General Manager (GM) Corporate Communication PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Sigit Wahono saat memberikan paparan di depan media saat Media Gathering di Bali, akhir pekan lalu. DUTA/wiiwiek

BALI | duta.co –  Kelebihan produksi masih dialami industri semen di tanah air. Kondisi ini bisa normal kembali empat hingga lima tahun ke depan. Itu pun dengan prediksi pertumbuhan semen per tahun sebesar empat hingga lima persen.

Hal tersebut dikatakan General Manager (GM) Corporate Communication PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Sigit Wahono.

Sigit mengatakan  saat ini produksi semen secara total di Indonesia mencapai 113,1 juta ton. Sementara serapan pasar sebesar 70 juta ton. Sehingga kelebihan produksi mencapai 43,1 juta ton.

Karena itu kata Sigit, untuk menghadapi kondisi tersebut, perseroan akan terus mengoptimalkan potensi ekspor agar pasar semen domestik tidak semakin tertekan.

“Kami terus mencari pasar baru demi meningkatkan kinerja. Salah satunya mulai masuk ke Tiongkok,” ujarnya pada media saat Media Gathering di Bali akhir pekan lalu.

Sigit mengungkapkan, tahun ini untuk pertama kalinya perseroan mendapatkan buyer semen dari Tiongkok.

Sebab, kondisi di sana sekarang sedang mengalami kekurangan pasokan semen yang diperkirakan akibat adanya banyak pemberhentian pabrik sementara karena isu lingkungan.

“Tentu ini menjadi peluang bagus. Tapi kami masih belum tau kontinuitasnya seperti apa di Tiongkok karena ini masih sangat baru dan ekspornya juga masih sedikit,” terangnya.

Selain Tiongkok, perseroan juga masih akan fokus menggarap pasar di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Seperti Bangladesh, India, Sri Lanka, Filipina, dan Timor Leste. “Kami juga punya pasar baru lagi di Maladewa yang saat ini sedang digarap,” lanjutnya.

Dengan berbagai strategi tersebut, sepanjang Januari – September 2019 tren kinerja ekspor Semen Indonesia berhasil mengalami peningkatan sekitar 7 persen atau menjadi 2,9 juta ton.

Di samping itu Sigit juga menjelaskan, kondisi pasar semen dalam negeri saat ini tidak sebagus ekspor. Secara total market mengalami penurunan 2 persen dibanding tahun lalu.

Hal tersebut berdampak pada penjualan perseroan yang ikut merosot sampai 4,9 persen hingga September 2019.

Menurutnya, faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan yaitu adanya agenda pemilu pada semester satu yang membuat sejumlah proyek wait and see. Sebab pelaku bisnis menunggu kebijakan-kebijakan apa yang akan dikeluarkan pada pemerintahan yang baru.

Pihaknya berharap di kuartal akhir ini ekonomi bisa kembali bergairah dan proyek-proyek bisa berjalan lagi. Sehingga produksi semen bisa terserap pasar dengan maksimal.

“Terlebih lagi kami sudah mengakuisisi PT Solusi Bangun Indonesia (SBI atau ex-Holcim) dan telah mengganti nama Holcim menjadi Dynamix. Sehingga kami berharap sampai akhir tahun kinerja Semen Indonesia minimal bisa sama dengan tahun lalu,” ungkapnya.

Pasca akuisisi Holcim pihaknya akan fokus mensinergikan operating plant.  “Di tahun depan kami masih akan terus berintegrasi dengan SBI terkait banyak hal, termasuk pabrik, karena tahun ini belum maksimal,” imbuh Sigit.

Adapun kapasitas Semen Indonesia di tanah air telah mencapai 51 juta ton. Kemudian marketsharenya berada di angka 53 persen.

Hal itu menunjukkan bahwa produk Semen Indonesia masih jadi pilihan masyarakat meskipun persaingan ketat dan tantangannya juga cukup banyak.

“Untuk memperluas pasar, kami sekarang juga sedang membangun pabrik mortar atau produk turunan semen di Jawa Barat berkapasitas 375 ribu ton,” ucap Sigit. Ditargetkan pabrik mortar tersebut dapat beroperasi tahun 2021. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry