Foto bersama narasumber dan para peserta seminar di Tower B Unusa, Sabtu (1/12). DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co – Lulusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) semakin banyak dibutuhkan.

Industri di Indonesia wajib atau mutlak menyediakan tenaga K3 ini untuk menekan angka kecelakaan kerja di lingkungannya.

Direktur Jendral Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kemristekdikti, Patdono Suwignjo mengatakan lulusan K3 memang sedang diburu.

Karena sebelumnya banyak perusahaan yang mempekerjaan bukan lulusan K3 untuk menempati posisi itu.

“Padahal seharusnya benar-benar lulusan K3 lah yang menempati posisi itu. Sehingga karena adanya aturan itu, banyak perusahaan yang mencari lulusan K3,” jelas Patdono di acara  pelatihan penyusunan kurikulum nasional vokasi keselamatan dan kesehatan kerja di Kampus B Unusa, Sabtu (1/12).

Namun, kebutuhan yang sangat besar itu harusnya diimbangi dengan kualitas lulusan yang baik.

“Probelmnya sekarang tinggal bagaimana kompetensi yang diperlukan itu sesuai dengan yang dibutuhkan,” katanya.

Karena itu, diperlukan sebuah kurikulum yang sama dari semua perguruan tinggi yang memiliki program studi K3. Sehingga lulusan K3 ini bisa sejajar di manapun mereka menempuh pendidikan.

Karenanya, Asosiasi Pendidikan Tinggi Vokasi K3 dan Kolegium K3 (APTVK3) merasa perlu untuk duduk bersama untuk menyamaratakan kurikulum K2 tersebut.

Unusa pun menjadi tuan rumah pelatihan penyusunan kurikulum ini yang juga dihadiri 14 universitas dari seluruh Indonesia.

APTVK3 sendiri berharap dengan adanya pelatihan sekaligus rapat kerja ini, peserta mampu menyusun kurikulum yang sesuai dengan kualifikasi yang mumpuni.

Ketua APTVK3 Prof Dr dr Santoso mengungkapkan memiliki kurikulum nasional sangat penting untuk menentukan kualifikasi sumber daya manusia (SDM) lulusan K3.

 “Saat ini kita memang sedang menyusun kurikulum nasional, karena K3 inikan masih belum ada kurikulum nasionalnya ya,” tandasnya.

 Saat disinggung soal urgensitas K3 dalam ranah industri ia yakin, jika setiap perusahaan besar pasti membutuhkan orang-orang lulusan K3.

“Saya kira kalau dikatakan urgent ya urgent, karena safety dalam bekerja harus ada dan K3 bisa mengurangi angka kecelakaan kerja,” tukasnya.

Program Studi K3 di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya sendiri terbilang baru berusia jagung. Namun peminat dalam prodi ini sangat signifikan. Hal ini dibenarkan oleh Wakil Dekan Fakultas Kesehatan, Firdaus, M.Kes.

 “Meskipun baru 2017 dibuka namun ternyata banyak juga yang berminat di DIV K3 ini,” jelasnya. ril/end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.