Direktur Perumda Panglungan saat cek Kebun Perumda Panglungan.

JOMBANG | duta.co – Awan gelap belum sepenuhnya sirna dari langit Perumda Perkebunan Panglungan. Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan direktur dan menggerus dana negara hingga Rp1,5 miliar masih menjadi bayang-bayang. Namun, di tengah puing-puing kepercayaan publik yang berserakan, muncul satu sosok yang mencoba menata ulang arah kapal yang hampir karam.

Namanya Agus Mujiono. Dulu dia dikenal sebagai aktivis tangguh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jember. Kini, ia tak lagi memimpin demo di jalan, melainkan memimpin puluhan pekerja kebun di antara tanah-tanah miring dan aroma getah pinus yang memanggil-manggil untuk diselamatkan.

“Saya ini hanya anak kampung yang ingin membenahi kebun warisan rakyat,” katanya dengan suara pelan namun yakin, ketika ditemui di kebun milik Perumda ini.

Agus mengakui, pekerjaannya bukan cuma soal menanam ulang kopi atau mengecek harga porang. Tapi juga soal memutus 17 kontrak yang selama ini membelit Perumda Panglungan dengan pihak-pihak swasta misterius. Beberapa di antaranya bahkan tak jelas bentuk kerja samanya, hanya meninggalkan jejak nota, dokumen, dan cerita buram dari masa lalu.

“Saya tidak sendiri. Bagian Ekonomi dan Hukum Pemkab sudah turun tangan. Mereka tahu betul bahwa Perumda ini perlu disterilkan dari sisa-sisa racun masa lalu,” ujarnya sambil menunjuk tumpukan berkas di atas karung pupuk.

Kabarnya, tim hukum Pemkab tengah mengkaji ulang setiap kontrak. Beberapa sudah ditemukan celah wanprestasi, lainnya masih samar. Tak mudah membongkar kontrak yang sejak awal dibuat untuk membingungkan.

Sementara itu, Agus memilih fokus ke dalam. Ia mendampingi pelatihan-pelatihan kecil di kebun. Ia belajar bersama pekerja, makan di dapur kebun, tidur di barak, dan sesekali menyiram bibit porang sendiri. “Kalau kita ingin mengubah arah, kita harus tahu tanah ini betul-betul,” katanya.

Hingga berita ini diturunkan, Agus belum menerima laporan lengkap soal hasil kajian kontrak. Tapi tekadnya tidak menunggu sempurna. “Kami harus sembuhkan kebun ini, bukan dengan keajaiban, tapi dengan kerja,” tutupnya, sambil tersenyum di tengah kabut tipis yang turun pelan di Panglungan. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry