
Kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) berhasil mewujudkan mimpi warga Desa Panyepen, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Kini sebanyak 1.900-an warganya bisa tersenyum lebar. Berkat darma bakti para prajurit TNI, air bersih dan irigasi mengalir sepanjang tahun di ujung barat Bumi Bahari.
TRI SURYANINGRUM, duta.co
—————————————–
DESIR angin berhembus pelan, menabuh batang-batang tembakau yang berderet rapi, dengan jarak yang beraturan. Helaian daunnya bergerak, gemulai ditiup angin memamerkan pesona indahnya. Mengalihkan terik mentari kemarau yang menebar panas, menyengat.
Sayang, hijau daun tembakau di Desa Panyepen, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, seperti menyajikan pemandangan yang menyimbolkan ketangguhan sekaligus kecemasan. Bagi masyarakat setempat, tembakau bukan sekadar komoditas tanam, melainkan ‘daun emas’ penyambung napas ekonomi keluarga.
Di balik hijaunya, tersimpan rintihan klasik petani akan dahaga air yang saban tahun mengancam produktivitas hasil panen. Bagaimana pun tanaman ini sangat rentan, di mana pasokan air juga cuaca menjadi penentu utama antara panen raya yang menyejahterakan atau gagal panen yang mengancam.
Kecemasan itu kini mulai dirasakan Sunari. Dia terlihat mematung di ujung pematang sawah. Pandangannya tanpa semangat, lurus, menatap tanaman tembakau yang mulai merajuk dahaga. Bayang-bayang gagal panen menghantui. Satu-satunya menaguk harap hanya pada sumur bor yang dibangun melalui Program Karya Bakti Skala Besar (KBSB) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan darat (AD) yang dikomandoi Kodim 0828/Sampang segera selesai dan bisa dimanfaatkan warga Panyepen. Tapi kapan?

Pertanyaan itu terus bergelayut di benaknya, hingga tanpa disadari, hembusan angin berusaha menerbangkan selendang batik bermotif pesisir warna merah menyala khas Sampang yang dikalungkan di leher. Dia seolah tidak peduli, sorot mata perempuan paruh baya itu terlihat sendu menatap hamparan tembakau.
Tetiba pandangannya beralih ke sumur bor yang letaknya tidak jauh dari persawahan miliknya. Di sebelahnya ada rumah pompa bercat biru yang berdiri kokoh di tengah persawahan. Tak jauh dari bangunan tersebut, jaringan perpipaan terbentang, menjadi bagian dari pembangunan sumur bor yang diproyeksikan menjadi sumber kehidupan baru bagi warga di Panyepen.
Kali ini pandangannya ditajamkan, ketika dilihatnya sejumlah warga berdatangan, mulai melingkari rumah pompa. Tua, muda, laki-laki, perempuan, berkumpul dengan wajah bahagia.
“Ebhu….!” teriak mereka dari kejauhan, saling bersahut memanggil. Ebhu, sebutan Ibu untuk orang Madura itu terdengar makin keras, membuat rasa ingin tahu semakin menjadi. Membawanya bergegas melangkahkan kaki cepat, menyusuri pematang, lalu berusaha membelah kerumunan.

Dadanya berdegup kencang, memastikan yang dilihatnya nyata, bukan hanya sekedar mimpi-mimpi yang digantungkan di awang-awang selama puluhan tahun. Tetiba hatinya tersentuh membuat air matanya pun luruh, mengalir di sela pipi yang mulai ada gurat keriput dimakan usia.
Sebuah rasa yang tidak mampu dia lukiskan hadir, memenuhi setiap rongga yang ada di dada, ketika dilihatnya para prajurit TNI bersiap membuka keran air.
“Paneka nyata, banna mempe (Ini nyata, bukan mimpi),” bisiknya lirih nyaris tak terdengar.
Seketika ada yang mengelayut di benaknya, menerbangkan ingatan ke masa lampau, membuat air matanya semakin deras mengalir. Dia kembali teringat perjuangannya dulu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga biasanya harus mengandalkan air sungai terdekat yang kondisinya keruh, membeli air dari tangki swasta, menunnggu dropping air dari pemerindah daerah, atau mencari air hingga berjalan kaki ke desa tetangga, Batorasang sejauh 3 kilometer.
Angin berhembus pelan, menembus ke wajah, meneduhkan hati, menyadarkannya untuk membuang jauh air mata itu. Ditariknya ujung selendang dengan jemarinya, diusap perlahan untuk menyeka air mata. Seketika senyumnya mengembang. Pandangannya sekali lagi ditajamkan, lurus, ke keran-keran yang siap mengalirkan air.
Sekilas senyumnya mulai mengembang, makin lama makin melebar ketika omandan Komando Distrik Milite (Dandim) 0828/Sampang Letkol Czi Dika Catur Yanuar Anwar ST, bersiap uji coba mengalirkan air.
“Bismillahirohmanirohim, semoga airnya mengalir dengan lancar,” ucapnya bersemangat, sambal tangannya membuka keran pelan.
Dan ketika dari keran itu mengucurkan air kali pertama, Ia pun mulai memamerkan, senyumnya. “Alhamdulillah, ana’ ban ponakanna sengko’ ta’ parlo pole nyare aeng (Alhamdulillah, anak cucu saya tidak lagi susah payah mencari air),” ucapnya bangga sambil terus melebarkan senyum.

Sumor Bor Jadi Program Prioritas
Desa Panyepen yang terletak di ujung barat kabupaten yang dijuluki sebagai Bumi Bahari ini, masuk wilayah kategori daerah rawan kekeringan kritis. Untuk mengatasi masalah menahun tersebut, TNI AD melalui Program KBSB ini mempercepat pembangunan fasilitas sumur bor dan tandon air raksasa berlantai tiga untuk menyuplai kebutuhan warga secara jangka panjang.
Pembangunan sumur bor, merupakan bagian dari program prioritas fisik dalam KBSB kali ini. Fasilitas ini dibangun untuk mengatasi krisis air bersih warga serta mendukung irigasi pertanian terutama tembakau saat musim kemarau. Di Panyepen, ketika hujan berhenti turun, debit air sumur perlahan menyusut. Sawah yang bergantung pada pasokan air pun kerap menghadapi ancaman kekeringan, sementara kebutuhan air bersih masyarakat ikut menjadi persoalan.
Persoalan krusial inilah yang menggugah perhatian pria dengan dua melati di pundak ini, untuk mewujudkan mimpi warga Panyepen, dengan membangun fasilitas sumur bor dan tandon air. Infrastruktur vital ini dirancang untuk mengalirkan air, baik untuk kebutuhan irigasi persawahan warga maupun distribusi air bersih langsung ke rumah.
Ditegaskan Dandim, program yang dilakukan secara massif ini hadir bukan sekadar membawa proyek fisik seremonial, melainkan solusi konkret atas problem fundamental warga. Salah satu sasaran fisik prioritas yang tengah digarap adalah pembangunan sarana sumur bor.
Pria yang menjabat Dandim sejak Juni 2025 ini lantas menyatakan, keberadaan sumur bor ini dirancang secara terpadu untuk memberikan manfaat ganda (double impact), menjamin ketersediaan air bersih harian bagi pemukiman warga sekaligus memasok kebutuhan irigasi lahan pertanian di saat kemarau melanda.
“Karena sumur bor yang kita bangun ini tidak hanya untuk mengaliri irigasi di musim kemarau, melainkan ada sambungan yang langsung mengalirkan air bersih ke rumah-rumah warga.” Ujarnya bangga,
“Semoga dengan sumur bor ini nantinya dapat membantu masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan air bersih sekaligus menunjang produktivitas lahan pertanian. Karena dengan ketersediaan pasokan air yang memadai, hasil pertanian diyakini akan meningkat sehingga mampu mendorong kesejahteraan para petani secara berkelanjutan,” tegasnya.

Sasar 1.900 Jiwa hingga Area Pertanian
Walau untuk mewujudkan mimpi di dusun yang dihuni yang berpenduduk 1.900-an jiwa ini, sempat terkendala medan yang berat. “Bayangkan, untuk mengangkut material yang akan digunakan untuk pembuatan tandon hingga pemasangan pipa harus memutar arah hingga 3 kilometer karena kondisi jalan yang rusak berat,” ungkapnya.
Pengerjaan terasa mudah, ungkap Perwira Seksi Teritorial (Pasiter) Lettu Cba Sujiwo. karena personel TNI bersama warga bergotong-royong mulai dari membangun struktur dasar sumur bor, bak penampungan air, menggali jalur pipa, memasang instalasi perpipaan, hingga kesiapan rumah pompa untuk mendistribusikan air ke permukiman dan area pertanian.
“Bagi kami, pembangunan ini bukan sekadar menyelesaikan target fisik. Seluruh pekerjaan harus memenuhi standar kualitas agar benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujar.
Kemanfaatan jangka panjang inilah yang membuar rasa terima kasih dari warga tidak bisa terlukiskan. “Ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan investasi sosial yang manfaatnya akan dirasakan hingga anak cucu kita. Terima kasih Bapak-Bapak TNI,” ungkap Kepala Desa Panyepan Abdus, penuh haru.
Kebahagian yang dirasakan warganya menurut Abdus bukanlah berlebihan. Mengingat siklus kemarau selalu menjadi periode paling krusial bagi para petani tembakau di Dusun Bekatul. Saat masa tanam membutuhkan pasokan air yang stabil untuk menjaga kelembaban tanah, debit air sumur dangkal warga justru merosot tajam hingga mengantungkan harapan pada embung desa.
“Keterbatasan pasokan air bersih dan irigasi menjadi kendala paling berat yang langsung berdampak pada penurunan produktivitas serta kualitas panen tembakau warga kami,” ujarnya.
Padahal lanjut, tembakau adalah tulang punggung keluarga di sini. Perhatian ini menjadi bahan bakar semangat baru bagi warga untuk terus meningkatkan hasil pertanian. Untuk itulah, menyampaikan apresiasi atas pembangunan jaringan air bersih dan irigasi yang dinilai menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak-Bapak TNI yang telah bekerja keras menghadirkan akses air bersih ke lingkungan permukiman hingga jalur irigasi,” ujarnya seraya melempar senyum.

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Apresiasi dan dukungan serupa dilontarkan Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, keneradaan KBSB bukan hanya membangun fasilitas, tetapi juga membangun harapan, kebersamaan, dan masa depan masyarakat desa. “Air bersih merupakan kebutuhan utama yang harus dapat dinikmati oleh seluruh warga,” tuturnya.
Menurutnya, program tersebut menjadi bukti nyata sinergi antara TNI dan pemerintah daerah dalam mempercepat pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
“Kami sangat bersyukur Kabupaten Sampang kembali menjadi lokasi pelaksanaan KBSB. Program ini tidak hanya mempercepat pembangunan desa, tetapi juga semakin memperkokoh kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar membangun infrastruktur, KBSB menjadi ruang untuk menumbuhkan kembali semangat gotong royong. TNI dan masyarakat menyatukan tenaga, kepedulian, dan harapan demi menghadirkan perubahan yang bermanfaat bagi desa.
Sinergi TNI dalam rangka membantu Pemerintah Daerah (Pemda) untuk meningkatkan akselerasi pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di daerah tertinggal, terisolasi dan rawan bencana yang diungkapkan Komandan Korem (Danrem) 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Kohir yang mendorong dipilihnya Desa Panyepen sebagai sasaran KBSB.
Diungkapkan Pamen TNI AD ini, kondisi desa yang berada di daerah terluar memerlukan sentuhan pembangunan, dengan sasaran fisik. “Kita memilih sudah ada pertimbangan dari beberapa faktor yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan ini secara tak langsung mempercepat pembangunan menuju desa yang mandiri dan sejahtera seperti harapan Pemkab Bojonegoro,” pamernya.
Danrem lantas mengungkapkan, berbagai pembangunan infrastruktur dilakukan, semata-mata untuk membantu mengatasi kesulitan masyarakat dan mengejar ketertinggalan Desa Kesongo. “Kami mengajak seluruh masyarakat, mari kita sama-sama bergotong-royong menyukseskan gelaran KBSB ini. Semoga apa yang menjadi harapan kita bersama untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat akan dapat terwujud,” tegasnya.

Bersatu Membangun Panyepen
Hal ini dibenarkan oleh Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin MA, bahwa KBSB merupakan aktualisasi budaya gotong royong yang melibatkan seluruh elemen bangsa untuk memajukan daerah tertinggal, seperti yang sekarang dilakukan di Panyepen.
“KBSB adalah salah satu cara TNI AD mengajak masyarakat untuk bersatu-padu membangun bangsa, terutama pada hal-hal yang belum tersentuh oleh program pemerintah dan membutuhkan percepatan, khususnya di bidang pembangunan,” kata Pangdam.
Untuk itu, Pangdam berharap baik sasaran fisik yang dikerjakan oleh TNI ini mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat di daerah tertinggal, terutama untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya, dan memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
Ia memaparkan, KBSB sebagai program lintas sektoral yang melibatkan TNI, lembaga pemerintah daerah, serta segenap lapisan masyarakat, merupakan salah satu langkah nyata guna mengatasi berbagai permasalahan, seperti akses jalan transportasi yang belum ada atau belum layak, serta membantu penanggulangan kemiskinan.
“KBSB upaya percepatan dan pemerataan pembangunan infrastruktur desa serta penguatan sinergi lintas sektor antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.

GANTIKAN BAMBU: Personel TNI bergotong-royong menyelesaikan jembatan permanen menggantikan akses jembatan lama dari bambu.
Wujudkan Pemerataan Pembangunan
KBSB, tambah Pangdam bukan domain TNI semata, melainkan program bersama semua komponen bangsa yang dilakukan sebagai upaya untuk mengakselerasikan pembangunan, memeratakan kesejahteraan, meningkatkan kemanunggalan TNI-Rakyat sekaligus meningkatkan kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Semoga gelaran KBSB ini dapat menjadi momentum untuk mewujudkan program-program pembangunan yang berkelanjutan dan berdampak positif yang langsung dirasakan oleh masyarakat,” harapnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya TNI AD memastikan pembangunan berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di daerah terpencil dan tertinggal. “Kita ingin memastikan infrastruktur jalan, akses pendidikan, serta kebutuhan air bersih warga terpenuhi secara optimal,” ungkap jenderal bintang satu ini.
Adanya perbaikan infrastruktir juga dapat meningkatkan kualitas infrastruktur desa yang ke depan menunjang aktivitas ekonomi. melalui transportasi dan distribusi hasil panen lebih lancar.
“Sehingga tujuan utamanya mampu meningkatnya kesadaran, kemandirian, dan kapasitas sosial masyarakat dalam menjaga hasil pembangunan serta ketahanan wilayah, dan perekonomian sehingga kesejahteraan terangkat,” harapnya.

Seperti diketahui, Program KBSB TNI AD yang diinisisi Kodam V/Brawijaya digelar secara masif dari Juli hingga Agustus 2026 di Pulau Madura. Kegiatan dengan tema, “Bakti TNI AD untuk Rakyat di Pulau Madura” ini menyadar empat kabupaten, yakni Sumenep, Pamekasan, Bangkalan dan Sampang.
Khusus di Kabupaten Sampang, meliputi pembangunan infrastruktur pedesaan dan fasilitas pendukung kesejahteraan, seperti perbaikan ratusan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) beserta fasilitas MCK, puluhan sumur bor, renovasi tempat ibadah, rehab fasilitas pendidikan, serta pembangunan Jembatan Perintis Garuda, seperti di Desa Moktesareh, Kecamatan Sampang dan Desa Kara Kecamatan Torjun. Jembatan permanen ini menggantikan akses jembatan lama yang sebelumnya tidak memadai atau dari bambu, sehingga menjadi akses krusial bagi mobilitas warga sehari-hari.
KBSB TNI AD di wilayah Kodim 0828/Sampang menjadi bukti bahwa kepedulian, kebersamaan, dan gotong royong tetap menjadi pondasi dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Berkat KBSB, Desa Panyepen memiliki wajah baru, air yang menghidupi, yang akan menjadi jejak peradaban yang lahir dari gotong royong, dedikasi, dan cinta pada tanah air.
Semilir angin bertiup lembut, harmoni alam yang menenangkan. Sementara dedaunan tembakau yang bergoyang menciptakan simfoni visual dan audio yang identik dengan kesuburan dan ketenangan pedesaan.
Semilir angin terus menyapa dengan hangat, membawa damai, seolah membisikkan doa-doa lagi harapan baru. Keindahan alam yang hangat membuai. Langit membiru di ujung atas. Memberi rasa yang tiada terbatas.







































