Oleh: Suparto Wijoyo*

GELEMBUNG Pemilu menuju 17 April 2019 tampak pecah di sana-sini sebagai manifestasi bahwa persaingan para kandidat yang berhulu “di kamar” Parpol telah menyeret-nyeret Ormas. Meminta-minta jatah menteri sudah terdengar dan “kebenaran sepihak” dideklarasikan dengan implikasi ada yang dituding salah karena diposisikan sebagai liyan.

Kondisi ini semakin mengembang dengan kendali di masing-masing komunitas, termasuk keputusan sebuah Parpol yang oleh Cak Mispon, teman setia saya yang memberikan “terang bulan maupun bintang” yang meredup cepat. Calegnya dan pimpinan tertinggi Parpol itu bersitegang dan Cak Mispon tersenyum betapa sang guru yang besar namanya itu terpotret berkubang dalam denyut nadi yang tidak menyentuh kesadaran pemilihnya sendiri. Dia terbaca tidak paham “bisikan jemaahnya”.

Di tengah situasi yang penuh “ontran-ontran politik” yang artifisial sampai coblosan digelar, ada sisik-melik kekuasaan yang tetap harus dipahami sepenuh makna. Pakde Karwo, gubernur Jawa Timur, terlihat memungkasi masa jabatannya dengan prestasi dengan kelindan tidak memasuki ruang-ruang kompetisi nasional.

Itu yang kasat mata dan mudah terbidik oleh awam meski semua banyak yang menilai bahwa “keuletan politiknya” memberikan “tarian yang selalu indah”. Kancah nasional tergelar dengan ritme yang sangat berlanggam tanpa hentakan. Suasana harmonis jajaran Forpimda dan rakyat Jatim adalah capaian berdemokrasi yang memenuhi karakter Jatim. Keguyuban dirasakan dan seruak gaduh dapat dikanalisasi memasuki arus  yang benar sehingga semua tersadar bahwa Jatim dijaga bersama.

Dalam hari-hari ini, seluruh gubernur di Indonesia menoleh ke Jatim. Penggelaran acara Penghargaan APPSI Gubernur Award 28 Januari 2019 seolah memungkasi kinerjanya yang diagendakan untuk kesejahteraan wong cilik. Agenda ini  seperhaluan sebagai simbol kemampuannya selaku “Pakdene Para Gubernur”.

Sejak 2 Juli 2018 Pakde Karwo MEMANG menjabat Ketua Umum APPSI (Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia) untuk periode 2015-2019. Posisi ini sangat strategis dan langsung mengusung  Program Ekspedisi Jalur Darat 34 Gubernur, dari Aceh sampai Papua. Sebuah ornamen programatik yang menjalin keutuhan NKRI dan mozaik peneguhan Indonesia yang sangat nyata. Peran ini dimainkan begitu cantik dan tentu menyentuh titik-titik “eksotisme kebangsaan”. Program yang “menggenggam hati” seluruh gubernur di Indonesia dengan pengakhiran kegiatan ekspedisi dalam sesi Gubernur Award tempo hari itu.

Atas capaian dan posisi itu banyak kawan dari kampus negeri maupun swasta dari Sabang sampai Merauke yang selama ini membangun komunikasi dan menulis buku yang mengapresiasi gagasan-gagasan praksis pemerintahan model Pakde Karwo, langsung “menyembulkan angannya”: adakah Pakde Karwo benar-benar hendak melaju ke pentas nasional sambil menyimak diam-diam  kontestasi Pilpres?

Saya hanya mampu “terdiam dalam keriuhan” dengan isyarat “tunggu saja sampai waktunya tiba” sambil membeber bahwa kalaulah jabatan Ketum APPSI itu dibaca sebagai “instrumen menggulirkan” roda jelajahnya Pakde Karwo ke wilayah yang sangat sensitif itu, maka saya dengan penuh kesantunan menyatakan: “tidaklah demikian adanya”.

Perlu diketahui bahwa jabatan Ketua Umum APPSI dan ratusan Award yang selama ini diraih itu merupakan salah satu bagian saja dari sisi kronikal yang telah disematkan kepada Pakde Karwo. Berbagai capaian nasional dan internasional sudah seabrek-abrek diraih oleh Pakde Karwo. Simak saja waktu 27 Maret 2018, pun Pakde Karwo mendapatkan penghargaan Indonesia Visionary Leader (IVL) dalam kategori Best Overall.

Inovasi-inovasi yang dilakukan Pakde Karwo dinilai pada ritme kepemimpinan yang partisipatoris untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Ide-ide visioner dalam mengintegrasikan peran pemerintah, BUMN, dan swasta untuk membangun daerah, melangkah menumbuhkan entrepreneurship, mengajak pelaku partikelir memajukan wilayahnya, ada di “jalan yang lurus”.

Penghargaan ini  melengkapi daftar panjang ratusan “sanjungan” nasional maupun internaisonal yang telah disemat penuh hormat.  Kepemimpinan dan inovasi Pakde Karwo  disorot on the track. Di samping pertumbuhan ekonomi yang inklusif, kesejahteraan yang meningkat, secara administratif-organisatoris birokrasi terbukti manfaat dengan mendapatkan  Leadership Award dan Innovative Government Award 2018, juga di tahun sebelumnya 2017.  Semua ini memberikan optimisme hadirnya kepemimpinan dan inovasi pemerintahan terutama di Jatim di tengah-tengah maraknya berita tentang “paslon tersangka korupsi” menang Pilkada.

Terhadap penghargaan dimaksud, Cak Mispon pasti memiliki pandangan yang bersifat persepsional atas suguhan menu yang dihidangkan dengan cita rasanya. Tetapi yang jelas  terdapat satu komitmen betapa pemimpin perlu hadir guna melayani dengan filosofi harmoni yang selayaknya dikonstruksi.

Idealitas itu terbangun di antara pemimpin dan rakyat yang bersemangat untuk meningkatkan  martabatnya. Dalam menghadapi situasi internasional apapun,  sejatinya warga diajak bijak oleh Pakde Karwo  untuk bersama-sama siap membuka pintu gerbang kehidupan global. Kesigapan untuk mencapai  masa depan yang lebih baik harus digelorakan oleh seorang pemimpin, dan Pakde Karwo terpanggil melakukan itu agar Jatim ambil bagian secara aktif di panggung  dunia sebagai regional champion.

Untuk itulah  para pemimpin di seluruh  Indonesia  niscaya tidak akan membiarkan rakyatnya tanpa panduan, apalagi para Capres.  Capres harus dapat mengambil prakarsa untuk mengarungi masa depan hari ini seperti diungkapkan oleh Peter Senge dan kawan-kawannya dalam buku The Necessary Revolution: “… the future is now”. Dan tersadari  dengan sungguh-sungguh diafirmasikan “the leadership required to create a regenerative society”.

Saya setuju dengan Cak Mispon, inilah momen di mana  khalayak ramai mutlak menyimak   kecakapan para Capres-Cawapres dengan “pikiran-pikiran yang tidak  ecek-ecek”. Pemimpin harus memulai dengan gagasan-gagasan besar agar sebuah bangsa tumbuh berdaya saing  besar. Waktu  silaturahmi dengan BUMD Jatim di Grahadi 30 Januari 2019 kemarin, Pakde mengajak mengkonstruksi pelayanan terbaik bukan untuk saat ini, tetapi terbaik di esok hari.

*Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum &  Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.