H Abdul Kholiq.

JOMBANG | duta.co – Sistem pembelajaran dalam dunia pendidikan yang dilakukan dengan regulasi belajar dalam jaringan (daring, red) atau online, di tengah pandemi covid-19, dinilai banyak kelemahan. Buktinya, masih banyak daerah pedalaman yang masih terkendala oleh koneksi jaringan, tenaga pendidik yang masih kurang memahami teknologi, kurangnya fasilitas peralatan yang memadai, serta pengawasan orangtua terhadap anak saat proses belajar.

Menurut H Abdul Kholiq, mantan anggota DPRD Jombang dari fraksi PDI Perjuangan, bahaya yang menanti dari sistem sekolah daring adalah pembodohan dari generasi muda menanti. Karena, kata dia, siswa tak bisa maksimal dalam proses belajar, siswa banyak menggantungkan pada orangtua saat belajar, siswa kurang berinteraksi dengan siswa lainnya.

“Dengan sistem regulasi seperti ini, bahaya akan menanti bagi generasi muda. Karena secara akademik, mereka kurang maksimal dalam melakukan proses belajar mengajar dan selalu bergantung pada orangtua untuk mengejarkan tugas. Melainkan bukan potensi yang dimiliki oleh siswa itu sendiri,” ujarnya, Senin (22/2).

Selain itu, kata Cak Kholiq, sapaan akrabnya, perkuliahan secara daring saja masih banyak menuai kendala. Apalagi, yang siswa dari tingkat SD sampai dengan SMA. “Ini yang seharusnya dipikirkan oleh pemerintah pusat sampai dengan pemerintah daerah. Jika ini masih terus berlama-lamaan, maka pembodohan bagi siswa-siswa akan tercapai. Terus, lantas bagaimana nasib generasi kita ke depan nantinya,?,” tanya dia.

Pemerintah pusat telah mencanangkan terkait pemerataan pendidikan. Hal tersebut agar generasi muda bisa mengeyam pendidikan dengan layak dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, menurutnya, untuk sekarang seolah-olah tidak sejalan lagi.

“Pemerataan pendidikan dilakukan, tapi hari ini untuk persoalan kualitas pendidikan seolah-olah telah dikesampingkan. Ini kan lucu, arah dan tujuan pendidikan semakin tidak jelas,” tegasnya.

Kholiq berharap, khususnya untuk pemerintah Kabupaten Jombang, agar segera membuat terobosan agar proses pembelajaran secara tatap muka segera dilakukan.

“Saya berharap agar proses belajar mengajar secara tatap muka segera berlangsung. Karena tidak mungkin berlama-lama membiarkan murid belajar dari rumah yang tiada jaminan pula mereka benar-benar ikut pembelajaran setiap hari,” tandasnya.

Hal senada juga diungkapkan anggota DPRD Jombang, dari Wakil Ketua Komisi D, H M Syarif Hidayatullah, mengatakan bahwa sekolah secara daring membuat anak didik kurang maksimal dalam menerima pelajaran. “Ini akhirnya kan keterbelakang, dan ini terbukti,” ungkapnya.

Gus Sentot, sapaan akrabnya, juga berharap agar sekolah secara tatap muka secepatnya di buka kembali. Karena banyak pertimbangan, terkait perekonomian orangtua siswa dan cara orangtua mengajari anak belajar secara daring.

“Orangtua siswa harus menyiapkan anak untuk beli hp agar bisa belajar secara online, dan belum lagi banyak orangtua yang belum bisa menggunakan teknologi. Ini kan otomatis, menunjukkan siswa akan kurang maksimal dalam pembelajaran. Dan kalau bisa, secepatnya di buka kembali sekolah secara tatap muka,” pungkas politisi Partai Demokrat. (dit)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry