Kekhawatiran Banser harus segera diobati. Tampak Banser menghalau gerakan wahabi. (FT/IST)

“Ingat! Gerakan mereka (HTI) adalah pemikiran, bukan angkat senjata. Tidak perlu dihadapi dengan Banser, apalagi bakar-bakar bendera. Jangan pula membubarkan pengajian mereka, tidak elok.”

Oleh: Mokhammad Kaiyis*

HERAN!  Ada pengasuh pondok pesantren, mantan aktivis GP Ansor, pengurus PWNU, begitu rajin ngeshare tulisan Denny Siregar. Padahal, isinya warga NU ditakut-takuti dengan HTI, Wahabi, khilafah dan sejenisnya. Karena itu, kita ‘dipaksa’ dukung Jokowi menjadi presiden lagi.

Denny bikin judul kelewat ‘serem’: Bagaimana Seandainya JOKOWI Kalah? Supaya lebih ‘serem’, dia sendiri tak sanggup menjawabnya. Gila!

Coba cermati akhir tulisan Denny:

“Jadi bagaimana seandainya JOKOWI kalah dalam pemilihan ?”* Tanya temanku lagi.  Kuseruput secangkir kopi. *”Saya Tidak Mau & Tidak Berani berPikir jika JOKOWI Kalah*  Pikiran saya fokus pada *JOKOWI HARUS MENANG* ..” Karena Saya Masih Ingin *Cucu2 Cicit2 HIDUP NORMAL di NKRI.”

Sebagai pasukan pemenangan Jokowi, modus Denny ini sah-sah saja, meski kelewat ‘maju’ dan berbahaya. Yang jadi pertanyaan: Mengapa temanku, mantan aktivis GP Ansor, Pengurus PWNU, juga pengasuh pondok pesantren ini, tiba-tiba ‘terprovokasi’ dengan modus ‘bakar-membakar’ Denny ini?

Meletakkan NKRI (hanya) di pundak Jokowi, rasanya naïf sekali. Sudah 73 tahun Republik Indonesia merdeka, baru kali ini kita dibuat ketakutan dengan ‘makhluk’ HTI, Wahabi, khilafah dan sejenisnya. Padahal, semua itu sudah ada sejak zaman Almaghfurlah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Lalu apa yang dibanggakan dari Pesiden Jokowi? Pembubaran HTI? Pembangunan infrastruktur? Penggratisan jembatan Suramadu? Impor beras? ‘Impor’ tenaga kerja? Listrik terus naik? Atau menggunungnya utang pemerintah? Waallahu’alam.

Khusus untuk temanku di atas, pengasuh pondok pesantren, mantan aktivis GP Ansor, pengurus PWNU, yang sedang rajin ngeshare tulisan Denny Siregar, JANGAN TAKUT JOKOWI KALAH. Jangan pula takut dengan Wahabi, HTI, Khilafah dan sejenisnya. Karena NU bukan jamiyyah ecek-ecek, yang gampang ‘mengkeret’ menghadapi mereka.

Ingat! Gerakan mereka (HTI) adalah pemikiran, bukan angkat senjata. Tidak perlu dihadapi dengan Banser, apalagi bakar-bakar bendera. Jangan pula membubarkan pengajian mereka, tidak elok.

Terlalu besar ‘pasukan’ NU kalau sekedar menghalau wahabi, apalagi mencegat sistem khilafah yang harus menjebol ‘Pintu Senayan’. Pasukan tempur Aswaja tak terbilang jumlahnya, dari yang spesialis dalil naqli sampai yang jago menggunakan dalil aqli.

Di struktur NU ada pendekar-pendakar Aswaja tak terkalahkan, seperti KH Marzuki Mustamar, KH Adurrahman Navis, KH Ma’ruf Khozin, KH Muntaha, KH Muhyiddin Abdusshomad, KH Syafruddin Syarief, KH Faris Khoirul Anam, dll.

Di luar struktur NU ada KH Idrus Romli, KH Luthfi Bashori Alwi, yang dikenal dengan jalur khusus, NU Garis Lurus. Sayang kedua orang ini terlanjur dicap sebagai NU rasa wahabi.

Kalau mau ‘menghalau’ HTI atau Wahabi dengan dalil-dalil naqli, beliau-beliau itu tidak sekedar fasih membacanya, tetapi mampu menjelaskan kesahihan sekaligus halaman di mana dalil tersebut berada.

Masih kurang yakin? Ada Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Bagi yang tidak sabaran, Cak Nun adalah ‘pintu besar’ untuk ngaji kaweruh soal Aswaja dan NKRI. Anak saya begitu gandrung dengan penjelasannya. Atau ikuti ceramah UAS (Ustad Abdus Somad) yang tidak diragukan lagi NKRI-nya, Aswaja-nya, referensi kitab-kitab-nya.

Masih belum cukup? Kerahkan pasukan khusus kita, ada puluhan ribu alumni dari 13 Ma’had Aly di Indonesia. Hari ini  jumlahnya ditambah 14 lagi, ada 27 Ma’had Aly di negeri ini. Kurang apa? Inilah pasukan-pasukan handal yang bisa menjadi ‘benteng kokoh tak tertandingi’ bagi NKRI dan Aswaja.

Nah! Karena HTI (wahabi) itu gerakan pemikiran, maka, hadapilah dengan gerakan pemikiran, bukan dengan otot, tenaga. Capek deh (duitnya), bolak-balik kirab satu negeri.

Jadi? Bagaimana Seandainya JOKOWI Kalah? TIDAK Masalah, Asal Jangan ‘Terprovokasi’ Denny. Apalagi yang menang Prabowo, sosok yang, jika dibuka dadanya, barangkali jauh lebih ‘cemerlang’ Merah Putih-nya ketimbang kita. Wallahu’alam bish-shawab.

*Mokhammad Kaiyis wartawan Duta Masyarakat yang tergabung dalam PWI, 11838.

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.