
SURABAYA | duta.co – Bak bola liar! Kabar Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj (SAS) menagih ‘bunga murah’ uang Rp1,5 triliun ke pemerintah menjadi ‘bola liar’. Apalagi disusul dengan isu kekecewaan atas kapitalisasi suara nahdliyin di Pilpres 2019.
“Kalau langkah Kiai SAS ini tidak segera dihentikan, lama-lama kita sendiri malu menjadi warga NU. Sekarang, banyak komentar soal rebutan kredit murah yang menyudutkan NU. Dikatakan Muhammadiyah dan NU itu bainassama wassumur (antara langit dan sumur red.),” demikian H Solachul A’am Wahib, cucu muassis NU almaghfurlah KH Wahab Chasbullah kepada duta.co, Selasa (31/12/2019).
Ya! Sejak kemarin, meme Muhammadiyah Garis Lurus ‘menyerbu’ komunitas nahdliyin. Anggota grup-grup WA warga NU sibuk mengomentari tulisan meme tersebut. Isinya seputar besaran utang pemerintah kepada Muhammadiyah (melalui klaim pembayaran BPJS) sebesar Rp1,2 triliun.
Judulnya ‘Semua akan…pada waktunya..’. “Saran saya kepada masyarakat yg nunggak iuran BPJS. Silahkan segera saja mengurus kartu anggota Muhammadiyah. Buat senjata kl ada tukang tagih bpjs kerumah. Jadi klo tukang tagih bpjs datang suruh angsur dulu tunggakan bpjs ke Muhammadiyah,” tulisnya dengan menyertakan gambar tertawa.
Meme Muhammadiyah Garis Lurus ini juga menyertakan berita CNNIndonesia dan gambar Prof Din Syamsuddin mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Judulnya ‘Din Sebut BPJS Kesehatan utang ke Muhammadiyah Rp1,2 Triliun.” Meme ini mendapat beragam tanggapan.
“NU mestinya seperti itu. Dulu, NU itu mandiri, tidak mau tergantung pemerintah. Bahkan paling kritis terhadap pemerintah. Sekarang kok malah sebaliknya, memalukan,” tulis choi.
Tidak sedikit pula yang menyarankan adanya perombakan total pengurus NU. “NU Skrg sdh keluar jalur. Segera ganti sopir. Kalau tidak, lama-lama kita malu menjadi warga NU,” tulisnya.
Amalkan Wirid Ya Jabbar Ya Qohhar
Menurut Gus A’am, panggilan akrab H Solachul A’am Wahib Wahab, komentar-komentar seperti itu, wajar terjadi. Karena kondisi warga NU di bawah, sudah sangat resah menyaksikan politisasi organisasi.
“Saya memahami kekecewaan nahdliyin. Mereka ini tidak terima kalau jamiyyah NU dipakai alat untuk kepentingan pribadi pengurus,” jelasnya.

Untungnya, tambah Gus A’am, amaliyah NU di bawah tetap kuat. Kiai-kiai pesantren, habaib telah berhasil membumikan nilai-nilai ke-NU-an di masyarakat luas. Semua ini berjalan dengan sendirinya alias autopilot, bahkan beberapa hal sikap nahdliyin berlawanan dengan pengurus NU.
“Ada pengurus NU yang membenci HTI dan FPI setengah mati, sementara warga NU di bawah biasa-biasa saja, bahkan berteman. Ada yang berusaha ‘menghabisi’ PKS, sementara tidak sedikit tokoh-tokoh NU yang justru berada di PKS,” tegas Gus A’am yang baru saja mengisi acara Maulid Nabi Muhammad SAW di DPP PKS, Jakarta.

Untuk itu, sarannya, warga NU di bawah harus diajak bangkit membenahi organisasi ini. Sebab selain membumikan nilai-nilai aswaja, keberadaan NU ini sangat penting sebagai pilar NKRI.
“Bantu NU! Kalau tidak punya harta, bantu tenaga. Kalau masih tidak bisa, bantu melalui doa. Amalkan ijazah (wirid) Ya Jabbar Ya Qohhar dari Gus Azaim dan para kiai di Komite Khitthah 26 NU. Saya yakin Allah SWT akan menolong NU,” tegasnya. (mky)





































