JOMBANG |duta.co – Memasuki revolusi industri 4.0, dunia pendidikan bukan saja dituntut cepat, tetapi juga tepat dalam membidik peluang masa depan bagi anak didiknya. Kini, peluang yang sudah terbayang, bukan tidak mungkin, hilang tergantikan teknologi. Sementara yang tidak terbayang, bisa datang secara tiba-tiba.

“Maka, guru harus siap. Tidak boleh hanya berpegang kepada tumpukan petunjuk. Guru harus bekerja dengan hati, ‘tanpa hati’ pekerjaan guru akan digantikan robot,” demikian disampaikan Totok Supriyanto, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di depan ratusan peserta Seninar Nasional menyambut 120 Tahun Pesantren Tebuireng, Minggu (25/8/2019) di Gedung KH Yusuf Hasyim, Jombang.

Totok juga menyebut hasil penelitian Lant Pritchett, seorang professor dari Harvard University (Amerika Serikat), yang telah menghitung level pendidikan anak-anak Indonesia dibandingkan dengan negara maju.

Dikatakan Pritchett, bahwa, meski pendidikan di Indonesia terlihat baik-baik saja, namun kenyataannya pendidikan di Indonesia termasuk dalam status gawat darurat. “Dikatakan, Indonesia butuh waktu 128 tahun untuk bisa sejajar dengan rata-rata negara maju dalam sistem pendidikan,” tegasnya.

Karena itu, menurutnya, dibutuhkan terobosan-terobosan yang jitu. Guru misalnya, tidak boleh hanya berpegang kepada petunjuk. Sering kita jumpai guru sibuk dengan petunjuk, ironisnya pengawasnya juga demikian, merujuk pada petunjuk.

“Saking taatnya kepada petunjuk, sampai-sampai cara menulis landscape saja, ketika diubah ke bawah, salah,” jelasnya disambut ger peserta.

Masih menurut Totok, guru harus kreatif, inovatif, analitik. “Kalau guru diatur seperti karyawan pabrik, menjadi manual, itu kesalahan besar,” tegasnya mewakili Mendikbud RI, Prof Dr Muhajir Effendy.

Hal yang sama disampaikan Prof Dr Phil Kamaruddin Amin, MA, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag RI, yang hadir mewakili Menteri Agama Lukman Hakim. Menurut Komarudin pendidikan di pesantren memiliki keunggulan tersendiri. Yakni kuatnya pendidikan karakter atau akhlaq. Sementara kurikulum lainnya, pesantren tidak kalah dengan pendidikan umum.

“Saya katakan ini (pesantren) adalah sekolah plus. Apa yang ada di sekolah umum, ada di pesantren. Sementara yang ada di pesantren belum tentu ada di sekolah umum. Kemandirian pesantren membuat lembaga pendidikan ini tidak ada duanya di dunia. Terlebih soal pendidikan karakter,” tegasnya.

Apa yang Harus Dipadukan?

Prof Dr Nasihin Hasan, yang menyimak jalananya seminar di hari pertama, memberikan catatan penting. Menurutnya, seminar ‘Memadukan Pendidikan Islam dan Nasional’ ini, sangat urgen untuk menyiapkan anak didik yang handal, siap nenghadapi beerbagai macam peluang dan tantangan.

“Saya mencatat ada 4 hal yang harus dipadukan. Pertama adalah perbaduan antara intelektualistas dan religiusitas. Kedua, memadukan kebenaran dan kepintaran. Karena memintarkan orang benar, itu mudah. Sementara membenarkan orang pintar, itu sulit,” tegasnya.

Ketiga, lanjutnya, pendidikan pesantren tidak boleh berhenti pada tekstual kitab (saja). Maka perlu dipadukan dengan kontekstual. Tidak cukup hanya dibaca secara kasat mata. Keempat, santri tidak cukup hanya diajak hafal Alquran dan Hadits, tetapi juga harus dipadukan dengan kehidupan yang luhur. (mky)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry