PEMILUKADA : Ketua PCNU KH. Muhammad Ma’mun sempat dikabarkan turut bursa calon kepala daerah (istimewa/duta.co)

KEDIRI|duta.co – Sempat berhembus kabar Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Kediri melawan bumbung kosong. Kabar terbaru, beredar foto pasangan Mujahid dan Eko Ediono dikabarkan tengah mengurus surat rekomendasi dari sejumlah partai. Diketahui bersama, PDI Perjuangan, PKB dan NasDem dipastikan telah keluarkan surat rekomendasi kepada pasangan Hanindhito Himawan Pramono – Dewi Mariya Ulfa. Bila ini benar terjadi, semoga strategi politik saat Pemilihan Presiden tidak bakal terulang, saat Joko Widodo melawan Prabowo.

“Ada tiga partai yang diharapkan memberikan surat rekomendasi kepada Pak Mujahid dan Pak Eko Ediono,” jelas sumber duta.co dari orang dekat mereka, Minggu (12/07). Yang menjadikan menarik, kini isu yang digulirkan adalah pilih kulit atau isinya demi lima tahun ke depan. Lalu, bila ini benar terjadi diprediksi suara Nahdlatul Ulama akan pecah. Diketahui bersama Dhito telah mendekati sejumlah tokoh NU Kediri. Tentunya Mujahid – Eko tidak ada pilihan untuk menggandeng para kyai kampung.

Setidaknya lembaga penyelenggara pemilu bisa bernafas lega, setidaknya jerih payahnya untuk menggelar Pemilukada pada 9 Desember nanti, akan muncul dua pasangan calon. Apalagi kemungkinan tampilnya calon independen telah tertutup rapat. Sejumlah kepala desa di Kabupaten Kediri saat dikorek keterangan, juga berharap ada perubahan dan akan memilih pasangan kepala daerah yang berani melakukan kontrak politik.

“Sudah tidak ada karena tahapan (jalur perseorangan, red) telah lewat, cuma kalau sampai penutupan pendaftaran hanya ada satu calon yang mendaftar. Tapi masih ada partai yang punya kursi belum memberikan rekom, maka KPU wajib menunda penetapan calon. Kemudian melakukan sosialisasi ke parpol dan membuka pendaftaran kembali selama 3 hari,” terang Nanang Qosim, Komisioner KPU Kabupaten Kediri Bidang Peran Serta Masyarakat dan SDM, saat dikonfirmasi.

Bila kemudian terjadi pertarungan kyai kampung denagn para tokoh NU, yang justru dikuatirkan adalah munculnya perpecahan di kalangan umat Islam. Apalagi diawali, pernah diberitakan Dewi Mariya Ulfa merupakan Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Kediri telah diminta mengosongkan ruang kerjanya di Gedung NU Kabupaten Kediri. Kemudian para pengurus NU akan meminta aset yang kini ditempati DPC PKB karena sekian waktu ditempati belum pernah ada kontribusi nyata kepada NU. (nng)