WASHINGTON | duta.co — Amerika Serikat (AS) menyatakan akan keluar dari Organisasi Kebudayaan dan Keilmuwan PBB (UNESCO). Mereka menuduh UNESCO anti-Israel karena mengecam aktivitas Israel di kota Jerusalem dan wilayah pendudukan Tepi Barat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Heather Nauert mengatakan, AS akan membentuk sebuah misi pengamat untuk menggantikan perwakilannya di agen PBB yang berbasis di Paris tersebut. Pemerintah AS, kata dia, mengambil keputusan ini setelah melalui pertimbangan yang sangat mendalam.

“Ini mencerminkan kekhawatiran pemerintah Amerika. UNESCO perlu melakukan reformasi fundamental,” kata Nauert, Kamis (12/10)

Sementara, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan, Israel juga akan mengikuti jejak AS untuk mundur dari UNESCO.

“Perdana menteri menginstruksikan Kementerian Luar Negeri untuk mempersiapkan penarikan Israel dari organisasi tersebut bersama dengan Amerika Serikat,” ujarnya melalui pernyataan yang dikeluarkan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dilansir Aljazirah, Jumat, (13/10).

Ditambahkan oleh Netanyahu, langkah yang diambil AS itu berani dan bermoral. Israel juga menuduh UNESCO menjadi teater yang tak jelas. Keputusan Israel itu diumumkan hanya beberapa jam setelah AS menyatakan mundur karena menilai lembaga tersebut ‘anti terhadap Israel’.

Kepala UNESCO, Irina Bokova mengatakan, keluarnya AS merupakan kerugian multilateralisme. Ia juga yakin bahwa UNESCO tidak pernah begitu penting bagi AS begitu juga sebaliknya.

“Pada saat konflik terus merobek masyarakat di seluruh dunia, sangat disesalkan AS menarik diri dari badan PBB yang mempromosikan pendidikan untuk perdamaian dan melindungi budaya yang diserang,” kata Bokova.

Sementara, Sekretaris Jendral Palestinian National Initiative Mustafa Barghouti mengatakan, keputusan tersebut menunjukkan bias total Pemerintah AS terhadap Israel.

“Perilaku AS ini kontraproduktif dan memalukan,” katanya.

“Cepat atau lambat mereka akan melihat Palestina di setiap badan PBB. Apakah AS akan menanggapi hal itu dengan keluar dari WHO (World Intellectual Property Organization)? Mereka hanya akan menyakiti diri mereka sendiri,” imbuhnya.

Tahun 2011, AS marah ketika anggota UNESCO memberikan keanggotaan penuh kepada Palestina, meskipun mendapat tentangan dari sekutunya Israel. Tahun itu, AS berhenti membayar organisasi yang beranggotakan 195 orang namun tidak secara resmi mundur.

AS menentang tindakan apapun oleh badan-badan PBB untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara. AS percaya bahwa pembentukan Palestina menjadi sebuah negara harus menunggu kesepakatan damai Timur Tengah yang dinegosiasikan. (net)

Tinggalkan Balasan