Teranisa Nabilah Balqis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember. DUTA/istimewa

SURABAYA | duta.co – Aplikasi Sampahqu yang menjadi ide dari mahasiswa Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) menjadi juara pertama writing competition Beswan Djarum.

Karya tulis Teranisa Nabilah Balqis itu dipilih sebagai pemenang pertama secara nasional untuk katagori noneksakta bersama Widya Wijaya Kusuma Putri dari Universitas Surabaya (juara kedua) dan Lidya Ametha Karina dari Universitas Sumatera Utara (juara ketiga).

Walau sempat grogi di atas panggung saat presentasi di depan juri, namun Tera mampu mengatasinya.

Diakuinya, saat dia duduk di ballroom untuk berkompetisi, Tera cuma duduk di setengah kursi. Ketika mendengar namanya dipanggil, pointer presentasinya sempat mati.

Dari sana, Tera mengalu blank. “Saya sempat bingung berapa detik dan cuma terdengar suara gemetar. Untung saat closing, saya bisa menyelesaikan dengan baik,” jelasnya.

Beruntung, saat diskusi Tera benar-benar menjawab pertanyaan tentang sampah yang memang sudah sering dipelajarinya di kampus karena memang ada mata kuliah tentang sampah. “Alhamdulillah semua berhasil dengan baik,” tandasnya.

Dengan keberhasilan ini, Tera mengaku aplikasi Sampahqu ini tidak akan berhenti hanya di tulisan. Bersama dosen pembinanya, dia berniat untuk mewujudkan aplikasi ini ke tingkat pemerintah daerah.

“Saya akan berupaya mewujudkannya. Sehingga sampah di Surabaya ini benar-benar ada solusinya,” tukasnya.

Di aplikasi Sampahqu ini, Tera ingin memberikan solusi bagaimana masyarakatt memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menjadi nasabah bank sampah.

Selama ini, nasabah bank sampah di Surabaya khususnya harus mendatangani bank sampah yang ada untuk menyetorkan sampah-sampah keringnya.

Langkah ini dianggap tidak efektif karena masyarakat biasanya malas untuk mendatangi bank sampah karena jarak yang sangat jauh.

“Dengan aplikasi ini, masyarakat tinggal menggunakan aplikasi, petugas bank sampah yang akan mengambil sampah-sampah keringnya,” jelasnya.

Para peserta Writing Competition tersebut, Djarum Foundation dibantu oleh pakar, akademisi, praktisi komunikasi hingga pelaku bisnis untuk menjadi dewan juri.

Tahun ini, format Dewan Juri Nasional berisikan nama-nama yaitu Prof. Ir. Jamasri, Ph.D (Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada), Indra Bigwanto (Co-Founder Opini.id), serta Uni Lubis (Pemimpin Redaksi IDN Times).

Di hadapan para dewan juri, setiap peserta diberikan waktu selama 20 menit untuk mempresentasikan ide atau gagasan mereka. Setelah itu, dewan juri diberikan waktu 20 menit untuk melakukan sesi tanya jawab kepada peserta.

Tak sampai di sana, sesi tanya jawab selama 20 menit juga diberikan kepada peserta lain yang ingin menggali lebih dalam tentang gagasan atau ide yang dipresentasikan. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.