Novera Herdiani, S.KM., M.Kes – Dosen Prodi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan

GERAKAN kembali ke alam (back to nature) bisa saja hanya menjadi slogan apabila masyarakat tidak menganggap penting arti dan manfaat dari gerakan ini.

Padahal, pernyataan itu seharusnya tidak sekedar ajakan atau slogan, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Mengatasi hipertensi dengan tanaman obat merupakan salah satu cara kembali ke alam. Mengobati hipertensi menggunakan ramuan herbal banyak pilihannya.

Selain untuk menurunkan tekanan darah tinggi, pengobatan herbal bertujuan juga memperkecil risiko terjadinya komplikasi, seperti stroke, kerusakan pada ginjal, atau peningkatan gula darah (diabetes).

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan meningkatnya konstraksi pembuluh darah arteri sehingga terjadi resistensi aliran darah yang meningkatkan tekanan darah terhadap dinding pembuluh darah.

Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui pembuluh arteri yang sempit.

Apabila kondisi ini berlangsung terus pembuluh darah dan jantung akan rusak. Tingkatan tekanan darah pada orang dewasa yaitu:

  1. Hipertensi ringan, tekanan darah sistolik 140 -160 dan diastolik 95 – 104
  2. Hipertensi sedang, tekanan darah sistolik 140 – 180 dan diastolik 105 – 114
  3. Hipertensi berat, tekanan darah sistolik lebih dari 160 dan diastolik lebih dari 115

Tekanan darah yang tidak normal atau secara konstan tinggi akan menyebabkan serangan stroke.

Namun, penyakit tekanan darah tinggi belum tentu menyebabkan penderitanya terserang stroke apabila merawat dirinya dengan benar, selalu mengontrol tekanan darahnya, serta meminum ramuan herbal secara tetap dan rutin.

Berikut khasiat rosella dan seledri sebagai salah satu contoh tanaman herbal yang secara turun-temurun digunakan sebagai ramuan yang mampu mengontrol tekanan darah :

Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn)

Rosella atau dikenal dengan asam paya, asam kumbang dan asam susur memiliki nama ilmiah Hibiscus sabdariffa Linn, termasuk famili Malvacea dan terdapat 2 tipe utama, yaitu Hibiscus sabdariffa var Altassima dan Hibiscus sabdariffa var sabdariffa.

Tanaman ini berasal dari Asia (India hingga Malaysia) atau Afrika tropis yang kemudian menyebar hingga ke Amerika Tengah.

Rosella dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah, dari dataran rendah hingga dataran tinggi dengan ketinggian tempat sekitar 1,250 m dpl.

Tipe rosella Hibiscus sabdariffa var sabdariffa lebih pendek, seperti semak yang terbentuk dari bahgalpurienchi, intermedius, albus dan karet, semuanya dapat berkembang biak dari bijinya.

Varietas ini mempunyai kelopak yang berwarna merah cerah dan dapat dimakan, batangnya juga berserat-serat dan kurang kuat.

Rosella terdiri dari berbagai jenis, diantaranya yaitu rosella merah, rosella ungu, rosella hitam, rosella kuning, rosella putih, dan rosella hijau.

Namun, yang biasa dikonsumsi yaitu rosella merah. Tanaman rosella bisa mencapai tinggi 0,5-3 meter dan mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun.

 Batangnya berbentuk bulat, tegak, berkayu dan berwarna merah. Daunnya berupa daun tunggal, menjari, berujung tumpul, bergerigi, dan dengan pangkal berlekuk.

Panjang daunnya 6-15 cm dan dengan lebar daun 5-8 cm. Tangkai daun bulat berwarna hijau dengan panjang 4-7 cm. Biji muda berwarna putih dan tua berubah menjadi abu-abu kehitaman.

Bunga rosella yang keluar dari ketiak daun merupakan bunga tunggal, artinya pada setiap tangkai hanya terdapat satu bunga.

Bunga dari tanaman rosella mempunyai 8-11 helai kelopak bunga yang berbulu dengan panjang sekitar 1 cm, dengan pangkal saling berlekatan dan berwarna merah.

Kelopak bunga ini yang sering dianggap sebagai bunga oleh masyarakat, dan bagian inilah yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman.

Rosella merah mempunyai warna merah yang cemerlang dan menarik serta didapatkan rasa asam yang masam dan cocok untuk membantu pencernaan, dan dipercaya mampu menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Rosella

Kandungan Rosella

Bagian dari rosella yang dapat dikonsumsi yaitu kelopaknya. Bahan aktif kelopak rosella adalah antosianin, grossypeptin, gluside hibiscin, dan flavonoid.

Sari kelopak rosella merah kaya akan pigmen antosianin dan mengandung 13% campuran asam sitrat dan asam malat serta asam-asam buah lain.

Kelopak bunga rosella juga mengandung vitamin C, vitamin D, vitamin B1, B2, niacin, riboflavin, vitamin A, zat besi, asam amino, polisakarida, omega 3, kalsium.

Rasa asam dari kelopak bunga rosela disebabkan kandungan vitamin C, asam sitrat dan asam glikolik. Tiap 100 gram kelopak rosella mengandung vitamin C yang cukup tinggi, yaitu sekitar 260-280 mg.

Kandungan vitamin C membantu menjaga kolesterol dalam darah dengan cara membatasi penyerapan kolesterol dan meningkatkan pembuangan kolesterol LDL dari hati.

Vitamin C berfungsi menetralisir lemak dalam tubuh, metabolisme kolesterol, dan memiliki kemampuan dalam mencegah HDL dari pengaruh oksidasi fisiologis, sehingga jumlah HDL dalam darah meningkat.

Vitamin C dapat mencegah kolesterol LDL, dampak buruk stres oksidasi dan memperbaiki gangguan fungsi endotel.

Banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kandungan dan manfaat rosella. Efek hepatoprotektif rosella mendapatkan kandungan flavonoid.

Flavonoid yang terdapat dalam kelopak bunga rosella merah bermanfaat untuk mencegah kanker, terutama karena radikal bebas, seperti kanker lambung dan leukemia.

Selain itu flavonoid juga mempunyai efek protektif terhadap penyakit stroke, kardiovaskuler termasuk hipertensi.

Nilai LD50 (Lethal Dose 50; dosis yang menyebabkan 50% hewan coba mengalami kematian) ekstrak mahkota bunga rosella pada tikus diatas 5000 mg/kg bb.

Satu laporan menyebutkan bahwa pemberian pada dosis berlebihan pada periode yang relatif lama menyebabkan efek buruk pada testis tikus.

Nilai LD50 yang sama juga diperoleh untuk ekstrak air dan ekstrak etanol biji rosella. Oleh karena penggunaan dosis rosella yang tepat harus diperhatikan.

Ramuan rosella

Bahan

– 6 kelopak rosella kering, dicuci bersih

– 600 ml air

Cara Membuat dan Aturan Pemakaian

  1. Cuci semua bahan hingga bersih
  2. Seduh dengan air panas. Diamkan hingga hangat, saring
  3. Minum ramuan ini tiga kali sehari dalam keadaan hangat, masing-masing 100 ml.
  4. 6 (kelopak) x 3 (frekuensi konsumsi) dalam sehari

Seledri (Apium graveolens, Linn.)

Seledri merupakan tanaman tegak dengan ketinggian lebih kurang 50 cm. Semua bagian tanaman seledri memiliki bau yang khas, identik dengan sayur sup.

Bentuk batangnya bersegi, bercabang, memiliki ruas, dan tidak berambut. Bunganya berwarna putih, kecil, menyerupai payung, dan majemuk.

Buahnya berwarna hijau kekuningan berbentuk kerucut. Daunnya memiliki pertulangan yang menyirip, berwarna hijau, dan bertangkai. Tangkai daun yang berair dapat dimakan mentah sebagai lalapan dan daunnya digunakan sebagai penyedap masakan, seperti sayur sup.

Tanaman seledri dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun tinggi. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia, Afrika bagian utara, Rusia bagian selatan, Eropa, dan Amerika. Di Indonesia, perkebunan seledri diantaranya berada di Sumatera Utara (Brastagi) dan Jawa Barat (Pacet, Pengalengan, dan Cipanas). Perbanyakan tanaman seledri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui biji dan pemindahan anak rumpun. Tanaman seledri dapat dipanen setelah berumur enam minggu sejak penanamannya.

Kandungan Kimia dalam Seledri

             Senyawa kumarin : aplumetin, apiumosida, apigrafin, bergapten, selerin, selereosida, isoimperatorin, isopimpinelin, ostenol, rutaretin, seselin, dan lainnya.

             Minyak atsiri sekitar 2-3% : limonen (60%), selenin (10-15%), beberapa senyawaan seskuiterpen alkohol (1-3%), seperti α-eudesmol, β-eudesmol, santalol, dan senyawaan ftalida, seperti 3-n-butil ftalida, sedanenolida (berkontribusi memberikan aroma khas pada seledri).

             Senyawa flavonoid : apigenin, apiin, isokuersitrin, dan lainnya

             Kandungan asparagin, pentosan, glutamin, manit, zat pati, lendir, dan minyak asiri berkhasiat memacu enzim pencernaan dan peluruh kencing (diuretik).

             Kandungan lainnya : kolin askorbat, beberapa asam lemak (linoleat, miristisat, miristoleat, oleat, palmitat, palmitoleat, petroselinat, dan stearat), serta beberapa vitamin A, B, dan C.

Efek Antihipertensi

 Pada umumnya, tekanan darah akan mulai turun setelah satu hari pengobatan yang diikuti dengan peningkatan jumlah urine yang diekskresikan (dikeluarkan).

Pemberian 3-n-butil ftalida pada tikus yang dibuat hipertensi dengan dosis 2-4 mg sehari dapat memberikan efek penurunan tekanan darah atau hipotensif.

Penelitian terbaru mengenai efek ekstrak etanol seledri untuk menurunkan tekanan darah pada laki-laki dewasa, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap penurunan tekanan darah sukarelawan sebelum dan setelah meminum ekstrak etanol seledri.

Nilai rata-rata tekanan darah sukarelawan setelah minum ekstrak etanol seledri, yaitu 109,40/70,20 mmHg sedangkan nilai rata-rata tekanan darah sebelum minum ekstrak etanol seledri adalah 116,02/74,79 mmH.

Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa ekstrak etanol seledri dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik.

Ramuan seledri 1

Bahan

– 15 batang seledri utuh, dicuci bersih

– 3 gelas air

Cara Membuat dan Aturan Pemakaian

  1. Potong seledri secara kasar
  2. Rebus seledri hingga mendidih dan tinggal setengahnya. Minum air rebusan sehari 2 kali setelah makan.

Ramuan seledri 2

Bahan

– 15 gram daun seledri segar, dicuci bersih

– 7 lembar daun sambung nyawa

– 600 ml air

Cara Membuat dan Aturan Pemakaian

  1. Cuci semua bahan hingga bersih
  2. Rebus semua bahan hingga tersisa 300 ml. Diamkan hingga hangat, saring
  3. Minum ramuan ini tiga kali sehari dalam keadaan hangat, masing-masing 100 ml.

Interaksi Herbal Seledri dengan Obat Lainnya

Interaksi herbal seledri dengan obat-obatan antikoagulan, seperti aspirin, dalteparin, dan warfarin dapat menambahkan efek antikoagulan yang berarti meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.

Interaksi lainnya dengan obat tetrasiklin dan klorpromazin berpotensi meningkatkan fotosensitivitas.

Keamanan Konsumsi yang Perlu Diwaspadai

Buah seledri mengandung senyawa fototoksik, furokumarin yang berpotensi menyeabkan reaksi fotosensitivitas.

Begitu pula halnya ketika kontak dengan batang seledri akibat adanya kandungan senyawa furokumarin.

Pada beberapa kasus, buah seledri juga dapat memicu reaksi alergi, seperti gatal-gatal dan peradangan kulit.

Selain itu, pada wanita hamil dan menyusui juga dapat mempengaruhi siklus menstruasi. Dosis yang besar dapat memperlambat sistem saraf, dan menimbulkan gejala seperti mengantuk.

Konsumsi herbal seledri segar pada jumlah lebih dari dosis yang dianjurkan yaitu lebih dari 200 gram sekali minum dapat menimbulkan penuruanan tekakanan darah secara tajam sehingga menyebabkan terjadinya syok. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.