SURABAYA | duta.co – Anggota DPRD Surabaya Vinsensius Awey mengajak mahasiswa menggunakan hak pilihnya pada pemilu serentak 17 April mendatang. Ajakan ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, dari tahun ke tahun angka orang yang tidak memilih alias golput (golongan putih) selalu meningkat.

Politisi Partai Nasdem ini menegaskan, angka golput pada pemilu 2004 mencapai 15,9 persen. Jumlah ini semakin meningkat pada pemilu 2009 yang menembus angka 29, 1 persen. “Pada pemilu 2014 pada saat Jokowi terpilih angka golput 24,8 persen. Angkanya turun tapi tetap tinggi,” ujarnya dihadapan ratusan mahsiswa Unesa Surabaya saat mengisi seminar bertajuk Peran Kaum Millenial dalam Mewujudkan Pemilu 2019 yang Damai dan Berintegritas di Pusat Bahasa Unesa, Senin (4/3).

Caleg DPR RI Dapil Jatim 1 (Surabaya-Sidoarjo) nomor urut 5 dari Partai Nasdem ini mengaku ajakan untuk tidak memilih calon presiden dan calon wakil presiden menjelang pemilu 17 April mendatang kian massif. Fenomena ini disertai dengan ajakan golput muncul karena tidak puas dengan kinerja pemerintah.

“Fenomena lain dari hasil survei saya adalah golput itu terjadi karena UU/17 tentang pemilu tidak mengatur rinci tentang golput. Orang yang golput tidak ada sanksinya. Coba kalau golput ada pidananya, maka dipastikan orang akan memilih,” ungkapnya kepada mahasiswa seminar yang terselenggara menyambut hari jadi Harian Umum Duta Masyarakat ke 18 tahun.

Anggota Komisi C DPRD Surabaya yang terkenal vokal ini menyampaikan, banyak argumen orang-orang yang terbiasa golput. Argumen itu diantaranya bahwa memilih bukanlah kewajiban. Memang, secara konstitusional memilih adalah hak sehingga sikap untuk tidak memilih tidak bisa dilarang.

“Meskipun memilih itu hak, namun hak itu bisa menjadi kewajiban jika dibutuhkan untuk mewujudkan kebaikan bersama dalam masyarakat demokrasi,” tegasnya.

Argumen lainnya adalah calon presiden Joko Widodo dan Prabowo Subianto sama buruknya. Atas argument ini, Awey memandang kedua sosok ini sama-sama menjaga pilar demokrasi. Keduanya merupakan tokoh nasional yang sudah banyak berbuat untuk bansa. “Ingat, bahwa Negara hancur karena banyak orang baik memilih diam. Karena itu mahasiswa sebagai generasi millennial harus memilih, paling gampang pilihlan caleg yang kalian kenal,” pintanya.

Menurutnya, untuk mewujudkan pemilu yang damai dan berintegritas memiliki banyak tantangan. Hoax, isu SARA, dan munculnya penyakit Nomophobia (No Mobile Phone Phobia) sebagai sebuah penyakit yang membuat generasi milenial lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak produktif. Selalu ada kegelisahan ketika tidak sedang bermain handphone,

General Manajer Duta Masyarakat Eko Pamuji mengungkapkan, saat ini sedang terjadi turbulensi informasi. Antara informasi yang hak dan hoaks saling sengkarut. Sehinggat, sangat susah untuk membedakan informasi yang benar dan hoaks.

 

“Kembali ke jalan yang benar. Carilah informasi di media konvensional, media mainstream, bukan di media sosial. Media konvensional bernaung dalam lindangan UU pers. Sehingga beritanya diolah sesuai dengan kaidah yang benar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Bahasa Unesa Much Khoiri menilai, generasi millennial menjadi penentu kesuksesan pemilu April mendatang. Sebagai pemilih yang masih dalam kategori swing voters, generasi millennial harus memilih yang terbaik sesuai dengan yang diharapkan.

“Ingat, kejahatan yang terorganisir mampu mengalhakan kebaikan yang tidak terorganisir,” jelasnya.

Pegiat literasi ini mengajak mahasiswa harus melek media. Mahasiswa harus mampu memilih dan memilih informasi yang benar, bukan hoaks. “Mari kita melek media, berita yang sehrusnya seperti apa, memang benar medsos tidsk bisa dipertanggung jawabkan,” tukasnya. azi

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry