
SURABAYA | duta.co — Fluktuasi pasar keuangan global dan domestik yang kian dinamis mendorong sektor perbankan untuk memperkuat navigasi serta layanan berbasis kebutuhan spesifik nasabah. Memasuki semester II 2026, pemetaan strategi investasi dan pendekatan personal menjadi krusial, khususnya bagi nasabah segmen prioritas.
Hal tersebut mengemuka dalam Dinner Mid-Year 2026 Market Outlook and Update yang digelar PT Bank UOB Indonesia di Hotel Sheraton Surabaya, Senin (14/9/2026) malam. Gelaran ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan UOB untuk memberikan paparan market outlook terkini untuk membantu nasabah menavigasi dinamika pasar.
Dalam konteks makroekonomi, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyoroti ketahanan ekonomi Jawa Timur yang tetap kokoh meski dibayang-bayangi tekanan inflasi. Pada kuartal II 2026, ekonomi Jawa Timur mampu tumbuh sebesar 5,72 persen secara year-on-year (yoy). Secara kumulatif dari Januari hingga Juni 2026, pertumbuhan ekonomi Jatim bahkan mencapai 5,84 persen, tertinggi di Pulau Jawa.

“Jawa Timur menyumbang lebih dari 14 persen terhadap GDP nasional, di mana nominal GDP kita mencapai sekitar Rp930 triliun dalam satu triwulan,” ujar Emil.
Kontribusi terbesar disokong oleh sektor manufaktur (31,11 persen), perdagangan (trade) (18,22 persen), serta pertanian (agriculture) (11,2 persen).
Emil menegaskan bahwa tekanan inflasi di Jatim yang tercatat sebesar 0,34 persen (month-to-month) pada Agustus 2026—sedikit di atas inflasi nasional 0,21 persen—bukan disebabkan oleh kondisi ekonomi yang overheating, melainkan adanya hambatan atau bottleneck distribusi bahan pangan utama seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Oleh karena itu, langkah intervensi dan stabilisasi pasokan terus digalakkan.

Komitmen Market Outlook yang Timely dan Objektif
Menanggapi dinamika ekonomi dan gejolak pasar yang masih terus bergulir, ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menegaskan pentingnya menyajikan informasi pasar yang forward-looking dan tepat saat (timely).
“Nilai tambah dari UOB adalah literasi keuangan yang go beyond. Kami hadir memberikan strategic action dan advisory. Di sisa akhir tahun ini, gejolak pasar memang belum berhenti, sehingga fokus klien terus bergulir. Kami secara reguler memberikan update pasar berbasis data (data-driven) dan objektif agar nasabah lebih percaya diri (confident) dalam mengambil keputusan,” jelas Enrico.
Ia menambahkan bahwa iklim finansial yang bertanggung jawab sangat diperlukan agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat berlangsung secara berkelanjutan (sustainable).

Pendekatan Client-Centric dan Segmen Privilege
Dari sudut pandang perbankan ritel, Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo memaparkan bahwa pendekatan bisnis yang diterapkan UOB kini berfokus penuh pada prinsip client-centric.
“Tahun ini secara khusus UOB Indonesia menerapkan segmentasi dengan menambah fokus pada Affluent Client Group. Kami mengembalikan fokus kepada nasabah, khususnya nasabah privilege, dengan melihat kebutuhan mereka ketimbang sekadar menawarkan produk,” ungkap Herman.
Untuk mendukung kenyamanan nasabah, UOB mengusung tiga pilar utama: Ease of Service: Menghadirkan Client Advisor khusus yang bertindak sebagai satu titik kontak (dedicated single point of contact). Seluruh kebutuhan nasabah—mulai dari konsultasi investasi, kartu kredit, hingga pinjaman perumahan (housing loan)—dapat ditangani langsung oleh satu petugas. Kedua ada Wealth Advisory: Pemberian advis finansial yang relevan dan disesuaikan dengan kondisi pasar serta profil risiko nasabah.
Berikutnya, Lifestyle and Privilege: Memberikan keistimewaan serta nilai tambah eksklusif yang dirancang khusus bagi nasabah privilege UOB.

Herman menambahkan bahwa strategi segmentasi ini diterapkan secara berkesinambungan di seluruh jaringan UOB. Bank ini membidik pertumbuhan basis nasabah privilege hingga dua kali lipat dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.
Solusi Investasi Terpersonalisasi (Tailor-Made)
Melengkapi paparan tersebut, Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto menekankan pentingnya personalisasi layanan wealth management.
“Strategi investasi tidak diberikan secara seragam (one-size-fits-all). Kami melihat tahapan kehidupan (life stage), tujuan finansial, dan profil risiko masing-masing nasabah secara mendalam (risk profile). Setelah itu, baru kami berikan advice investasi yang di-tailor-made,” terang Emillya.
Meski nasabah privilege disiapkan layanan tatap muka secara dedicated melalui Client Advisor, UOB Indonesia juga menyediakan kemudahan layanan self-service melalui aplikasi digital TMRW. Saat ini, lebih dari 50 persen nasabah privilege UOB telah aktif memanfaatkan platform digital tersebut, seiring pesatnya kenaikan transaksi investasi berbasis digital dari tahun ke tahun.
Acara tersebut turut dihadiri oleh Regional Group Manager Jawa, Bali & Sulawesi UOB Indonesia Ibu Mei Sumiati beserta jajaran manajemen dan mitra pengembang regional. Melalui sinergi riset makroekonomi serta penguatan layanan personal, UOB Indonesia optimistis dapat mendampingi para nasabah dalam menjaga dan membiakkan portofolio aset mereka secara aman di tengah ketidakpastian pasar. Rid



































