Oleh Bey Arifin*

PERTARUNGAN Arjuna dan Cakil di panggung wayang sesungguhnya menyimpan pesan yang jauh melampaui kisah kepahlawanan. Di balik gerakan Arjuna yang tenang dan Cakil yang liar, terdapat gambaran tentang pertarungan yang tidak pernah selesai dalam kehidupan manusia: pertarungan antara kejernihan dan kegaduhan, antara pengendalian diri dan ego, antara kebijaksanaan dan nafsu untuk menang sendiri.

Karena itu, Arjuna dan Cakil dapat dibaca sebagai metafora kehidupan sosial, politik, bahkan keagamaan.

Dalam kehidupan sosial, Cakil hadir ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan. Percakapan berubah menjadi pertengkaran, kritik berubah menjadi penghinaan, dan perbedaan pandangan berubah menjadi alasan untuk meniadakan orang lain. Ruang sosial yang seharusnya menjadi tempat bertemu justru berubah menjadi arena saling menjatuhkan.

Di sinilah karakter Arjuna menemukan relevansinya. Arjuna bukan simbol manusia yang tidak memiliki keberanian. Ia justru menunjukkan bahwa keberanian tidak harus identik dengan kegaduhan.

Ada keberanian untuk mendengar, keberanian untuk menahan diri, keberanian mengakui kesalahan, dan keberanian menerima bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan cara yang melukai orang lain.

Dalam kehidupan politik, pertarungan Arjuna dan Cakil dapat dibaca sebagai pergulatan antara politik yang berorientasi pada kepentingan publik dan politik yang dikuasai oleh ego kekuasaan.

Politik pada hakikatnya merupakan ruang pengelolaan kepentingan yang berbeda. Perbedaan pilihan adalah sesuatu yang wajar dalam masyarakat demokratis. Yang menjadi persoalan adalah ketika ambisi politik membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri: lawan dianggap musuh, kritik dianggap ancaman, dan kemenangan dianggap sebagai pembenaran atas segala cara.

Cakil dalam konteks ini bukan nama seseorang atau kelompok tertentu. Ia adalah watak yang dapat muncul dalam diri siapa pun ketika kekuasaan, popularitas, dan kepentingan pribadi mengalahkan etika.

Sebaliknya, Arjuna dapat menjadi simbol politik yang memiliki kedewasaan batin: berani bertanding tanpa kehilangan adab, berani berbeda tanpa memutus persaudaraan, dan mampu menerima kemenangan maupun kekalahan tanpa kehilangan martabat.

Politik yang sehat bukan politik tanpa konflik. Politik yang sehat adalah politik yang mampu mengelola konflik tanpa kehilangan kemanusiaan.

Dalam kehidupan keagamaan, pertarungan Arjuna dan Cakil menjadi semakin menarik. Sebab agama semestinya tidak hanya mengajarkan manusia tentang benar dan salah, tetapi juga mendidik manusia tentang bagaimana membawa kebenaran dengan akhlak.

Cakil dapat muncul ketika semangat keberagamaan berubah menjadi kesombongan spiritual. Seseorang merasa paling benar, paling suci, paling memahami agama, lalu menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan sesama.

Padahal, semakin dalam seseorang memahami agama, semestinya semakin besar pula kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang membutuhkan pertolongan Allah.

Dalam tradisi tasawuf, penyakit yang paling berbahaya bukan hanya maksiat yang tampak, tetapi ujub, takabbur, riya, dan merasa diri lebih baik daripada orang lain. Karena itu, perjuangan keagamaan tidak cukup berhenti pada memperbanyak pengetahuan. Ilmu harus melahirkan adab, dan ibadah harus melahirkan kerendahan hati.

Di sinilah Arjuna dapat menjadi simbol manusia yang terus melakukan mujahadah al-nafs perjuangan mengendalikan diri. Ia tidak sibuk mencari kesalahan orang lain karena ia masih sibuk memperbaiki dirinya sendiri.

Masyarakat juga membutuhkan lebih banyak karakter “Arjuna”: orang-orang yang mampu menjadi peneduh ketika suasana memanas, menjadi jembatan ketika masyarakat terbelah, dan menjadi penjernih ketika informasi bercampur dengan emosi.

Sementara itu, karakter “Cakil” mengingatkan kita bahwa kegaduhan sering kali tidak membutuhkan banyak tenaga. Satu provokasi dapat menyebar luas. Satu kalimat yang tidak terukur dapat memperbesar konflik. Satu kebencian yang dipelihara terus-menerus dapat mengubah hubungan sosial menjadi permusuhan.

Karena itu, tantangan kehidupan modern bukan hanya bagaimana manusia memperoleh informasi sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana mengendalikan dirinya di tengah derasnya informasi.

Media sosial memperlihatkan pertarungan ini setiap hari. Jempol dapat menjadi panah yang membangun, tetapi dapat pula menjadi senjata Cakil yang melukai. Kata-kata dapat menjadi sarana dakwah, tetapi dapat pula menjadi sumber fitnah. Perbedaan pendapat dapat menjadi ruang belajar, tetapi dapat pula menjadi panggung ego.

Maka kualitas masyarakat tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang yang pintar berbicara, tetapi juga oleh seberapa banyak orang yang mampu menahan diri sebelum berbicara.

Pada akhirnya, Arjuna dan Cakil bukan dua manusia yang hanya berada di luar diri kita. Keduanya hidup dalam diri setiap manusia.

Ada saat ketika kita menjadi Arjuna: tenang, jernih, mampu mengendalikan emosi dan berpikir panjang. Namun ada pula saat ketika Cakil muncul: tergesa-gesa, mudah tersulut, ingin menang sendiri, dan merasa harus selalu membalas.

Maka persoalan terbesar dalam kehidupan sosial, politik, dan keagamaan sebenarnya bukan sekadar bagaimana mengalahkan “Cakil” di luar diri kita. Persoalan yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana mengenali Cakil yang bersemayam di dalam diri sendiri.

Sebab masyarakat akan menjadi lebih dewasa ketika individunya mampu mengendalikan ego. Politik akan menjadi lebih beradab ketika para pelakunya mampu mengendalikan ambisi.

Dan kehidupan keagamaan akan menjadi lebih teduh ketika orang-orang beragama mampu mengendalikan kesombongan spiritualnya.
Pertarungan Arjuna dan Cakil akhirnya mengajarkan satu hal sederhana tetapi mendalam:

Peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang mampu memenangkan pertarungan, tetapi oleh manusia yang mampu memenangkan dirinya sendiri.

Ketika ego tunduk kepada akal sehat, ambisi tunduk kepada etika, dan kekuasaan tunduk kepada amanah, di situlah Arjuna menemukan kemenangan sejatinya.

Dan ketika manusia kehilangan kemampuan mengendalikan diri, Cakil tidak perlu datang dari luar. Ia sudah tumbuh di dalam diri kita.

*BEY ARIFIN adalah Pemerhati NU dan Pengurus LKSPHK IKAPETE.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry