
GRESIK | duta.co – Upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM) kini semakin mudah berkat hadirnya aplikasi digital.
Di Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, masyarakat telah mencoba sebuah inovasi berupa aplikasi Adem Gluacho. Aplikasi ini berfungsi membantu warga mencatat hasil pemeriksaan kesehatan secara mandiri, mulai dari kadar gula darah, asam urat, hingga kolesterol.
“Sebelumnya, warga terbiasa menulis hasil pemeriksaan secara manual di buku catatan, yang kerap membuat data tercecer atau sulit dipantau secara berkelanjutan,” kata Ima Kurniastuti, salah satu dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), yang membuat inovasi ini.
Kini, semua catatan tersebut bisa tersimpan rapi dalam aplikasi, sehingga lebih praktis dan aman.
Program uji coba aplikasi di Banjarsari diikuti oleh warga berusia 25–55 tahun. Mereka diajak untuk mencoba langsung bagaimana cara mencatat hasil pemeriksaan melalui ponsel. Hasil evaluasi menunjukkan respons yang positif.
Banyak warga merasa lebih percaya diri karena dapat melihat perkembangan kondisi kesehatan mereka sendiri secara lebih terstruktur. Aplikasi ini secara langsung mampu memberikan manfaat nyata dalam proses pencatatan hasil pemeriksaan kesehatan.
Tidak berhenti sampai di situ, tim pelaksana dari Program Studi S1 Sistem Informasi Unusa juga mengadakan program pendampingan penggunaan aplikasi.
Melalui sesi pelatihan, warga diajari langkah demi langkah, mulai dari cara mengunduh aplikasi, menginput data, hingga membaca hasil pencatatan kesehatan. Dampaknya sangat terasa seperti keterampilan masyarakat dalam mengoperasikan aplikasi meningkat hingga 75% setelah mengikuti pendampingan ini.
Selain itu, kuesioner pre-test dan post-test yang dibagikan kepada peserta menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 70% terkait pemanfaatan teknologi untuk memantau penyakit tidak menular (PTM).
Dengan kata lain, masyarakat tidak hanya lebih terampil menggunakan aplikasi, tetapi juga semakin paham bahwa teknologi bisa menjadi solusi nyata dalam menjaga kesehatan.
Salah satu warga Banjarsari mengaku senang dengan adanya aplikasi ini. “Biasanya saya lupa mencatat hasil cek gula darah. Sekarang cukup buka aplikasi, semua data tersimpan. Jadi lebih mudah kalau mau konsultasi ke bidan atau dokter,” ujarnya.
Tenaga kesehatan desa pun menyambut baik inovasi ini. Dengan adanya pencatatan digital, mereka lebih mudah memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat. Hal ini penting untuk mendeteksi dini penyakit tidak menular, yang seringkali muncul tanpa gejala namun berisiko serius bila tidak dikendalikan sejak awal.
Serangkaian kegiatan ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang mendapatkan sumber pendanaan dari Direktorat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset Dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia 2025.
Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, warga desa banjarsari menjadi lebih terampil dan memiliki pengetahuan yang lebih mengenai aplikasi pemantauan penyakit tidak menular.
Dengan meningkatnya keterampilan dan pengetahuan warga, Desa Banjarsari bisa menjadi contoh bagaimana kolaborasi teknologi, masyarakat, dan tenaga kesehatan mampu membuka jalan menuju masyarakat yang lebih sehat, modern, dan mandiri. ril/hms








































