Deklarasi dukungan Farum Alumi Jatim #01 yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah berlangsung di depan Tugu Pahlawan Surabaya, Sabtu (2/2/2019). FT/SUUD

SURABAYA | duta.co – Meriah! Deklarasi dukungan Farum Alumi Jatim #01 yang dihadiri ribuan orang dari berbagai daerah berlangsung di depan Tugu Pahlawan Surabaya, Sabtu (2/2/2019) berlangsung meriah.

Semangat heroik dan patriotik itu seakan bangkit kembali pada diri arek-arek Surabaya khususnya dan masyarakat Jatim pada umumnya hingga saat ini. Demikian ketua pelaksana Forum Alumni Jatim #01 Ermawan Wibisono saat membacakan naskah deklarasi dukungan juga menyitir semangat kepahlawanan.

“Kami ahli waris semangat kepahlawanan akan bersama pemimpin yang ikhlas bekerja keras tanpa pamrih, berjuang tanpa henti membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan serta berani melindungi kedaulatan Indonesia dalam pergaulan dunia,” tegasnya berapi-api.

Kami berbeda-beda namun berteduh alam sayap yang sama, sayap Garuda Pancasila merindukan sosok pemimpin yang menyatu, pelindung kedamaian dan perawat keragaman bunga di taman sari Indonesia.

Kami pemilik hakiki kedaulatan menyatakan, berhak etos dan akan memperjuangkan sosok pemimpin yang mampu memperlihatkan karya bukan hanya sekedar retorika atau wacana, yang membangkitkan optimime bukan mewabahkan pesimisme, yang mengayomi bukan menakuti.

Yang mengilhami bukan menghakimi, yang memberi tauladan bukan menyebar kebencian, yang pekerja keras bersih membumi tak terbebani dosa-dosa sejarah masa lalu tak tersandera kekuatan oligarki jahat dan pantang memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

“Kami Forum Alumni Jawa Timur siap turun ke lapangan mengetuk pintu ke pintu menjadi tim blusukan untuk kemenangan dan dukungan kepada bapak Presiden RI Joko Widodo dan untuk kejayaaan Indonesia,” pungkas Ermawan Wibisono.

Yang menarik, sebelum Capres Joko Widodo memberikan orasi politik dan mengenakan rompi khusus dari Forum Alumni Jatim #01, Djadi Galajapo selaku Mc meminta persetujuan kepada hadirin bahwa Pak Jokowi layak disebut CAK Jokowi karena Pak Jokowi itu Cakap, Agamis dan Kreatif (CAK).

Namun rasanya tidak komplit kalau sudah dipanggil CAK tapi tidak ada gandengannya yaitu “Jancuk”. “Jancuk yaitu Jantan, Ulet, Cakap dan Komitmen atau kalau khas Suroboyo tengah ditambahi an menjadi Jancukan yaitu Jantan, Elet, Cakap, Komitmen, Anti Korupsi,” kata Djadi disamput tepuk riuh ribuan orang yang memadati sepanjang jalan Pahlawan Surabaya.

Tidak cukup di situ, setelah Pak Jokowi mengenakan rompi bertuliskan Cak Jokowi, Mc juga memberikan singkatan (akronim) Jokowi dengan istilah Joyo, Kokoh, Wibawo Indonesia. Sontak peserta deklarasi dukungan Forum Alumni Jatim #01 juga memberikan tepuk tangan.

Bangsat dan Keparat

Hampir semua orang sepakat bahwa jancuk itu kata tabu. Sulit diartikan menjadi ulet dan cakap. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas memaknai jancok, dancok, atau sering disingkat menjadi cok (juga ditulis jancuk atau cuk, ancok atau ancuk, dan coeg) adalah sebuah kata yang menjadi ciri khas komunitas masyarakat di Jawa Timur, terutama Surabaya dan sekitarnya.

Selain itu, kata ini juga digunakan oleh masyarakat Malang dan Lamongan. Normalnya, kata tersebut digunakan sebagai umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Kata Jancok juga menjadi simbol keakraban dan persahabatan khas di kalangan sebagian arek-arek Suroboyo.

Menurut Kamus Daring Universitas Gadjah Mada , istilah “jancuk, jancok, diancuk, diancok, cuk, atau cok” memiliki makna “sialan, keparat, brengsek”, perkataan umpatan untuk mengekspresikan kekecewaan atau bisa juga digunakan untuk mengungkapkan ekspresi keheranan atas suatu hal yang luar biasa brengsek. Waallahu’alam. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.