SURABAYA | duta.co – Tokoh perempuan di Kota Surabaya mulai berani unjuk gigi siap menjadi penerus Tri Rismahrini memimpin Kota Pahlawan pada periode 2020-2025. Pasalnya, walikota perempuan pertama di Kota Surabaya itu akan mengakhiri jabatan  pada tahun 2020 mendatang.

Diantara politisi perempuan yang mengaku siap mengikuti kontestasi Pilwali Kota Surabaya pada 2020 mendatang jika diberi kepercayaan adalah Arzeti Bilbina. Mantan artis yang kini terjun ke dunia politik menjadi anggota DPR RI dari Fraksi PKB itu juga tercatat sebagai Caleg DPR RI dapil Surabaya-Sidoarjo pada Pileg 2019.

“Doakan, doakan semoga saja. Perempuan itu tak suka vulgar jadi jangan sekarang diumumkan. Yang penting sekarang blusukannya dulu gak usah berkoar-koar. Bismillah, bantu doanya dong?” kata Arzeti saat ditemui di sela-sela peresmian Fatma Foundation di Surabaya, Senin (4/2/2019) kemarin.

Sebagaimana diketahui bersama, para kandidat Pilwali Surabaya yang sudah mengemuka ke publik didominasi tokoh dan politisi laki-laki. Misalnya, Wisnu Sakti Buana (Wawali Surabaya), Ipong Muchlisoni (Bupati Ponorogo), Nur Arifin (Wabup Trenggalek), Fandi Utomo (Caleg DPR RI dari PKB), Gus Abid Umar (Ketua PW GP Ansor Jatim dan Bayu Airlangga (Ketua Muda Mudi Demokrat Jatim).

Terpisah, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam menilai sosok artis atau mantan artis seperti Arzeti Bilbina memang tangguh kalau maju di Pileg, tapi belum tentu kalau maju di Pilkada karena butuh usaha lebih ekstra.

“Saya berpendapat semakin banyak calon yang mengajukan diri, itu semakin bagus biar publik Surabaya punya pilihan lebih variatif termasuk calon perempuan dan akan mematik munculnya calon-calon potensial untuk berkompetisi di Surabaya,” ujar Surokim.

Belum Masuk Radar

Sebagai kader PKB, lanjut Surokim, Arzeti juga harus diakui tidak mudah mendapatkan rekom karena harus bersaing dengan kader PKB potensial yang lain. Namun demikian biasanya calon perempuan dan muda biasanya lebih menarik perhatian pemilih apalagi kalau terlihat smart dan berpengalaman maka akan mudah melejit untuk menarik perhatian publik.

“Tantangan artis running Pilkada itu sebenarnya yang paling berat adalah mengikis kesan glamouritas. Sepanjang artis bisa tampil lebih merakyat, sederhana,  apa adanya dan alami kesan glamour itu bisa dikikis di benak publik. Apalagi jika ada kesan religius biasanya akan menambah daya tarik, ” dalih Dekan FISIB UTM ini.

“Di level Pilkada Kota besar peluang artis memang harus jujur diakui peluangnya berat karena pertimbangan kompetensi kapasitas dan pengalaman track record akan jadi pertimbangan utama saat ini,” tambah Surokim.

Menurut Surokim, paska Tri Rismaharini, Kota Surabaya nampaknya kesulitan menemukan kandidat pemimpin perempuan sebagai penerus. Terlebih jika mencari dari kalangan birokrat Pemkot yang terlihat baru Kadis Kesehatan Surabaya. Sedangkan dari kalangan akademisi yang mencuat baru Ibu Pingki Saptandari tapi mereka belum masuk radar survey.

“Begitu juga dari politisi, caleg DPR RI asal dapil Surabaya-Sidoarjo yang cukup disegani juga terbatas yakni Arzeti Bilbina (PKB), Lucy Kurniasari (Demokrat), Indah Kurnia dan Puti Guntur Soekarno (PDIP),” pungkas Surokim Abdussalam. (ud)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.