Endang Sulistiyani, M.Kom – Dosen Prodi S1 Sistem Informasi Fakultas Teknik

BAGI generasi X yang lahir di awal-awal perkembangan teknologi informasi akan mengenal gadget ketika mereka sudah dewasa.

Sementara generasi Y yang dikenal dengan generasi millennium lebih banyak menggunakan teknologi komunikasi instans seperti SMS, email dan instant messaging lainnya pada saat remaja.

Hal ini karena mereka tumbuh pada era internet booming. Generasi Z yang merupakan peralihan dari generasi sebelumnya biasa disebut genersi internet, dimana mereka mengenal gadget pada usia yang lebih muda. Satu lagi, generasi alpha yang bisa dikatakan mengenal gadget sejak lahir.

Perbedaan waktu mengenal gadget jelas memperlihatkan adanya kesenjangan usia digital antar generasi tersebut. Hasilnya, berbeda pula cara pandang penggunaan gadget sebagai kebutuhan.

Bila mengingat kembali pelajaran saat SD tentang kebutuhan manusia berdasarkan intensitas atau tingkat kebutuhannya, gadget seperti smartphone awalnya dipandang sebagai barang mewah sehingga keterpenuhannya dianggap sebagai kebutuhan tersier.

Akan tetapi bagaimana dengan sekarang. Dewasa ini sudah terjadi pergeseran akan kebutuhan barang tersebut. Bukan hanya sebagai kebutuhan sekunder bahkan bisa jadi sudah kebutuhan primer.

Bagaimana tidak, layaknya makan atau minum obat yang harus dikonsumsi oleh seseorang, begitulah gadget dibutuhkan.

Lihat saya sekarang, tidak jarang gadget menemani orang ketika makan, mulai dari memotret makanan sebelum dimakan sampai menemani makan dengan menonton video.

Lantas, seberapa bahaya  gadget bagi kehidupan kita?

Jawabannya jelas tidak. Pada dasarnya, gadget diciptakan untuk membantu manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ingat awal kemunculan telepon. Kebutuhan komunikasi yang terkadang terhalang ruang dan waktu melatarbelakangi inovasi pada alat komunikasi tersebut.

 Menggunakan telepon, manusia dapat berkomunikasi dengan mudah dengan kerabat atau teman yang jauh nan disana. Akses informasi dan pengetahuan yang dahulu hanya bisa melalui buku cetak sudah berganti.

Pada era digital seperti sekarang ini, peserta didik dapat dengan mudah menjadi referensi di internet. Sampai ada istilah “Mbah Google”.

Bimbingan belajar yang tidak jarang membutuhkan biaya yang tidak murah pun dapat disiasati dengan aplikasi bimbel online yang harganya terjangkau tapi tidak kalah berkualitas.

Terkait aktivitas sehari-hari, sarana transportasi yang dapat diakses secara online menggunakan gadget Anda juga dirasa sangat bermanfaat. Ilustrasi di atas jelas menunjukkan dengan jelas manfaat dan sisi positif dari kepemilikan gadget.

Tapi, kenapa banyak kasus pelanggaran norma bahkan hukum karena gadget?Teknologi yang hadir saat ini semakin “smart”, tapi bagaimana dengan penggunanya?

Inilah hal yang sebenarnya perlu mendapat perhatian lebih. Tidak ada yang salah ketika gadget hadir sebagai teknologi yang “smart”. Ketidakbenaran muncul  ketika pengguna smart teknologi bukanlah smart people.

Kekhawatiran besar muncul pada kondisi seperti ini. Arti “smart” dalam menggunakan teknologi adalah mengetahui apa teknologi yang tepat, waktu yang tepat, dan penggunaan yang tepat pula.

Terlebih untuk generasi alpha yang sebagian besar adalah anak-anak. Banyak orang berprasangka negatif akan kehadiran gadget di kehidupan mereka.

Akan tetapi menurut American Academy of Pediatrics (AAP) jelas menyebutkan bahwa gadget dapat mendukung tumbuh kembang anak. Beberapa dampak positif adalah merangsang kemampuan motorik, melatih cara berfikir, dan merangsang anak berfikir kreatif.

Hal tersebut tidak hanya isapan jembol, lihat saya anak-anak kecil yang sudah sangat mahir mengopersikan gadget bahkan untuk bermain game.

Bisa dibayangkan kemampuan motorik dan kognitif apa saja yang dirangsang dari aktivitas ini. Akan tetapi berbagai manfaat tersebut akan lenyap bahkan berganti menjadi sebuah ancaman ketika tidak tepat penggunaannya.

 Anak-anak memang secara tersirat sangat mahir menggunakan gadget akan tetapi jangan lupakan peran orang tua. Pendampingan yang baik, mulai dari menemani anak dalam mengakses gadget, memberikan batasan waktu yang konsisten dan juga memilih program yang tepat adalah solusinya.

Ingat  jangan sampai peran orang tua dan aktivitas sosial anak digantikan oleh peran gadget. Akhirnya, jadilah “smart pengguna” dalam menggunakan “smart teknologi. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.