PROSES PRODUKSI: Suasana proses produksi keripik apel di Kota Batu Malang. Saat kondisi normal produksi keripik apel sanggup menghasilkan keripik buah apel yang melimpah. (duta.co/rio hendra)

BATU| duta.co – Turunnya hasil panen buah apel di Kota Batu mengakibatkan Produksi keripik apel di Kota Batu mengalami penurunan drastis . Seperti yang dialami oleh beberapa pemilik industi rumahan keripik apel di Kota Batu lima bulan terakhir ini. Anjloknya produksi keripik apel ini dikarenakan bahan baku berupa buah apel di Kota Batu mengalami penurunan hasil panen.

Seperti yang diungkapkan oleh pemilik industri rumahan kripik apel Lilik Sumarli. Ia mengaku usaha yang dimulainya  sejak tahun 2013 ini belum pernah mengalami penurunan produksi yang signifikan seperti ini .

“Sudah hampir lima bulan ini mandek. Karena bahan bakunya yang sulit. Memang buah apel akhir akhir ini turun produksinya karena cuaca,” kata Lilik Kemarin (11/10).

Ia tidak bisa memproduksi keripik apel ini karena bahan baku apel yang ia butuhkan untuk produksi apel dalam sehari tidak cukup. Dikatakannya, ia membutuhkan paling tidak minal 8 kuintal apel dalam sehari. Dengan rincian, setiap 7 kilogram apel menghasilkan 1 kilogram keripik apel.

Tak hanya berhenti produksi saja, pasaran keripik apel pun ikutan lesu. Lilik mengungkapkan, pengunjung maupun masyarakat sekitar rasa penasaran dengan keripik apel ini sudah tidak seheboh awal-awal.

“Di pasaran juga tidak sebegitu laris seperti sebelumnya. Karena mungkin sudah tidak penasaran lagi,” imbuh ibu dua anak ini.

Akibatnya, karena produksi kripik apel berkurang, imbas yang dirasakan pendapatan juga menurun. Baginya,  membuka usaha keripik apel ini bukan sekedar untuk kepentingan bisnis ,namun Ia ingin memberdayakan masyarakat sekitar. Karena usahanya ini berhenti, maka banyak pekerjanya yang nganggur, dan ada yang beralih kepekerjaan lain.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Erik . Ia masih menyisakan beberapa stok buah yang ia dapatkan dari petani. “Untungnya masih ada stok. Jadi masih tetap produksi,” kata dia.

Erik mengatakan, tahun ini memang sangat sulit untuk menggenjot produksi keripik apel. Selain karena faktor cuaca juga karena faktor produksi. Walaupun beralih ke buah lainnya juga sama saja. “Buah lainnya juga sama saja. Sama langkanya,” pungkasnya.

Sementara itu, petani apel di Tulungrejo, Amir mengakui kalau memang panen apelnya bermasalah. Karena faktor cuaca. Amir mengungkapkan, permasalahan petani apel ini dikarenakan kabut.

“Karena kabut bunganya ini rontok. Jadi buahnya tidak bisa tumbuh lebat,” kata Amir.

Ketika panen, dalam kondisi normal ia bisa menghasilkan lebih dari 10 kuintal apel. Ketika musim saat ini, hasil panennya berkurang hampir dua kali lipat. Untuk tetap bertahan, ia terus melakukan penyemprotan vitamin dan pestisida agar apel tetap panen.

“Mau tidak mau ya karena cuaca harus bersabar. Petik apel juga terhenti, karena stok buahnya tidak ada,” tuturnya. (rio)

 

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan