SURABAYA | duta.co — Kalau tidak ada aral melintang, InsyaAllah Sabtu dan Minggu (4 Januari 2026), tiga dzurriyah muassis NU menggelar napak tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama dari Bangkalan sampai Jombang.

“Penting! Apalagi dalam kondisi sekarang. Eksistensi NU pada hakekatnya sangat historis dan tidak a-historis. Artinya bahwa perjalanan NU sejak lahirnya dan perjalanan selanjutnya tidak bisa lepas dari persoalan intisyarah dan istikharah. Ini ide bagus untuk membangkitkan semangat nahdliyin dalam ber-NU yang benar,” demikian disampaikan Prof Dr KH Rochmat Wahab kepada duta.co, Selasa (30/12/2025)

Berkaitan dengan intisyarah ini, tambahnya, bahwa NU diawali dengan gagasan dan usaha pendirian kelompok diskusi yang diberi nama Tashwirul Afkar atau kawah candradimuka pemikiran, ada juga yang menyebutnya Nahdlatul Fikr atau kebangkitan pemikiran pada tahun 1914 yang digawangi KH A. Wahab Chasbullah.

“Selanjutnya beliau bersama para kiai mendirikan organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916 dan Nahdlatut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada 1918. Selain itu juga membentuk Komite Hijaz yang diharapkan dapat merespon persoalan keagamaan pada tataran global. Inilah yang menjadikan embrio pendirian NU,” tambah Ketua Tanfidziyah PWNU DIY masa bakti 2011-2016 tersebut.

Menurut Prof Rochmat, menyadari akan kondisi ini, maka muncullah gagasan KH A. Wahab Chasbullah untuk mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang kemudian disampaikan kepada KH M Hasyim Asy’ari.

“Selanjutnya Hadratusy Syeh melakukan istikharah, yang justru hasilnya lewat Syaikhana Cholil Bangkalan pada ujung tahun 1924 dengan menyuruh KH As’ad Syamsul Arifin untuk mengantarkan tongkat agar disampaikan ke KH Hasyim Asy’ari,” kenangnya.

Penyampaian tongkat tersebut, tambah Prof Rochmat, disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa as. Pada ujung tahun 1925, KH As’ad Syamsul Arifin kembali diutus Syaikhona Kholil untuk mengantarkan tasbih yang dikalungkan ke KH Asad Syamsul Arifin lengkap dengan bacaan Asmaul Husna (Ya Jabbar, Ya Qahhar). “Setelah mendengar lantunan itu, Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata: “Allah swt telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyah NU”. Ini luar biasa. Jadi, sebagai jam’iyah, NU tidak sembarangan,” tegasnya.

Maka, harus dimaklumi bahwa berdirinya jam’iyah NU merupakan respons dari berbagai problem keagamaan, peneguhan mazhab, dan alasan-alasan kebangsaan, sosial dan masyarakat.

“Mengapa KH Hasyim Asy’ari yang dipercaya menjadi penentu formal pendirian NU, karena posisi Kiai Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa), menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional, dan peran kebangsaan beliau yang begitu penting,” urainya.

Nah, akhirnya bahwa napak tilas menjadi penting bagi kita untuk mengenang dan menghargai perjuangan para kiai dalam melahirkan jam’iyah NU. Untuk itu perlu keterlibatan semua dalam menjaga dan memajukan jam’iyah NU untuk ummat Islam, bangsa Indonesia dan kemanusiaan.

“Agar NU tetap eksis dan terus bisa berkontribusi, maka ikhtiar intisyarah (horizontal) dan istikharah (transendental) perlu terus diupayakan. Semoga Napak Tilas ini bisa memberikan inspirasi dan dampak kebaikan yang tak ternilai.,” pungkasnya. (*)

 

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry