SURABAYA | duta.co – Jagat nahdliyin (warga NU) benar-benar dinamis menjelang Konbes dan Munas Alim Ulama di Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur, (20-21 Juni 2026) akhir bulan ini.

Banyak yang mengartikan Konbes NU nanti akan menjadi penentu siapa Ketum PBNU mendatang. “Dari bumi Pesantren Ploso, Kediri, Jawa Timur nama-nama calon Rais Aam dan siapa calon Ketum PBNU, kian jelas. Termasuk apa saja yang menjadi syaratnya,” demikian disampaikan salah seorang warga nahdliyin, Minggu (7/6/26) menulis.

Di media sosial warga NU, juga beredar calon-calon itu. Ada yang mengedarkan 4 komponen calon Ketum PBNU. Misalnya, komposisi orang-orang PBNU, ada nama Prof KH Nuh DEA, KH Yahya Cholil Staquf, KH Saifullah Yusuf, KH Zulfa Mustofa.

Dari unsur pesantren ada nama KH Imam Jazuli, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori, KH Marzuqi Mustanar. Ada juga kandidat dari PWNU seperti KH Abd Ghaffar Rozin, KH Abd Hakim Mahfudz dan KH Jahudi Muhammad. Lalu ada kandidat dari tokoh politik seperti H Muhaimin Iskandar, H Nusron Wahid dan Prof Dr KH Nasaruddin Umar.

Warganet (nahdliyin) ada yang langsung menyampaikan aspirasinya. Misalnya, mereka mencoret kandidat dari PBNU. Ini mereka nilai sudah tidak layak lagi diteruskan.

Persis apa yang disampaikan Cak Imin (Muhaimin Iskandar) bahwa kadidat PBNU itu telah gagal membangun kebersamaan. “Sampai sekarang masih saja ruwet soal surat. Ada surat yang diteken Rais Aam sendiri, ada pula yang diteken Ketum PBNU sendiri. Ini menunjukkan tidak bisa bersama,” tegas warga NU yang terggabung dalam Nota Keberatan dengan surat Rais Aam yang dinilai sebaai penunjukkan sepihak.

Diakui, dari sederet nama yang beredar, yang menyolok adalah Ketua Umum PKB sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Ia diyakini akan berhadap dengan calon incumbent, Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya. Apalagi Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul yang kini menjabat sebagai Menteri Sosial secara tegas menolak maju.

“Tetapi, saya yakin warga NU lebih sreg kalau Ketum PBNU dari unsur pesantren. Dengan begitu, langgam pesantren akan mendominasinya. Tidak seperti sekarang, yang mendominasi kepentingan dunia,” tegas yang lain.

Nama KH Imam Jazuli atau Imjaz dan Abdussalam Shohib atau Gus Salam juga mendominasi nama yang akan berikhtiar untuk melakukan mencalonkan diri dalam muktamar NU.

“Kiai Imjaz berbeda dengan Cak Imin dan Zulfa Musthofa yang pernah ditunjuk sebagai bagai Pj Ketum PBNU. Nama Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulai Cirebon ini, menjadi magnet kebersamaan dalam NU,” tegasnya.

Selain nama-nama tersebut, ada pula spekulasi munculnya figur dari kalangan kabinet pemerintahan. Ia menyontohkan Menteri Agama Nassarudin Umar serta Menteri Haji Muhammad Irfan Yusuf atau Gus Irfan. Namun menurutnya Gus Irfan  tidak menunjukkan minat untuk masuk dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.

“Yang masih tanda tanya ini Menteri Agama. Kalau Menteri Haji, ketika saya ketemu sih kayaknya beliau (Gus Irfan) tidak berminat ke sana.Beliau memang belum pernah terjun langsung di NU dan sejak awal lebih banyak berkiprah di Partai Gerindra,” ucapnya. (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry