
JOMBANG | duta.co – Maraknya aksi solidaritas pasca meninggalnya Affan Kurniawan (20), pengemudi ojek online yang tewas dalam demonstrasi di depan Gedung DPR RI Jakarta, beberapa waktu lalu, turut menjadi perhatian berbagai kalangan. Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta (APTISI) Jawa Timur, KH Zaimuddin Wijaya As’ad, mengingatkan agar kampus lebih aktif melakukan pendekatan persuasif kepada mahasiswa.
“Saya memohon kepada seluruh pimpinan PTS di Jawa Timur untuk mengingatkan dan mengarahkan mahasiswa agar tetap menjaga kondusivitas daerah masing-masing. Jangan sampai terprovokasi melakukan tindakan anarkis atau merusak fasilitas, baik milik pribadi maupun publik,” ujar Gus Zuem, Minggu (31/8).
Menurutnya, aksi solidaritas memang sah dalam demokrasi. Namun, ketika penyampaian aspirasi berubah menjadi kerusuhan, justru akan menodai tujuan mulia dari kebebasan berpendapat itu sendiri.
“Unjuk rasa adalah hak konstitusional, tapi bila dilakukan dengan cara merusak dan menimbulkan keresahan, maka itu melanggar hukum. Justru merugikan semua pihak dan menjauh dari cita-cita menciptakan Indonesia yang bersatu, berdaulat, dan sejahtera,” tegas Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Pesantren Darul Ulum Jombang (Yapetidu) ini.
Ia mengimbau, APTISI ini mencerminkan realitas bahwa kampus swasta di Jawa Timur tidak bisa dipandang sebelah mata dalam dinamika sosial-politik. Data APTISI menunjukkan, lebih dari separuh mahasiswa di Jawa Timur menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta. Artinya, potensi keterlibatan mereka dalam aksi-aksi massa cukup besar.
Sejumlah rektor PTS yang dihimpun duta.co mengakui, pasca tragedi di Jakarta, komunikasi internal kampus ditingkatkan. “Kami mengajak mahasiswa duduk bersama, mendengarkan keluh kesah mereka, sekaligus mengarahkan agar aspirasi tetap disalurkan secara sehat. Kami tidak ingin kampus justru kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog,” ujar salah satu rektor PTS di Surabaya yang enggan disebutkan namanya.
Di satu sisi, lanjutnya, gerakan mahasiswa selalu identik dengan idealisme, keberanian bersuara, dan kontrol terhadap kekuasaan. Namun di sisi lain, tanpa pendampingan yang matang, idealisme ini rawan dibajak oleh kepentingan politik jangka pendek. “Inilah yang perlu diantisipasi. Jangan sampai mahasiswa kita hanya jadi pion di medan politik, lalu ditinggalkan begitu saja setelah kerusuhan terjadi,” kata Gus Zuem menambahkan.
Dengan kondisi ekonomi yang tengah sulit, keresahan sosial kian mudah menyulut aksi-aksi spontan. Maka, peran kampus swasta bukan hanya mencetak sarjana, tapi juga menjaga agar energi mahasiswa tetap tersalurkan ke hal-hal produktif dari ruang akademik, forum ilmiah, hingga advokasi kebijakan publik yang damai.
“Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Jangan sampai mereka terjebak dalam tindakan anarkis. Justru mereka harus tampil sebagai teladan dalam menjaga persatuan dan perdamaian,” pungkasnya. (din)





































