PEMERIKSAAN MATA : Salah satu siswa SD Muhammadiyah 4 Pucang dites membaca huruf saat acara pemeriksaan dan pembagian kacamata gratis di sekolah mereka, Rabu (31/7). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co –  Banyak orang tua yang kurang peduli pada kesehatan mata anaknya. Dianggapnya anaknya tidak mengalami masalah apapun dengan penglihatannya.

Padahal, dengan banyaknya anak menggunakan gadget setiap harinya, kemungkinan besar, mata mengalami masalah sangatlah besar.

Salah satunya dialami Aqila Nuranayyara. Siswi kelas 6 SD Muhammadiyah 4 Surabaya itu bersama 1.500 siswa-siswi sekolah di kawasan Pucang itu diperiksa kondisi kesehatan mata dari sebuah perusahaan swasta yang bekerjasama dengan FK Unair, Rabu (31/7).

Aqila diperiksa melalui beberapa tahap. Saat dilakukan tes membaca dari jarah jauh, Aqila nampak kesulitan. Bermacam lensa dicoba mulai dari yang minus terendah. Tapi Aqila tetap kesulitan membaca huruf-huruf yang tertera.

Sampai akhirnya ketika dikasih lensa minus tiga, Aqila berhasil membaca huruf-huruf yang ada. “Minus tiga,” kata Aqila usai keluar dari ruangan pemeriksaan.

Diakui Aqila, mama dan papanya belum mengetahui kalau dia mengalami minus tiga. Tapi Aqila mengaku sudah memberitahu mamanya kalau dia sudah mulai mengalami kesulitan membaca apalagi yang jarak jauh.

“Sama mama mau dibawa ke dokter mata Jumat besok. Tapi sudah diperiksa di sini, nanti tinggal beli kacamatanya,” tandasnya.

Apa yang dialami Aqila ini, banyak dialami anak Indonesia. Sugiono dari Ikatan Refraksionis Optisien Indonesia cabang Surabaya mengatakan, rata-rata 20 persen dari jumlah siswa di sebuah sekolah,mengalami masalah dengan penglihatannya.

“Kalau dulu 10 persen dan biasanya karena faktor keturunan atau karena bentuk matanya. Tapi sekarang penyebabnya sudah berbeda,” tukasnya.

Diakui Sugiono, rata-rata dari 11 sekolah dasar di Surabaya yang dilakukan pemeriksaan, penyebabnya karena banyaknya bermain gadget dan menonton televisi.

“Jadi zamannya sudah berbeda. Sekarang banyak karena paparan sinar dari gadget, komputer dan televisi,” tukasnya.

 Tidak hanya jumlah penderita yang banyak, tapi tingkat kerusakan matanya juga meningkat.

“Pasti di atas satu minusnya. Ada yang sampai dua dan tiga. Ini memprihatinkan. Usahakan main gadget, dua jam berhenti, dua jam berhenti supaya tidak lelah,” tandasnya.

Selain pemeriksaan, juga dilakukan sosialisasi dan edukasi kepada para siswa. Mahasiswa kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) dilibatkan dalam sosialisasi ini. Salah satunya dr Nasrullah.

Dokter Irul panggilan akrabnya mengajak siswa kelas 6 untuk mengetahui kerusakan-kerusakan mata yang terjadi karena kurangnya dijaga dengan baik. Termasuk diantaranya karena banyak bermain gadget.

Di acara itu pula, dr irul memberikan kuis kepada para siswa seputar kerusakan mata dan juga bagaimana menjaga agar mata tetap sehat. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry