Fauziyatun Nisa – Dosen Kebidanan FKK

MENYUSUI  secara ekslusif adalah memberikan ASI saja pada bayi selama enam bulan tanpa makanan tambahan apapun. Hal ini adalah kewajiban ibu setelah melahirkan yang harus diberikan pada bayinya.

 Semua kalangan sudah mengetahui bahwa manfaat pemberian ASI ekslusif sangat banyak, baik itu untuk kesehatan ibu, kesehatan bayi dan ekonomi keluarga.

Namun ternyata capaian ASI ekslusif di Indonesia masih jauh dari target nasional 80 % (Kemenkes RI, 2018). Sedangkan di Surabaya sampai tahun 2016 masih 65,10% (Profil Dinkes Kota Surabaya, 2016).

Kondisi ini sangat ironis karena semua pihak mulai dari dukungan keluarga, masyarakat bahkan sampai kebijakan pemerintah pun sudah jelas. Berdasarkan Peraturan pemerintah RI No. 33 tahun 2012 tentang pemberian ASI Ekslusif pasal 6 yang berbunyi : “Setiap ibu yang melahirkan harus memberikan ASI Ekslusif pada bayinya”.

 Peraturan ini sudah didukung dengan berbagai gerakan masyarakat pendukung ASI, diantaranya kelompok pendukung ASI, karang taruna pendukung ASI dan program kampung ASI.

Sedangkan dari segi fasilitas pelayanan umum juga sudah banyak disediakan tempat khusus menyusui yaitu pojok laktasi. Ibu dan pihak keluarga juga sudah diberi pendidikan kesehatan oleh petugas kesehatan agar memberikan ASI ekslusif selama enam bulan dan dilanjutkan menyusui selama dua tahun.

Namun semua program dan usaha petugas kesehatan akan tiada berarti jika ibu saat pulang dari rumah sakit pasca melahirkan mempunyai rasa khawatir akan ketidak cukupan dari produksi ASInya.

Pada tiga hari pertama pasca melahirkan ibu menghasilkan kolostrum, yaitu cairan ASI yang kental berwarna kekuningan. Kolostrum ini sangat baik bagi imunitas bayi di masa perkembangan dan pertumbuhan selama hidupnya.

Produksi kolostrum ini pun tidak sebanyak produksi ASI setelah satu minggu pasca melahirkan. Namun produksi kolostrum  selama tiga hari pertama ini sangat cukup mengenyangkan bagi bayi.

Semua ibu harus menyadari  bahwa lambung bayi hanya sebesar telur ayam yang tentunya tidak membutuhkan banyak makanan dalam porsi besar. Namun ibu dan sebagian masyarakat tidak memahami kondisi pencernaan bayi ini.

 Sehingga mereka mempunyai persepsi bahwa ASI saja tidaklah cukup mengenyangkan untuk bayinya. Kondisi produksi kolostrum yang dirasa sedikit inilah yang membuat ibu dan sebagian masyarakat merasa bahwa kebutuhan makanan bayi kurang.

Penyebab utama kegagalan pemberian ASI eksklusif di dunia adalah karena ibu merasa ASI-nya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi. Sekitar 35% ibu yang memberikan makanan tambahan kepada bayi sebelum berusia enam bulan ternyata karena mengalami persepsi ketidakcukupan ASI (PKA).

PKA adalah pendapat ibu yang meyakini bahwa produksi ASI-nya kurang (tidak cukup) untuk memenuhi kebutuhan bayinya dan selanjutnya memberikan makanan pendamping ASI dini. Beberapa penelitian mengenai PKA di Indonesia menunjukkan bahwa banyak ibu yang merasa ASI-nya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi.

Satu minggu setelah melahirkan kondisi psikis ibu juga mengalami beberapa fase perubahan, salah satunya adalah fase menerima bayi dan kemandirian mengurus dirinya sendiri. Jika pada fase ini ibu mengkhawatirkan kondisinya sendiri dan keyakinan akan kemampuan merawat bayi serta frekuensi menyusuinya rendah membuat program ASI ekslusif gagal.

 Pada satu minggu pertama pasca melahirkan pemenuhan gizi ibu juga harus terpenuhi dengan baik tanpa ada pantangan makanan apapun. Sehingga hal ini bisa merangsang banyaknya produksi ASI. Berbagai kondisi ini jika mempengaruhi frekuensi ibu dalam menyusui akan menghambat kelancaran produksi ASI. Sedangkan semakin sering ibu menyusui dan rangsangan hisapan bayi dan sentuhan lidah bayi terhadap puting susu merangsang hormone produksi ASI meningkat dan sekresi ASI yang banyak.

Karena start awal dalam keberhasilan memberikan ASI ekslusif adalah dengan kegigihan ibu dalam menyusui bayinya. Pengetahuan ibu yang baik akan kondisi pencernaan bayi akan membuat ibu sadar bahwa keluarnya ASI dalam jumlah terbatas di minggu pertama melahirkan akan semakin bertambah dengan semakin seringnya frekuensi menyusui yang dilakukan oleh ibu.

Sekali saja ibu memberikan susu formula atau makanan tambahan lainnya akan membuat ibu malas untuk menyusui dan inilah factor utama penyebab produksi ASI menurun. Sehingga gagal memberikan ASI Ekslusif.

Perempuan yang telah melahirkan tidak akan sempurna sebelum mereka memberikaan ASI pada bayinya. Dan pemberian ASI ekslusif merupakan makanan utama yang tidak bisa dibandingkan dengan makanan apapun sampai bayi berusia enam bulan.

Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan pada saat menyusui merupakan makanan paling kompleks yang mengandung zat gizi lengkap dan bahan bioaktif yang diperlukan untuk tumbuh kembang dan pemeliharaan kesehatan bayi.

Bagi bayi yang berumur di bawah 6 bulan ASI merupakan makanan yang paling dianjurkan. Hal ini disebabkan sistem pencernaan bayi yang masih belum bisa menerima makanan lain. ASI mempunyai beberapa manfaat, yaitu dapat meningkatkan kondisi neurologi bayi.

Sekali lagi kami tekankan bahwa berapapun banyaknya produksi ASI setelah melahirkan sangat cukup untuk kebutuhan bayi. Dan semakin sering bayi disusui akan semakin merangsang jumlah produksi ASI dan sekresi ASI yang dikeluarkan. Jadi para ibu sebaiknya tidak perlu merasa khawatir akan jumlah ASI nya pada minggu pertama pasca melahirkan. *

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.