
Esty Puji Rahayu, SST., M.Kes
Dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan
MASALAH gangguan menstruasi seperti nyeri menstruasi dianggap hal sepele dan wajar dialaminya, padahal dapat mengganggu aktivitas fisik bahkan prestasi belajar. Prevalensi nyeri menstruasi atau dysminorea di beberapa negara masih cukup tinggi.
Berdasarkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) angka nyeri menstruasi di dunia sangat besar, rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami nyeri saat menstruasi. Nyeri menstruasi berdampak negatif pada aktivitas sehari-hari termasuk proses belajar.
Berdasarkan penelitian Rahmah (2024) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara nyeri mentruasi dengan aktivitas belajar. Siswi yang mengalami nyeri haid tidak dapat berkonsentrasi belajar dan motivasi belajar akan menurun karena nyeri haid yang dirasakan pada saat proses belajar mengajar.
Karena itu perlu penanganan yang tepat dalam menurunkan nyeri menstruasi.
Penelitian penelitian sebelumnya menyebutkan berbagai terapi komplementer dapat menurunkan nyeri menstruasi seperti penggunaan TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), music, acupressure.
Alat ini bekerja dengan menstimulasi serabut saraf tipe α β yang dapat mengurangi nyeri. Mekanisme kerjanya diperkirakan melalui ‘penutupan gerbang’ transmisi nyeri dari serabut saraf kecil dengan menstimulasi serabut saraf besar, kemudian serabut saraf besar akan menutup jalur pesan nyeri ke otak dan meningkatkan aliran darah ke area yang nyeri dan TENS juga menstimulasi produksi anti nyeri alamiah tubuh yaitu endorfin. Proses stimulus melalui kulit mendukung untuk bekerja menurunkan nyeri dengan cara penutupan gerbang transmisi nyeri.
Sedangkan akupresur pada titik LI4 (Hegu) dapat membantu mengurangi nyeri menstruasi (dismenore) melalui beberapa mekanisme fisiologis. Titik LI4 terletak pada daerah tangan (terletak di antara os metacarpal I dan II dari os II metacarpal radial tengah atau di permukaan punggung tangan antara ibu jari dan jari telunjuk kira-kira di tengah tulang metacarpal kedua).
Dengan menekan pada titik ini dipercaya dapat mempengaruhi aliran energi (Qi) dan darah dalam tubuh, serta merangsang pelepasan endorfin, hormon alami pereda nyeri. Selain itu, akupresur LI4 juga diyakini dapat membantu mengurangi ketegangan otot rahim dan melancarkan peredaran darah, sehingga mengurangi penumpukan prostaglandin yang berkontribusi pada nyeri.
Pemberian terapi musik kombinasi nature sound dan piano dapat dijadikan salah satu alternative untuk menurunkan intensitas nyeri dismenore dengan proses pengalihan perhatian yang mempengaruhi gelombang alfa yang berperan menenangkan dan merangsang sistem limbic jaringan neuron otak dan tidak menimbulkan efek samping. Menurut Purwaningsih (2022) Ritme musik yang lambat dapat merangsang peningkatan hormon endorphin dan Oksitosin yang akan menghambat pelepasan hormon ketolamin, sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
Jika 3 terapi komplementer tersebut (TENS, akupresure, dan musik) digabungkan dan diberikan secara bersamaan akan mempercepat penurunan nyeri menstruasi. Masing masing terapi bekerja pada system yang berbeda namun semuanya berfungsi untuk menurunkan nyeri. Kombinasi 3 terapi ini optimal dalam menurunkan nyeri menstruasi sehingga remaja dapat beraktivitas seperti biasanya. *








































