
SURABAYA | duta.co – Bukan cuma melihat dari dekat, mereka juga mencatat sejarah panjang Nahdlatul Ulama (NU) di negeri tercinta, Indonesia. Senin, 22 Desember 2025, sebanyak 17 Kader IPNU dan IPPNU Ranting Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto, bertandang ke Gedung Museum NU di Surabaya.
“Ya mereka ingin menggali lebih depat tentang sejarah perjuangan kiai-kiai NU, baik dalam menghidup Islam ala ahlussunnah wal jamaah, maupun dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesai. Semangat kiai dalam membela negara, atau semangat kebangsaan (wathoniyah) ini perlu diwariskan kepada seluruh anak bangsa,” tegas Samsudin Budi Pratama, mahasiswa jurusan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang sedang magang di Museum NU, Ahad (25/12/25).
Samsudin bersama empat mahasiswa lainnya, Adam Arya Ahmadi, Ajeng Retno Sari, Yosep Mario Tato Dwi P dan Nisrina Naya Dewi memang sering menemui kunjungan. Menurutnya, akan lebih bagus kalau Museum NU menyiapkan buku gratis tentang sejarah NU. “Akan lebih (bisa) mematri ingatan anak-anak bila disiapkan buku menarik. Kunjungan pelajar ke Museum NU luar biasa, dan harus disambut dengan baik,” tegasnya.

Menurut Samsudin, selain IPNU, IPPNU, mahasiswa kampus, juga banyak dari pelajar SD, MI, SMP. “Selain itu juga ada masyarakat umum. Bicara soal NU, bukan sekedar bicara soal agama, jamiyah ini memiliki kontribusi yang besar dalam kemerdekaan Indonesia,” tambahnya.
Hal yang sama dirasakan oleh Ketua IPNU Temuireng, Kecamatan Dawarblandong, Mojokerto Alfarid dan Ketua IPPNU Yasmi Putri Nurohmah. Mereka sengaja mengajak 17 kader untuk mempelajari ‘Sejarah Perkembang Islam di Indonesia’. “Kami sengaja mengajak rekan-rekanita untuk mengunjungi Museum NU,” tegas Alfarid.
Tujuan kunjungan ini, tegasnya, untuk mempelajari dan mengenal ke-NU-an, sebagai upaya memperkuat pemahaman sejarah, nilai, dan peran Nahdlatul Ulama dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan. “NU telah memberikan kontribusi besar dalam kemerdekaan. Pendiri NU almaghfural KH Hasyim Asy’ari sampai mengeluarkan resolusi jihad untuk melawan penjajah,” tambah Samsudin.
Ia mencatat peran NU, selain nasional juga peran global. “Ada fakta sejarah, Raja Saud sampai kirim surat tertulis atas tuntutan kiai-kiai NU, agar Makkah dan Madinah memperbolehkan empat madzhab diamalkan di sini, bukan hanya Wahabi saja. Ini luar biasa, bisa membuat hati Raja Saud luluh,” pungkasnya, (mky)





































