“Ruangan bazar padat pengunjung, termasuk dari etnis Pakistan, India, dan timur tengah yang berminat makanan, kue, dan minuman Indonesia.”
Oleh Moh. Ali Aziz

AHAD pagi, saya mendapat undangan untuk ceramah pada acara bazar yang diadakan ibu-ibu jamaah pengajian Al Jam’iyatul Washliyah. Sore harinya, saya dijemput oleh panitia beserta sesepuh komunitas muslim Indonesia, Ustad Hamim Syaaf.

“Lho pak, apa tidak salah alamat. Mengapa saya diajak masuk gereja?,” tanya saya keheranan sambil membuka payung penahan gerimis hujan.

Tertulis dalam papan nama gereja yang berlokasi di 167A Cheviot Gardens, London NW2 1PY itu, Claremont Free Churh.

“Ya pak, gereja ini sudah sepi kegiatan sehingga aulanya disewakan untuk menambah biaya perawatan,” jawab panitia.

Ternyata jamaah ibu-ibu pengajian ini sudah berlangganan menyewa aula itu, sebab cukup luas dan tidak mahal. Tempat parkirnya juga tidak sulit.

Memasuki ruangan, saya disambut tim shalawat. “Wah, ini bena-benar unik. Shalawat Nabi SAW digemakan di Gedung berlogo salib. Luar biasa,” kata saya dalam hati.

Tanpa canggung, saya menggandeng tangan istri untuk langsung ikut bergabung dalam tim rabanna shalawat. Itu saya lakukan untuk menyemangati mereka, juga karena saya sangat malu disambut dengan cara berlebihan.

“Saya ini siapa, saya bukan orang baik betul, tapi mengapa disambut demikian,” bisik saya dalam hati.

Saya pinjam rebana di tangan salah satu tim rebana yang tertua untuk ganti saya yang memukulnya. Hanya pura-pura saja saya memukulnya dengan ekspresi serius, agar tidak merusak irama yang sudah mereka siapkan sebelumnya.

Ruangan bazar padat pengunjung, termasuk dari etnis Pakistan, India, dan timur tengah yang berminat makanan, kue, dan minuman Indonesia. Tak terlalu banyak yang berminat busana Indonesia yang digantung di dinding aula gereja tua itu.

Tibalah saatnya saya diminta memberi ceramah. “Saya bisa stres dan kehabisan energi jika saya memaksakan diri untuk berceramah di tengah kebisingan pengunjung,” kata saya dalam hati.

Maka, saya memanggil ibu Afra, ketua pengajian, “Ibu, sebaiknya kita baca surat Yasin dan tahlil untuk keluarga kita yang telah meninggal dunia.”

“Setuju pak kyai” jawabnya dengan cepat sambil berlari menuju ke pembawa acara.

Setelah Yasin dan tahlil sudah selesai dan pengunjung sudah mulai berkurang, serta waktu shalat maghrib sudah dekat, barulah saya berceramah singkat. Saya harus pandai mengatur fisik dan energi, sebab jadwal kegiatan di London masih banyak.

“Ini kue dan makanan untuk oleh-oleh pak,” kata ibu Afra sambil menyerahkan lima container ke istri saya. Ha ha. Jangan salah paham. Container adalah istilah yang dipakai orang London untuk “boks plastik manakan” yang banyak dikenal di Indonesia. (bersambung)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry