Dr. Ubaidillah Zuhdi – Dosen Prodi S1 Manajemen

DALAM buku yang berjudul Leadership: Enhancing the Lessons of Experience, Hughes, Ginnett dan Curphy menjelaskan definisi yang benar terkait kepemimpinan jumlahnya tidak hanya satu.

Menurut mereka, berbagai macam definisi tersebut dapat membantu kita mengapresiasi banyak faktor yang mempengaruhi kepemimpinan, sama baiknya dengan menghargai perspektif-perspektif yang berbeda dalam memandang kepemimpinan.

Mereka mendefinisikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi sebuah grup yang terorganisir dalam rangka mencapai tujuan dari grup tersebut.

Ada tiga aspek pada definisi di atas, yakni proses mempengaruhi, grup yang terorganisir, dan tujuan dari grup.

Menurut penulis, aspek-aspek tersebut saling mendukung satu sama lain. Dengan demikian, jika ada salah satu aspek yang tidak terpenuhi atau hilang, maka konsep kepemimpinan tidak bisa dijelaskan dengan utuh.

Penjelasan lebih rincinya adalah sebagai berikut. Katakanlah kita memiliki satu grup yang terorganisir dan memiliki tujuan yang jelas. Namun, grup tersebut tidak memiliki proses mempengaruhi.

Tanpa adanya proses mempengaruhi, konsep kepemimpinan tidaklah lengkap karena kita tidak bisa melihat sesuatu yang berperan dalam menggerakkan grup tersebut dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai.

Seseorang mungkin akan berpendapat bahwa bisa jadi grup tersebut akan sulit mencapai tujuan yang dimilikinya karena grup tersebut tidak bergerak secara efektif dan efisien tanpa adanya proses mempengaruhi.

Aspek berikutnya adalah grup yang terorganisir. Katakanlah kita mempunyai sebuah grup, proses mempengaruhi, dan tujuan yang ingin dicapai oleh grup tersebut.

 Ternyata grup tersebut tidak terorganisir dengan baik. Dalam situasi seperti ini, seseorang mungkin akan berpendapat bahwa, walaupun memiliki proses mempengaruhi, grup tersebut bisa jadi tidak dapat mencapai tujuan yang ingin diraihnya karena tidak adanya kesolidan di dalam grup. Pada kondisi kedua inipun konsep kepemimpinan tidak nampak secara utuh.

Aspek yang ketiga adalah tujuan yang ingin dicapai oleh grup. Katakanlah kita mempunyai sebuah grup yang terorganisir dan proses mempengaruhi. Sayangnya, grup tersebut tidak memiliki tujuan spesifik yang ingin diraihnya.

Dalam kondisi seperti ini, bisa jadi seseorang akan berargumen bahwa konsep kepemimpinan tidak terlihat secara utuh karena grup tersebut tidak memiliki arah gerak yang jelas.

Akibatnya, walaupun memiliki proses mempengaruhi dan kesolidan grup, grup tersebut tidak bisa mencapai sebuah tujuan yang jelas.

Dari sudut pandang penulis, aspek proses mempengaruhi yang telah disebutkan sebelum ini erat hubungannya dengan gaya kepemimpinan.

Menurut artikel yang dimuat di Ilmu Manajemen Industri, terdapat tiga gaya kepemimpinan utama dalam manajemen. Tiga gaya kepemimpinan tersebut adalah gaya kepemimpinan otokratis, demokratis, dan laissez-faire.

Berdasarkan informasi yang ada di artikel tersebut, seorang pemimpin atau manajer yang menganut gaya kepemimpinan otokratis tidak memberikan wewenang kepada bawahan dalam mengambil keputusan.

Gaya kepemimpinan ini sangat berguna saat pemimpin atau manajer harus mengambil keputusan secepatnya atau pada kondisi di mana keputusan yang perlu diambil tidak memerlukan masukan maupun kesepakatan dari bawahannya.

Sisi negatif dari gaya kepemimpinan ini adalah bawahan merasa tidak dihargai. Rentetan akibat dari hal ini adalah berkurangnya motivasi kerja, tingginya tingkat absensi, dan banyaknya pertukaran karyawan.

Gaya kepemimpinan berikutnya adalah gaya kepemimpinan demokratis. Masih menggunakan informasi yang ada pada artikel yang telah disebutkan sebelum ini, pemimpin atau manajer yang memakai gaya kepemimpinan ini biasanya meminta pendapat atau nasehat dari bawahan sebelum mengambil keputusan.

Keputusan terakhir yang dibuat dengan mengikuti gaya kepemimpinan ini pada dasarnya merupakan hasil kesepakatan pemimpin atau manajer dengan bawahannya. Sisi negatif dari gaya kepemimpinan ini akan terlihat saat keputusan harus dibuat dengan cepat.

Informasi yang ada pada artikel yang telah disebutkan sebelum ini menjelaskan bahwa pemimpin atau manajer yang mengikuti gaya kepemimpinan laissez-faire akan memberikan kebebasan penuh disertai batas waktu kepada bawahan dalam mengambil keputusan.

Keputusan ini terkait dengan tugas yang dikerjakan oleh bawahan. Sisi negatif dari gaya kepemimpinan ini akan nampak pada bawahan yang kurang cakap dalam membagi waktu. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.