dengan Bejo. Profesi atau pekerjaan sekarang tidak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Memang tidak berdosa jika profesi seseorang berbeda dengan latar belakang pendidikannya? Namun idealnya sekolah itu untuk memantapkan pengetahuan dan ketrampilan tertentu pada sebuah profesi yang sering disebut oleh anak TK dan SD dengan sebutan cita-cita.

Akar masalahnya adalah pada jenjang SLTA. Sebab di SLTA adalah sekolah terakhir yang  mempelajari mata pelajaran secara umum. Setelah itu lebih spesialisasi di perguruan tinggi. Jika anak-anak kita yang duduk di bangku SMA, selama tiga tahun, masih belum menemukan bakat dan minatnya, biasanya akan terjadi kebingungan memilih jurusan di perguruan tingginya.

Sekolah SMA harus menjadi  ajang terakhir pemantik bakat dan minat siswanya. Bakat dan minat inilah dua komponen penting untuk meraih profesi yang diharapkan. Bakat itu potensi yang di bawa sejak lahir. Jika bakat dipantik oleh lingkungannya, maka akan muncul kemampuan-kemampuan tertentu.

Sedangkan minat berasal dari eksternal, berupa tantangan atau paksaan dari lingkungan yang mengakibatkan munculnya minat untuk mempelajari kemampuan-kemampuan tertentu. Jika profesi yang dijalani seseorang tidak mempunyai unsur bakat dan minat biasanya profesi tersebut biasa-biasa saja. Sebaliknya jika bakat dan minat seseorang ada pada profesinya, biasanya dia menjadi seorang profesional. Berkarya dan mampu menyelesaikan masalah.

Mahasiswa yang salah jurusan, akan menemukan beberapa mata kuliah yang tidak disukainya. Bukan berarti mahasiswa tersebut bodoh. Namun minat untuk mempelajari mata kuliah tersebut nol besar. Hasil akhirnya selalu gagal memahami mata kuliah tersebut.

Lihatlah di dunia kampus, mahasiswa yang rajin biasanya adalah dia bahagia dengan jurusan yang dipilih. Mempelajari sebuah mata kuliah, meskipun relatif sulit, namun dia berminat dan berusaha untuk paham dan bisa. Hasil akhirnya biasanya sukses. Artinya sangat berhubungan sekali pemahaman mata kuliah di perguruan tinggi dengan bakat dan minat mahasiswanya.

Penulis berharap, Sekolah Lanjutan Tinkat Atas (SLTA) semestinya mementingkan berdialog denga setiap peserta didiknya tentang pemilihan jurusan atau fakultas I perguruan tinggi yang sesusi dengan bakat dan minatnya.

Penulis mengembangkan mata pelajaran penting untuk siswa kelas 12 SMA yaitu Desain Cita-Cita (DCC) yang bertujuan mengajak siswa-siswa SMA memahami bakat dan minatnya, lalu bagaimana cara memilih jurusan yang tepat untuk dirinya.

Mata pelajaran yang penting, yang selama ini tidak pernah diajarkan kepada anak-anak kita SMA kelas 12 tentang  memikirkan masa depannya. *

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry