Pengamat Pertahanan dan Intelijen Indonesia Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati (KIRI-FT/HOPS.ID) dan Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr H M Hidayat Nur Wahid, MA.

JAKARTA | duta.co – Ramai lagi kecurigaan terhadap Bahasa Arab sebagai sarana penyebaran terorisme atau radikalisme. Adalah pernyataan pengamat Pertahanan dan Intelijen Indonesia Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati dalam diskusi virtual bertajuk ‘Taliban Bermuka Dua ke Indonesia?’, Jumat (10/9/2021).

Meski kemudian meralatnya, Susaningtyas (dalam acara itu) minta semua pihak waspada terhadap sel-sel tidur terorisme di Indonesia. Ini bisa bangkit karena kemenangan Taliban di Afghanistan. Di sinilah dia bicara soal terorisme dan bahasa Arab.

“Bagaimana kita mau tidak khawatir ya, kalau anak muda kita, lalu murid-murid di sekolah sudah tidak mau menghormat pada Merah-Putih. Lalu tidak mau melakukan lagu Indonesia Raya dan sebagainya. Dan semua itu berbahasa Arab. Saya bukannya mengatakan lalu bahasa Arab itu tidak baik, konotasi (bahasa Arab) itu teroris, tidak. Kalau itu arahnya sudah terorisme, radikalisme, itu bahaya,” paparnya sebagaimana dikutip detik.com.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Dr H M Hidayat Nur Wahid, MA mengkritisi dan mengkoreksi pengaitan Bahasa Arab sebagai alat penyebaran Radikalisme. Kecurigaan yang sama, pernah datang dari mantan Menteri Agama, Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi, persis pengamatan Susaningtyas.

Mestinya Pernyataan itu Dicabut

HNW mengingatkan, justru ungkapan serapan yang berasal dari Bahasa Arab ini, malah banyak dalam teks Pancasila. Ini membuktikan bahwa Bahasa Arab (kemahiran maupun memperbanyak penyebutannya) tidak terkait dengan radikalisme maupun terorisme.

“Memang sudah ada klarifikasi (Susaningtyas), tetapi sangat tidak memadai. Mestinya dia mencabut, mengoreksi stigma dan tuduhan atau salah pengamatan itu. Mengapa? Karena kesalahan penilaiannya teramat nyata,” jelasnya.

HNW, sapaan akrabnya, mengingatkan, seandainya benar amatan itu, apa mungkin Indonesia yang memerangi terorisme dan radikalisme akan tetap meminta atau mengajari anak-anak sekolah dan warga umumnya untuk menghafalkan dan mengamalkan  Pancasila? Bukankah dalam Pancasila terdapat banyak kosakata Bahasa Arab dan telah menjadi dasar dan ideologi negara Republik Indonesia.

“Dalam Pancasila ada kata “Adil” dalam sila kedua dan kelima. Lalu  ada kata “rakyat” pada sila keempat dan kelima. Adab pada sila kedua, serta hikmat, musyawarah, dan wakil pada sila keempat. Itu semua serapan dari bahasa Arab!”ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (10/9).

“Terorisme dan radikalisme pasti bertentangan dengan demokrasi yang simbolnya ada di Parlemen. Sementara Parlemen di Indonesia yaitu MPR, DPR dan DPD, tetap mengggunakan istilah dasar yang bahkan kesemuanya serapan dari bahasa Arab: Majlis, Musyawarat, Dewan, Wakil, Rakyat, Daerah. Bukankah itu semua berasal dari bahasa Arab?,” urainya.

Tendensius

Lebih lanjut, HNW mengatakan bahwa tuduhan atau framing tendensius tersebut patut kita tolak dan kritisi. Selain karena tidak sesuai dengan fakta, juga karena framing negatif itu mendowngrade nilai-nilai dalam Pancasila dan kehidupan berdemokrasi dengan simbol Parlemennya.

“Jadi, apabila ada pernyataan memperbanyak Bahasa Arab adalah salah satu ciri penyebaran terorisme, disadari atau tidak, itu bisa jadi bentuk “teror” terhadap Pancasila dan Parlemen Indonesia yang banyak ungkapannya dari bahasa Arab,” ujarnya.

HNW juga menegaskan, bahwa, kita semua menolak radikalisme dan terorisme, tetapi hendaknya semua itu berbasis kebenaran, bukan framing apalagi Islamophobia.

Perlu rasional dan kritis. Kalau penyebaran terorisme itu sama dengan penyebaran Bahasa Arab, lalu bagaimana dengan fakta penyebaran tindakan terorisme di Indonesia dan di dunia yang tidak terkait bahasa Arab.

“Apakah OPM yang menteror kedaulatan NKRI di Papua itu berbahasa Arab? Atau Belanda/VOC yang menteror dan menjajah Indonesia berabad-abad itu juga berbahasa Arab? Juga terorisme supremasi kulit putih (Ku Klux Klan) di Amerika dan yang di Selandia Baru dan Kanada? Serta teror negara Israel terhadap Palestina? Apakah juga terkait dengan bahasa Arab? Kan tidak!,” tegasnya.

“Tetapi, mengapa, terhadap semua itu mereka diam? Ini menampakkan adanya Islamophobia. Padahal, radikalisme dan terorisme itu tidak terkait dengan penyebaran bahasa Arab maupun lainnya. Radikalisme dan terorisme harus kita tolak, apa pun bahasa yang dipergunakan,” tambahnya.

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menekankan, bahwa, memang, banyak juga orang Arab non Muslim yang mempergunakan bahasa Arab. Tetapi secara prinsip Bahasa Arab lebih dikenal sebagai bahasa Alquran; kitab sucinya Umat Islam, dan bahasa Haditsnya Rasulullah SAW.

Tirulah Pahlawan Bangsa

Bahasa Arab di Indonesia juga makin menyebar dengan makin banyaknya Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi Islam, juga meningkat tajamnya jumlah calon Jemaah Haji dan Umroh, serta pengajian-pengajian di TV atau Majlis-majlis Taklim, pun juga karena  menguatnya hubungan Politik dan Ekonomi Indonesia dengan negara berbahasa Arab di Teluk/Timur Tengah.

Bahasa Arab sudah menyebar secara internasional ke banyak organisasi-organisasi di tingkat gobal. Bahkan, dari enam bahasa resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Persatuan Parlemen Dunia (IPU) salah satunya adalah bahasa Arab.

TIdak hanya di level pemerintahan, lanjut HNW, bahasa Arab juga ramai di kegiatan-kegiatan bisnis internasional, sehingga banyak pebisnis dari mancanegara berusaha belajar bahasa Arab.

“Itu karena sekarang banyak negara Arab sebagai pemain utama dalam ekonomi global, sehingga banyak pebisnis mempelajari bahasa Arab. Bahkan, bahasa Arab saat ini berada di peringkat Power Language Index sebagai bahasa dunia  terpenting kelima. Dan itu tentu, bukan karena bahasa Arab sebagai faktor penyebaran terorisme,” ujarnya.

Oleh karena itu, Anggota Komisi VIII DPR RI yang membidangi urusan keagamaan ini mengimbau agar masyarakat dan para generasi muda untuk waspada, tetapi tidak terpancing jadi saling curiga dan terpecah belah karena adanya tuduhan tak mendasar itu.

Generasi Muda dan masyarakat umumnya, juga selain penting belajar menggunakan dan menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga perlu mempelajari banyak bahasa internasional, termasuk bahasa Arab untuk menghadapi kerja sama internasional dan memenangkan persaingan global.

“Tirulah para pahlawan dan bapak-bapak Bangsa yang tidak phobia dengan bahasa asing termasuk Bahasa Arab seperti KH A Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, H Agus Salim, KH Mas Mansoer, KH Kahar Mudzakir, Ki Bagus Hadikusumo, KH Wahid Hasyim, M Natsir, tokoh-tokoh Pahlawan Nasional yang dikenal ahli dalam berbahasa Arab,” pungkasnya. (mky,dtc)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry