H Abdul Rozaq saat di Museum NU (FT/MKY)

“Kalau soal dugaan adanya pembelokan aqidah aswaja di PBNU, politisasi organisasi, liberalisme dan sekulerisma, toh tidak sedikit kiai, habaib, dzurriyah muassis NU yang mengkritik soal itu.”

Oleh Abdul Rozaq*

SUSAH! Kalau dasarnya tidak suka. Bicara apa pun, salah. Ini yang dihadapi Ustad Abdul Somad (UAS) di mata para pembencianya. Ironisnya, di antara pembenci itu, banyak warga nahdliyin.

Saya teringat pesan mbah-mbah saya, dulu. Jangan menilai seseorang, ketika Anda tidak suka orangnya. Hasilnya, pasti salah. Meski dia bilang ‘langit itu di atas’, Anda pasti menyangkalnya. Karena dasarnya, tidak suka pada orangnya.

Hari ini, kita banyak membaca  tulisan dan komentar di media sosial yang menyindir dan mengecam langsung UAS. Gegaranya, dia menyebut virus Corona atau COVID-19 sebagai tentara Allah. Apalagi dikaitan Muslim Uighur yang ditindas pemerintah China.

UAS sampai merasa perlu memberikan klarifikasi terkait ceramahnya yang menyebut virus Corona atau COVID-19 sebagai tentara Allah. UAS mengatakan, dulu, saat datang tentara Abrahah mau menghancurkan Kakbah, maka, ‘Wa arsala ‘alaihim thoiron ababil’ (Kami kirimkan kepada mereka thoiron ababil).

“Tafsirnya menurut Syekh Muhammad Abduh, thoiron ababil itu, wabah penyakit campak. Jadi bukan burung dari atas. Itu tafsir,” terang UAS kepada awak media di sela-sela acara Islamic Blok Fair di JCC Senayan, Jakarta Pusat.

Menurut dia, dalam suatu tafsir, disebutkan jika wabah yang dimaksud merupakan tentara Allah. Wabah penyakit itu, salah satu tentara Allah untuk menolong hamba Allah.

Nah, virus Corona atau COVID-19, jelas UAS, merupakan salah satu tafsir saja. Namun, menurut dia, ADALAH SALAH jika kita menilai tafsir itu menjadi satu-satunya yang benar.

Jadi? Yang mengatakan itu tentara Allah mengaitkan dengan penyiksaan yang terjadi pada muslim Uighur, adalah salah satu interpretasi saja. Kalau disebut satu-satunya interpretasi, jelas tidak benar. Salah satu interpretasi. Harus dipahami demikian.

Lalu apa yang salah? Tidak ada. Sebagai tafsir, sah-sah saja. Masalahnya interpretasi  itu dimaknai satu-satunya yang benar. Berita yang sampai ke publik, demikian, tidak utuh. Maka, bisa menjadi fitnah.

Apalagi ketika informasi itu jatuh di telinga para pembecinya.  Maka, distorsi tersebut digoreng sampai gosong. Apa salah UAS? Bicara corona pun kalian kecam.

Jalur Tabayyun Buntu

Saya membaca tulisan Nasrudin Rahmat (Lakpesdam PCNU Kota Pekalongan) di https://www.kompasiana.com/nasrudinrahmat6752/5b9bf609ab12ae39766eca85/apa-salah-uas?page=all. Dia sempat memuji UAS yang aqidahnya sama (NU), aqidah Al-Asy’ariyah  Al-Maturidiyah, apalagi dia juga masuk struktural kepengurusan di NU. Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Riau.

Di sisi lain dia mengrikitik UAS karena melupakan (budaya) tabayyun ketika larut menuduh KH Said Aqil terpapar syiah, pembelaannya terhadap khilafah (tak pernah dicabut), pun dakwahnya distigma (rasa) HTI.

Tetapi, Nasrudin Rahmat juga mengajak kita: Jika mau memperhatikan dengan seksama, hadirnya UAS  sedikit banyak telah memberikan pengertian kepada ulama-ulama  Salafi-Wahabi, minimal, mereka yang dulunya lantang menyuarakan “yang tidak dicontohkan nabi adalah bid’ah sesat masuk neraka”, sekarang sudah agak halus “okelah itu boleh dan baik, tapi kan… “.

Akibatnya: Bagi ulama  Salafi-Wahabi yang masih tetap kolot dengan pendiriannya, mereka menyebut UAS dengan “Ustadz Subhat”, padahal di sebagian warga nahdliyin  sendiri UAS sudah diberikan sebutan “Ustadz Hoax”.

Yang menarik, Nasrudin Rahmat membuat pertanyaan: Jika ada yang bertanya, “Kapan kesalahpahaman antara UAS dengan  sebagian kaum nahdliyin (khususnya Banser) bisa selesai?”, maka jawab  saja, “Jika UAS sudah sowan ke Pekalongan dan bertemu dengan Habib Luthfi”. Wallahu a’lam bishshowab…

Gegara Junjungan Politik

Oh iya? Harapan Nasrudin Rahmat kebencian terhadap UAS sirna, setelah sowan Habib Luthfi, tidak menjadi kenyataan. Buktinya, UAS sudah safari ke sejumlah kiai sepuh NU, dari Almaghfurlah KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), Almaghfurlah KH Maimun Zibair,  termasuk ke pemimpin Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), Habib Luthfi bin Yahya. Bahkan Habib Luthfi telah memberikan gelar khusus ‘Syekh’ untuk Ustad Abdul Somad.

Dari kiri: Saat sowan Gus Solah, Mbah Maimun dan Habib Luthfi. (FT.sindo,republika dan inisiatifnews)

Tetapi, sampai detik ini, kecaman dan hujatan masih terus berlangsung. Lalu apa salah UAS? Sehingga sebagian warga nahdliyin begitu menggebu-gebu mengecam hampir seluruh isi taushiyah UAS? Apakah karena UAS tidak mau menjunjung tinggi ‘junjungan’ mereka?

Kalau soal dugaan adanya pembelokan aqidah aswaja di PBNU, politisasi organisasi serta tumbuhan liberalisme dan sekulerisma, toh tidak sedikit kiai, habaib serta dzurriyah muassis NU yang tergabung dalam Komite Khitthah NU 1926 mengkritik soal itu. Ini bisa dibaca dari buku ‘KESEIMPULAN TEBUIRENG’.

Kalau soal Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, apa iya para pembencinya itu lebih Pancasilais, lebih NKRI, lebih ber-Bhinneka Tunggal Ika dari pada UAS?  Kalau soal khilafah, apa para pembencinya sudah tabayyun kepada UAS,  apa yang dimaksud khilafah? Waallahu’alam. Semoga warga NU tidak tergelincir dalam ‘geng politik’, dengan mengkultuskan ‘junjungannya’, apalagi sampai menjelek-jelekkan orang lain, sekelas UAS. (*)

Surabaya, 17 Maret 2020

*Abdul Rozaq: Aktif mengikuti halaqah Komite Khitthah Nahldatul Ulama 1926.

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry