Ima Kurniastuti, MT
Dosen Sistem Informasi, FEBTD

DI tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, dunia kesehatan ikut mengalami transformasi besar. Salah satu inovasi yang paling dirasakan masyarakat saat ini adalah hadirnya aplikasi kesehatan, yaitu sistem informasi berbasis digital yang memungkinkan pasien untuk terhubung langsung dengan layanan medis melalui ponsel pintar.

Dengan aplikasi seperti Halodoc, Alodokter, hingga aplikasi pemerintah seperti SatuSehat, masyarakat tidak perlu lagi mengantre berjam-jam di rumah sakit hanya untuk bertemu dokter. Cukup lewat genggaman tangan, konsultasi bisa dilakukan secara online, resep bisa dikirim secara digital, dan bahkan hasil laboratorium bisa langsung diakses dari rumah.

Ini bukan hanya soal kemudahan, tapi juga soal efisiensi waktu dan biaya.
Tak hanya untuk konsultasi, aplikasi kesehatan juga banyak digunakan untuk memantau kondisi kesehatan harian, seperti tekanan darah, detak jantung, atau jumlah langkah kaki.

Beberapa aplikasi bahkan dilengkapi pengingat minum obat dan informasi seputar gaya hidup sehat. Ini membuat masyarakat bisa lebih sadar dan aktif dalam menjaga kesehatannya sendiri, tanpa harus menunggu sakit terlebih dahulu.

Namun, seperti dua sisi mata uang, kemajuan teknologi ini juga membawa tantangan tersendiri. Salah satu yang paling disorot adalah keamanan data pribadi pasien, karena aplikasi ini menyimpan informasi sensitif yang tidak boleh disalahgunakan.

Di samping itu, belum meratanya akses internet dan rendahnya literasi digital di beberapa daerah menjadi tantangan lain yang perlu dibenahi bersama.

Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa aplikasi kesehatan telah membuka jalan bagi sistem pelayanan medis yang lebih cepat, tepat, dan terjangkau.

Jika dimanfaatkan dengan bijak dan disertai perlindungan data yang baik, aplikasi kesehatan akan menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat, produktif, dan melek teknologi. Inilah langkah nyata menuju kesehatan modern yang inklusif, di mana siapa pun bisa merasakan manfaat layanan medis tanpa hambatan jarak dan waktu.

Menariknya, kemampuan untuk merancang dan mengembangkan aplikasi kesehatan seperti yang digunakan masyarakat saat ini bukanlah hal yang mustahil untuk dipelajari. Di Program Studi Sistem Informasi Fakultas Ekonomi Bisnis dan Teknologi Digital (FEBTD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), mahasiswa dibekali dengan ilmu computer yang up to date.

Melalui kurikulum yang adaptif dan berbasis kebutuhan industri, mahasiswa Sistem Informasi Unusa tidak hanya belajar tentang pemrograman dan data, tetapi juga diajak untuk memahami bagaimana teknologi bisa diterapkan langsung untuk memecahkan persoalan nyata di masyarakat.

Salah satu fokus pengembangannya adalah teknologi untuk layanan kesehatan berbasis digital, yang kini semakin dibutuhkan baik oleh masyarakat maupun institusi kesehatan.

Bagi generasi muda yang ingin berkontribusi nyata dalam masyarakat melalui jalur teknologi, bergabung di Prodi Sistem Informasi FEBTD Unusa adalah langkah yang tepat.

Di sinilah tempatnya calon inovator digital dibentuk—bukan hanya pintar dalam teknologi, tetapi juga beretika, berpikir kritis, dan siap berperan membangun masyarakat yang lebih sehat dan cerdas.*

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry