Oleh: Dr Sama’ Iradat Tito SSi MSi*
(Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Islam Malang)

THERMO gun adalah sebuah termometer untuk mengukur suhu benda dengan jalan menilai besarnya radiasi total. Secara teoritis, sebuah benda yang mempunyai panas akan memacarkan radiasi dan cahaya disekelilingnya. Semakin tinggi suhu suatu benda tersebut maka semakin besar radiasi dan intensitas cahaya yang dipancarkan. Dengan demikian, suhu suatu benda dapat ditentukan tanpa menyentuh benda tersebut.

Termometer ini marak digunakan di berbagai pintu masuk ruang publik atau pun perkantoran. Hal ini dilakukan demi memastikan semua orang yang masuk ke dalam ruangan publik tidak memiliki gejala-gejala COVID-19. Penggunaan termometer ini sangat efektif untuk mendapatkan pembacaan yang cepat, sesuai dengan kebutuhan screening di pintu masuk yang mempunyai lalu lintas yang tinggi.

Saat ini terdapat isu yang menyatakan bahwa radiasi laser thermo gun berbahaya untuk otak oleh Dr. Ichsanuddin Noors, BSc. SH. MSi dalam wawancara Helmy Yahya. Adapun perlu peng-ulasan lebih mengenai hal ini terkait dengan bidang biofisika dan instrumentasi biomedik yaitu:

Asumsi pertama, Tipe thermo gun yang tersedia di pasaran sebenarnya ada dua yaitu  thermo gun yang dikhususkan untuk keperluan industri yaitu untuk mengukur temperatur benda sampai suhu hingga yang sangat panas (>100 °C) misalnya mesin, kabel, dan seterusnya.  thermo gun jenis berikutnya adalah yang dikhususkan untuk keperluan medis yaitu untuk mengukur suhu tubuh manusia (<42.50 °C). Hal ini harus dipahami betul untuk mengetahui secara peruntukannya. Thermo gun untuk industri kurang tepat untuk pengukuran tubuh manusia dan juga sebaliknya.

Kesalahan dalam pembacaan thermo gun dalam kasus suhu 36°C ke bawah juga dapat terjadi karena adanya faktor lingkungan seperti cahaya matahari karena cahaya matahari selain memberikan pancaran sinar UV namun juga memberikan pancaran infra merah. Oleh karena itu disarankan untuk pengukuran thermo gun digunakan di tempat yang teduh.

Asumsi kedua, Kata laser dimulai sebagai akronim untuk “amplifikasi cahaya oleh stimulasi emisi radiasi”. Dalam penggunaan kata-kata ini, istilah “cahaya” termasuk radiasi elektromagnetik dari frekuensi apa pun, tidak hanya cahaya tampak, oleh karena itu istilah laser inframerah, laser ultraviolet, laser sinar-X hingga laser sinar gamma, kesemuanya menggunakan kata kata laser. Sehingga ada keambiguan dalam penggunaan kata tersebut. Untuk Themo gun hanya berbasis infra merah dan tidak ada yang lain.

Asumsi ketiga, Setiap benda elektronik memiliki spesifikasi ukuran banyaknya energi gelombang yang memungkinkan dapat diserap dan dapat menembus kedalam bagian tubuh tergantung pada besaran elektron volt dan seberapa dekat benda elektronik tersebut dengan bagian tubuh yang disebut SAR (Spesific Absorption Rate). Semakin kecil elektron volt yang digunakan oleh benda eletronik tersebut maka semakin kecil radiasi gelombang yang dapat diserap dan mampu menembus bagian tubuh, begitu pula dengan jarak. Spesifikasi thermo gun hanya sekitar 6 V sehingga belum mampu untuk diserap dan menembus kulit manusia dengan baik karena gelombang yang mampu diserap dan menembus kulit manusia berkekuatan lebih besar dari 65 KeV. Jika radiasi berhasil menembus tubuh, maka dapat dipastikan akan dapat mengionisasi jaringan-jaringan yang dilewatinya sehingga menyebabkan terjadinya perubahan sifat dan fungsi sel.

Spektrum gelombang elektromagnetik dibagi menjadi dua bagian yaitu: 1) Radiasi pengion adalah radiasi elektromagnetik yang berkisar antara panjang gelombang terpendek hingga sekitar beberapa nanometer yang mencakup UV, sinar-X dan sinar gamma. Radiasi pengion cenderung mempunyai efek yang merugikan karena radiasi ini dapat mengionkan bahan atau jaringan biologis yang dilewatinya. 2) Radiasi non pengion adalah  radiasi elektromagnetik yang memiliki panjang gelombang lebih panjang dari tipe radiasi pengion. Radiasi non pengion meliputi cahaya tampak, dan sinar infra merah, serta gelombang yang berfrekuensi antara 3 MHz hingga 300 GHz yang jauh lebih aman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa thermo gun aman untuk otak.

Sistem komunikasi yang terintegrasi yang baik dibutuhkan dalam perencanaan menghadapi musibah Covid-19 dengan lebih matang. Sistem komunikasi terukur untuk menyebarkan informasi, sosialisasi prosedur atau teknik pemilihan dan pemakaian alat kepada masyarakat umum, merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan. “Mereka bilang waktu genting membutuhkan tindakan darurat, namun kita tidak boleh tergesa-gesa sehingga memilih dan melakukan sesuatu yang kurang efektif dan kurang akurat” – Jim Seffrin.

*Penulis adalah Kepala Pusat Studi Kelestarian Dan Keseimbangan Lingkungan (PUSDI K2L) FMIPA Unisma Malang dan Anggota Perhimpunan Biologi Indonesia (PBI)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry