
(Catatan Ngaji Qalbu Ramadhan 1447 H; Rabu, 25 Februari 2026)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif
RAMADHAN baru saja menyentuh Hari ke-7 pada sepuluh hari pertama Ramadhan. Udara menjelang Maghrib di Pasulukan Al-Masykuriyah Condet terasa berbeda, lebih hening, lebih ringan, seolah setiap hembusan angin membawa tasbih yang tak terdengar. Kayu-kayu ukir pendopo terasa membisikkan tasbih pada para murid yang duduk bersila; sebagian hadir secara fisik, sebagian lagi melalui jendela digital yang memancarkan wajah-wajah rindu dari jauh.
Sang Guru, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa, membuka pengajian dari bab Akhlaq Ahlul Hikmah. Suaranya lembut, namun menusuk ke dalam kesadaran yang sering tertidur oleh rutinitas dunia.
Beliau mengawali dengan perkataan Abdullah bin Abbas رضي الله عنه: Orang yang taat kepada Allah adalah mereka yang senantiasa mengingat-Nya dalam setiap waktu.
Dzikir, kata Sang Guru, bukan sekadar lisan yang bergerak, tetapi kesadaran yang menetap. Orang yang berdzikir mungkin terlihat sedikit amalnya, namun secara logika ruhani, mustahil seseorang yang selalu mengingat Allah melalaikan shalat, puasa, dan tilawahnya.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)
Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai Allah, namun jarang menyebut nama-Nya?
Cinta dalam tasawuf bukanlah klaim, tetapi kebiasaan mengingat.
Karena itu, iman dan amal shaleh selalu beriringan:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh…” (QS. Al-Baqarah: 25)
Seorang yang baik bukan hanya ‘alim (berilmu), tetapi juga ‘abid (ahli ibadah). Ilmunya menjadi cahaya, ibadahnya menjadi keharuman.
Sang Guru kemudian menggambarkan niat sebagai aroma. Niat baik, kata beliau, menyebar seperti parfum, tak terlihat, tetapi terasa. Sebaliknya, niat buruk mengendap seperti bau busuk yang mengganggu jiwa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. البخاري ومسلم)
Bahkan niat untuk bersungguh-sungguh dalam suluk, dalam perjalanan menuju Allah, telah dinilai sebagai amal kebaikan.
Beliau lalu menukil hikmah dari Umar bin Abdul Aziz رحمه الله: Allah meminta kita untuk taat, dan Dia akan menolong orang-orang yang taat, serta bersama mereka di manapun mereka berada.
Sebagaimana firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nahl: 128)
Namun Allah tidak memberikan toleransi atas ketidaktaatan yang disengaja. Bahkan maksiat sekecil apa pun harus dicegah, karena Iblis adalah pangkal dari seluruh kerusakan.
Orang yang bertakwa, kata Sang Guru, adalah mereka yang tidak mencintai kekekalan semu di dunia ini. Mereka sadar bahwa dunia hanyalah ladang: Dunia adalah tempat menanam, dan akhirat adalah tempat memetik.
Allah mengingatkan:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ “Carilah pada apa yang telah Allah berikan kepadamu negeri akhirat.” (QS. Al-Qashash: 77)
Pilihan manusia selalu sama: taat atau durhaka.
Namun Syeikh Bisri mengingatkan, banyak orang memiliki amal setinggi gunung tetapi tidak tertipu, sementara kita yang tak memiliki apa-apa justru tertipu oleh kesederhanaan lahiriah. Ucapan kita terdengar zuhud, tetapi hati masih gemar mencela dan malas beribadah.
Lebih berbahaya lagi ketika seseorang terus bermaksiat, namun rezeki dan pangkatnya bertambah. Jangan-jangan itu adalah istidrāj, penangguhan yang menipu.
Allah berfirman:
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ “Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A‘raf: 182)
Orang-orang shaleh memandang dosa kecil sebagai dosa besar, sementara orang fasiq menganggap dosa besar sebagai hal biasa.
Sang Guru lalu mengaitkan makna qurban, bahwa menyembelih bukan hanya hewan, tetapi ego dan nafsu kita sendiri. Qurban sejati adalah ketika kita mampu menyembelih kesombongan dalam diri.
Beliau menutup dengan kisah yang halus dari Syeikh Kasmas Al Hasan: seseorang bertayammum dengan debu milik tetangganya tanpa izin. Setelah meminta maaf, ia merasa belum cukup, lalu beruzlah selama empat puluh hari, menangis dalam istighfar.
Betapa para ahli hikmah memandang hak orang lain sebagai sesuatu yang agung, bahkan debu sekalipun.
Suasana majelis menjadi hening. Ramadhan terasa seperti cermin, memantulkan niat, amal, dan cinta kita kepada Allah.
Dan di antara pilihan taat atau durhaka, para murid pagi itu memilih untuk kembali, meski perlahan, ke jalan ketaatan.
#NgajiQalbu
#Ramadhan1447H
#TanbihulMughtarrin
#AliMasykurMusa





































