Yauwan Tobing Lukiyono, S.S.T., M.T – Dosen D-IV Analis Kesehatan, Fakultas Kesehatan (FKes)

MIKROPLASTIK Mikroplastik saat ini menjadi sorotan utama di dunia sains dan kesehatan, terutama karena keberadaannya telah ditemukan di hampir seluruh lapisan lingkungan, termasuk air hujan, udara, dan bahkan dalam tubuh manusia di Indonesia.

Penelitian BRIN pada 2025 menemukan rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel air hujan di kawasan pesisir Jakarta, yang menunjukkan bahwa polusi plastik kini telah menjangkau atmosfer dan berpotensi masuk ke rantai makanan.

Hampir seluruh perairan Indonesia dinyatakan sudah terkontaminasi mikroplastik, bahkan nanoplastik, dan Indonesia menjadi negara kedua setelah Tiongkok dengan tingkat kontaminasi tertinggi Mikroplastik.

Dampak ditemukannya mikroplastik di dalam lingkungan ini dapat membawa bahan kimia berbahaya seperti bisphenol A (BPA) dan phthalates yang berisiko mengganggu sistem hormon dan reproduksi serta meningkatkan risiko penyakit kronis.

Adapun bukti ilmiah terbaru menunjukkan mikroplastik telah ditemukan dalam darah, plasenta, dan organ vital manusia. Akumulasi partikel tersebut dalam tubuh dapat memicu stres oksidatif, inflamasi, gangguan organ, hingga berperan dalam penyebaran gen resistensi antibiotik.

Penelitian awal juga mengindikasikan individu dengan konsumsi mikroplastik tinggi berisiko mengalami gangguan kognitif 36 kali lebih besar, serta risiko penyakit neurodegeneratif ikut meningkat.

Studi dari Stanford (2025) menunjukkan partikel mikroplastik dapat menempel pada jaringan arteri, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke karena reaksi inflamasi kronis dalam tubuh.

Mikroplastik di udara dan hujan menunjukkan polusi plastik sudah bersifat global dan siklusnya sangat luas. Sumber utama mikroplastik adalah limbah plastik rumah tangga, industri, keausan ban, dan aktivitas pariwisata pesisir.

 Studi global pada 2025 membuktikan partikel mikroplastik sekecil 50 mikron dapat menembus membran sel dan menetap di berbagai jaringan tubuh Saat ini, langkah preventif sangat dianjurkan, mulai dari mengurangi konsumsi plastik, mendukung penelitian lanjutan, hingga peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya jangka panjang mikroplastik.

Beberapa bahan alam terbukti efektif untuk menurunkan kadar mikroplastik di air melalui berbagai proses fisik, kimiawi, dan biologis yang ramah lingkungan. Tanaman air seperti kangkung (Ipomoea aquatica) dan eceng gondok berpotensi menyerap polutan, termasuk mikroplastik.

Melalui fitoremediasi, ada juga hasil penelitian yang menggunakan tempurung kelapa yang diaktivasi menjadi karbon aktif dapat menyerap mikroplastik hingga 60%. Dan yang terbaru  cangkang kerang juga dapat diolah sebagai media filter untuk mereduksi kadar mikroplastik dalam air dan sekaligus menjadi solusi atas limbah pesisir.

Merebus air dengan kandungan mineral tinggi (seperti kalsium karbonat) membentuk kerak yang dapat menangkap hingga 90% nano dan mikroplastik, setelah itu kerak disaring menggunakan filter sederhana penggunaan pasir alami dan tawas dalam proses filtrasi dapat menurunkan kadar mikroplastik hingga lebih dari 90% pada air uji laboratorium

Pemanfaatan bahan alam memiliki kelebihan berupa biaya rendah, mudah diaplikasikan, serta ramah lingkungan dibanding teknologi canggih seperti membran filtrasi atau reverse osmosis.

Kombinasi metode alam dan proses sederhana memberi pilihan praktis bagi masyarakat dan skala laboratorium Pemanfaatan bahan alam berpotensi besar menurunkan paparan mikroplastik di air, namun efektivitas spesifik tergantung pada jenis bahan, metode aplikasi, serta kondisi air di tiap lokasi. *

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry