Yurike Septianingrum, SKep,Ns, MKep – Dosen S1 Keperawatan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan

PENINGKATAN kasus Covid-19 di Indonesia serta meningkatnya angka kematian ibu hamil selama pandemic menyebabkan kecemasan pada ibu hamil. Stres yang dialami oleh ibu hamil dapat berdampak pada kelancaran persalinan dan pengeluaran ASI.

ASI merupakan makanan bayi yang mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan bayi enam bulan pertama di kehidupannya. Kenyataan di lapangan menunjukan produksi dan ejeksi ASI yang sedikit pada hari-hari pertama setelah melahirkan menjadi kendala dalam pemberian ASI secara dini. Ibu yang tidak menyusui bayinya pada hari-hari pertama disebabkan oleh kecemasan dan ketakutan akan kurangnya produksi ASI.

Rendahnya cakupan pemberian ASI Eksklusif di Indonesia juga mendapatkan perhatian dari pemerintah. Salah satunya adalah program ASI Eksklusif merupakan program prioritas, karena dampaknya luas terhadap status gizi dan kesehatan balita.

Anak-anak yang mendapat ASI eksklusif 14 kali lebih mungkin untuk bertahan hidup dalam enam bulan pertama kehidupan dibandingkan anak yang tidak disusui. Mulai menyusui pada hari pertama setelah lahir dapat mengurangi risiko kematian baru lahir hingga 45%. WHO dan UNICEF merekomendasikan sebaiknya anak hanya diberi air susu ibu (ASI) selama paling sedikit 6 bulan dan pemberian ASI dilanjutkan sampai anak berumur dua tahun.

Kecemasan yang dialami ibu menyusui dapat mengurangi durasi menyusui. Kecemasan dimulai pada dua minggu pascapartum, dan akan berdampak pada menyusui, sebagian besar ibu yang mengalami kecemasan akan memberikan tambahan susu formula pada bayi usia 2-6 bulan  Faktor yang dapat menghambat produksi oksitosin adalah rasa takut, cemas, sedih, marah, jijik.

Jika ibu stres atau cemas akan ada hambatan dari refleks lesu. Hal ini terjadi akibat keluarnya epinefrin yang menyebabkan vasokonstriksi dari pembuluh darah alveoli, sehingga oksitosin terhambat untuk mencapai organ sasaran yaitu mioepitel. Akibat dari let down reflex yang menyebabkan aliran ASI tidak sempurna yang menyebabkan bendungan pada ASI dan pada akhirnya akan menghambat hormon prolaktin untuk memproduksi ASI

Kombinasi terapi hypnobreastfeeding dan endorphin massage atau dikenal dengan hypnobreastfeeding massage menjadi intervensi secara holistik untuk mengatasi kecemasan. Terapi ini memperhatikan tubuh, pikiran dan jiwa. Implementasi keperawatan holistik harus memperhatikan aspek psikoneuro-endokino-imuno (PNE-I) karena ketidakseimbangan antara pikiran dan jiwa akan mengakibatkan gangguan keseimbangan antara sistem saraf, hormon dan kekebalan tubuh.

Prinsip Hypnobreastfeeding dengan memasukkan kalimat-kalimat afirmasi positif untuk proses menyusui di saat ibu dalam keadaan sangat rileks atau sangat berkonsentrasi Kalimat afirmasi didengarkan berulangkali oleh ibu sehingga tertanam kuat dalam pikiran bawah sadar ibu dan setiap saat selalu membangkitkan motivasi dan kepercayaan diri ibu untuk menyusui.

Sentuhan, massage, atau low intensity stimulation dapat mengaktivasi serabut A- B dan konduksi lambat subpopulasi serabut C di dalam tubuh sehingga berhubungan dengan pelepasan hormon oksitosin dari hipofisis posterior. Aktivasi dari serabut A-? dan serabut C menginduksi perubahan pada korteks insular yang merupakan bagian otak yang berhubungan dengan emosi dan interpretasi dari stimuli taktil.

Info Lebih Lengkap Buka Website Resmi Unusa

Pijat endorphin adalah teknik sentuhan dan pemijatan ringan ini dapat memberikan rasa tenang dan nyaman selama masa laktasi sehingga meningkatkan respon hipofisis posterior untuk memproduksi hormon oksitosin yang dapat meningkatkan let down reflex.

Hypnobreastfeeding merupakan relaksasi untuk memfokuskan pikiran terhadap hal yang positif dan meningkatkan kepercayaan diri ibu untuk bisa memberikan asi yang merupakan nutrisi yang paling baik untuk bayinya. Ibu yang merasa relaks pada saat menyusui akan meningkatkan kadar prolaktin sehingga produksi asi juga meningkat.

Hypnobreastfeeding massage juga meningkatkan romantic couple relationship, sehingga ibu merasa dicintai dan mendapatkan dukungan sepenuhnya dari suami. Kondisi yang menyenangkan ini mampu merangsang produksi endorfin dan oksitosin sehingga produksi ASI bisa meningkat.*

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry