Tatik Muflihah, S.Pd, M.Pd. – Dosen S1 Pendidikan Bahasa Inggris

KOMUNIKASI terjadi dalam berbagai konteks kehidupan bermasyarakat. Manusia sebagai makhluk dinamis dengan pergerakannya dalam mengarungi kehidupannya selalu berkomunikasi dengan sesama. Melalui komunikasi seseorang dapat menyampaikan segala sesuatu yang ada dalam ranah kognitif dan perasaannya, baik secara lisan maupun tulisan (Little John, 3; 2010).

Seseorang dapat mengutarakan hal-hal yang disukai maupun yang tidak disukai melalui komunikasi. Adanya proses komunikasi juga membuat seseorang merasa nyaman dan tidak terasing dari lingkungan dimana ia berada.

Seseorang membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi. Bahasa merupakan alat komunikasi juga dapat dipakai untuk menunjukkan identitas masyarakat pemakai bahasa itu sendiri (E.B Taylor dalam Amri Sitohang, 8:2010).

Ketika mendengar seseorang berkomunikasi dalam bahasa tertentu, kita akan menyimpulkan bahwa seseorang itu adalah anggota dari komunitas bahasa tersebut. Kita sering mendengar ungkapan, bahasa menunjukkan bangsa.

Secara harfiah mungkin ungkapan itu dapat diartikan bahwa bangsa Indonesia akan memakai bahasa Indonesia, begitu juga dengan bangsa-bangsa lain yang memakai bahasanya sendiri.

Lebih tepatnya ungkapan tersebut bahwa bahasa itu menunjukkan cerminan jati diri atau kepribadian seseorang atau suatu bangsa. Melalui bahasa, kepribadian seseorang atau suatu bangsa dapat diketahui. Berbahasa santun dapat mencerminkan budi halus dan pekerti luhur seseorang.

Akhir-akhir ini nampaknya kita sedang mengalami krisis atau defisit kesantunan. Defisit kesantunan ini tidak hanya terjadi di kalangan generasi muda saja, bahkan orang dewasa pun yang semestinya jadi panutan menunjukkan krisis kesantunan.

Adegan saling ‘gebrak meja’ dalan melontarkan kata kasar (umpatan) yang tersiar ke seluruh penjuru, menjadikannya sebagai teladan buruk yang akan ditiru oleh banyak orang terutama generasi muda.

Kehidupan berbahasa dalam bermasyarakat merupakan satu kunci untuk memperbaiki atau meluruskan tata cara berkomunikasi. Dewasa ini, tidak sedikit orang menggunakan bahasa secara bebas tanpa didasari oleh pertimbangan-pertimbangan moral, nilai, maupun agama.

Akibat kebebasan tanpa nilai itu, lahir berbagai pertentangan dan perselisihan di kalangan masyarakat. Salah satu contoh, demo mahasiswa sebagai komunitas intelektual, kini seringkali diiringi oleh kata-kata hujatan yang jauh dari etika kesantunan.

Demikian juga, dalam konteks pergaulan sehari-hari, kini tidak sedikit kaum remaja Indonesia yang tampak seolah tidak mengenal etika kesantunan yang semestinya ia tunjukan sebagai hasil dari pendidikan di keluarga, sekolah dan masyarakat. Kondisi demikian menjadikan terkikisnya karakter bangsa Indonesia yang sejatinya dikenal dengan bangsa berkarakter santun.

Kesantunan bersifat relatif di dalam masyarakat. Ujaran tertentu bisa dikatakan santun di dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, akan tetapi di kelompok masyarakat lain bisa dikatakan tidak santun. Robin Lakoff (1973) menyatakan “kesantunan dikembangkan oleh masyarakat guna mengurangi friksi dalam interasi pribadi”.

Senada dengan Lakoff, Geoffrey Leech (1983) mendefinisikan kesantunan sebagai “strategi untuk menghindari konflik” yang “dapat diukur berdasarkan derajat upaya yang dilakukan untuk menghindari situasi konflik”

Dalam bahasa Inggris, kesantunan diistilahkan dengan ‘polite’ (santun) yang secara historis, merujuk pada abad 15 dan secara etimologi berasal dari bahasa latin Late Medieval, yaitu politus yang bermakna ‘smoothed’ (percakapan yang lancar dan manis, serta pandai memikat tetapi ada kemungkinan tidak jujur) dan ‘accomplished’ (seseorang yang berbakat dan ahli dalam bidang kesenian dan kesusastraan).

Pada masa itu, istilah ‘polite’ biasanya berhubungan dengan konsep, seperti ‘polished’ (orang yang membaikkan tingkah laku dan budi bahasanya) dan ‘refined’ (orang yang berbudaya, berbudi bahasa halus dan sopan) serta berkaitan dengan istilah-istilah lain yang merujuk kepada manusia.

Selanjutnya, dalam kamus The Oxford Dictionary of Etymology bahwa pada abad ke 17, orang yang santun adalah refined courteous manner (yaitu raja beserta keluarga dan pejabat istana). Istilah itu (refined courteous manner) secara tidak langsung mengindikasikan adanya hubungan secara historis yang khusus bagi pelaku sosial kelas atas (the social conduct of the upper classes).

Istilah itu berlangsung pada abad-abad pertengahan (middle ages), yaitu pada masa ksatria-ksatria feodal di Barat (Western feudal knights) yang dipengaruhi perilaku courteous dari cendekiawan kelas atas, atau minimal dari pemimpin kelompok dalam kelas atas tersebut.

Mereka yang memulai membedakan diri mereka dengan orang-orang lainnya dengan mengekspresikan dan mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan sekumpulan nilai courtesy, seperti keyakinan loyalty (kesetiaan) dan reciprocal (saling memberi dan menerima).

Nilai-nilai tersebut harus dimiliki, khususnya jika seseorang berada di court, menginginkan kesuksesan dan mendapatkan penghormatan serta hal yang semisal. Namun, pada masa Renaissance, konsep courteous mulai berubah menjadi konsep civilite.

Artinya, kesantunan bukan hanya bagi kelas atas, melainkan juga meliputi individu masyarakat agar menjadi masyarakat yang berbudaya (a civilised society), sehingga setiap individu dalam masyarakat berkedudukan sama dalam hirarki sosial, khususnya berkaitan dengan kesantunan.

Karena tujuan berperilaku courteous atau santun adalah menjaga keseimbangan dalam hubungan interpersonal dalam kelompok sosial, seperti yang dinyatakan Reiter bahwa the aim of this courteous or polite behaviour is that of maintaining the equilibrium (keseimbangan) of interpersonal relationships within the social group.

Dari perspektif historis di atas, disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa bukan lagi menjadi milik kelompok tertentu di masyarakat, melainkan kesantunan berbahasa diperlukan oleh setiap individu dalam masyarakat. Oleh karena yang diutamakan dalam komunikasi adalah menjaga dan mempertahankan hubungan interpersonal. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.