
(Tanggapan atas Tulisan Kharisuddin Aqib berjudul: NU di Depan Gedung Muktamar NU 35: Waspada Penyakit ‘Wahn’ di Tengah Konstelasi Politik)
Oleh: Abdur Rahman El Syarif*
DI tengah dinamika menjelang Muktamar ke-35, setiap pandangan yang lahir dari kepedulian terhadap Nahdlatul Ulama layak disambut dengan kejernihan hati. Demikian pula tulisan Kharisuddin Aqib, yang menurut saya lebih tepat dipahami sebagai ajakan bermuhasabah daripada sekadar kritik terhadap dinamika organisasi. Sebab, organisasi sebesar NU hanya akan terus tumbuh apabila memiliki keberanian untuk mengoreksi dirinya sendiri. Sebagaimana cermin yang memantulkan apa adanya, muhasabah sering kali tidak menghadirkan kenyamanan, tetapi justru darinya lahir kesempatan untuk memperbaiki keadaan.</p>
Hadits Rasulullah ﷺ tentang penyakit wahn sesungguhnya bukan sekadar ramalan tentang akhir zaman. Ia adalah diagnosis spiritual yang berlaku sepanjang masa. Ketika cinta dunia mulai mengalahkan cinta kepada Allah, ketika jabatan lebih dicari daripada amanah, ketika pengaruh lebih diprioritaskan daripada keberkahan, dan ketika rasa takut kehilangan kedudukan lebih besar daripada rasa takut menghadap Allah, maka sesungguhnya penyakit itu sedang bekerja, baik pada individu maupun pada organisasi.
Namun demikian, penyakit wahn tidak boleh dipahami sebagai tuduhan kepada pihak tertentu. Ia adalah penyakit hati yang dapat menyerang siapa saja: ulama, umara, akademisi, aktivis, pengusaha, bahkan masyarakat biasa. Karena itu, pendekatan terbaik bukanlah saling menunjuk siapa yang sakit, melainkan saling mengingatkan agar seluruh keluarga besar NU tetap sehat secara ruhani.
Dalam konteks itulah, saya kurang sependapat apabila persoalan ini diposisikan seolah-olah terdapat pilihan antara negara dan pesantren. Sejarah NU justru membuktikan bahwa keduanya tidak pernah dipertentangkan.
Para muassis NU mencintai pesantren sekaligus mencintai Indonesia. Mereka mendidik santri agar menjadi ahli agama sekaligus warga negara yang bertanggung jawab. Mereka mempertahankan tradisi keilmuan, namun juga ikut mempertahankan kemerdekaan bangsa. Bahkan Resolusi Jihad menjadi bukti bahwa kecintaan kepada agama melahirkan pengabdian kepada negara.
Karena itu, negara dan pesantren bukanlah dua kutub yang saling menegasikan. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Negara membutuhkan suara moral dari pesantren agar kekuasaan tetap berjalan dalam koridor keadilan. Sebaliknya, pesantren membutuhkan negara yang kuat, adil, dan berpihak kepada kemaslahatan agar dakwah dan pendidikan dapat berkembang secara optimal.
Yang harus dijaga bukanlah jarak antara keduanya, melainkan kemurnian niat ketika membangun hubungan tersebut. Berdekatan dengan negara bukanlah kesalahan selama tetap menjaga independensi moral. Sebaliknya, menjauh dari negara pun bukan jaminan seseorang bebas dari penyakit dunia. Sebab penyakit wahn lahir bukan dari posisi, melainkan dari hati.
Di sinilah letak persoalan sesungguhnya.
Selama hati masih dipenuhi ambisi pribadi, maka apa pun ruang pengabdiannya dapat berubah menjadi alat memenuhi kepentingan diri. Jabatan organisasi menjadi kendaraan mencari keuntungan. Amanah publik berubah menjadi investasi politik. Bahkan mimbar dakwah pun dapat kehilangan ruh keikhlasannya apabila orientasinya bergeser kepada popularitas.
Sebaliknya, apabila hati bersih, maka jabatan setinggi apa pun justru menjadi ladang ibadah. Kekuasaan menjadi sarana pelayanan. Kedekatan dengan pemerintah menjadi kesempatan memperjuangkan maslahat umat. Kekayaan menjadi instrumen memperluas manfaat. Semuanya kembali kepada kualitas hati.
Karena itu, solusi paling mendasar terhadap penyakit wahn bukanlah sekadar memperbaiki sistem organisasi, meskipun sistem yang baik tetap diperlukan. Bukan pula sekadar menyusun aturan yang lebih ketat, walaupun tata kelola yang bersih merupakan keniscayaan.
Akar persoalannya berada di dalam jiwa. Sebab itu pula, saya memandang gagasan tentang Vaksin Thariqah sebagai inti dari seluruh ikhtiar perbaikan.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, terutama sebagaimana diwariskan para masyayikh pesantren, perjalanan menuju Allah selalu dimulai dengan Tazkiyatun Nafsi, yakni menyucikan jiwa dari penyakit-penyakit batin. Dengki, riya, ujub, tamak, cinta kedudukan, dan haus pujian adalah racun yang tidak terlihat, tetapi dampaknya jauh lebih berbahaya daripada kerusakan fisik.
Al-Qur’an menegaskan: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Ayat ini mengingatkan bahwa kemenangan hakiki bukanlah menang dalam pemilihan, bukan pula berhasil memperoleh jabatan, melainkan berhasil membersihkan jiwa.
Setelah itu dilanjutkan dengan Tashfiyatul Qalbi, yakni menjernihkan hati agar hanya dipenuhi cinta kepada Allah. Hati yang jernih akan mudah menerima nasihat, mudah meminta maaf, tidak haus sanjungan, dan tidak gelisah apabila kehilangan kedudukan.
Para ulama tasawuf sejak dahulu mengingatkan bahwa Allah tidak melihat seberapa tinggi jabatan seseorang, melainkan seberapa bersih hatinya. Karena itu, seluruh aktivitas organisasi pada akhirnya kembali kepada pendidikan hati.
Apabila penyakit wahn berakar pada hati, maka penyembuhannya pun harus dimulai dari hati. Dalam khazanah Ahlussunnah wal Jamaah, jalan penyembuhan tersebut telah lama dijelaskan oleh para ulama besar yang menjadi rujukan pesantren-pesantren NU. Mereka mengajarkan bahwa krisis terbesar dalam kehidupan bukanlah krisis ekonomi, politik, atau kepemimpinan, melainkan krisis kebeningan hati. Ketika hati rusak, ilmu kehilangan cahaya, kekuasaan kehilangan amanah, dan organisasi kehilangan ruh pengabdiannya.
Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ ‘Ulum al-Din mengingatkan bahwa akar berbagai kerusakan manusia adalah hubb al-dunya (kecintaan yang berlebihan kepada dunia). Dunia pada hakikatnya bukanlah musuh. Yang menjadi musuh adalah ketika dunia berpindah dari genggaman tangan ke dalam hati. Selama dunia berada di tangan, ia dapat menjadi sarana beribadah. Namun ketika dunia menguasai hati, ia berubah menjadi hijab yang menghalangi manusia dari Allah.
Al-Ghazali bahkan menegaskan bahwa cinta terhadap kedudukan (hubb al-jah) sering kali lebih berbahaya daripada cinta terhadap harta. Sebab harta hanya memuaskan kebutuhan jasmani, sedangkan ambisi terhadap kehormatan, pengaruh, dan kekuasaan dapat menggerogoti keikhlasan seseorang tanpa ia sadari. Betapa banyak amal yang tampak besar di mata manusia, tetapi menjadi ringan di hadapan Allah karena tercampuri keinginan dipuji dan dihormati.
Pandangan tersebut terasa sangat relevan bagi setiap orang yang memikul amanah organisasi. Jabatan tidaklah tercela, sebagaimana kekayaan juga tidak tercela. Yang tercela adalah ketika keduanya menjadi tujuan utama, bukan sarana untuk mengabdi. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukanlah seberapa tinggi kedudukannya, melainkan seberapa kecil egonya ketika memimpin.
Senada dengan itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani berulang kali mengingatkan bahwa seorang pemimpin ruhani harus terlebih dahulu memenangkan peperangan melawan hawa nafsunya sebelum berusaha memimpin orang lain. Dalam Al-Fath ar-Rabbani, beliau mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan nafsu yang selalu membisikkan rasa ingin dipuji, ingin menang sendiri, dan ingin memiliki lebih banyak daripada yang lain.
Beliau juga berpesan bahwa hati yang dipenuhi Allah tidak lagi memiliki ruang untuk kesombongan. Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan sibuk mengejar kemuliaan di hadapan manusia, karena baginya kemuliaan sejati adalah diterima di sisi-Nya. Sebaliknya, orang yang mengejar kemuliaan manusia akan terus hidup dalam kegelisahan, sebab penghormatan manusia selalu berubah mengikuti kepentingan dan zaman.
Pesan inilah yang sesungguhnya menjadi inti dari Tazkiyatun Nafsi dan Tashfiyatul Qalbi. Tasawuf bukanlah menjauh dari kehidupan, apalagi menghindari tanggung jawab sosial. Tasawuf adalah menghadirkan Allah di tengah seluruh aktivitas kehidupan. Seorang kiai tetap memimpin pesantren, seorang ulama tetap memberi fatwa, seorang pengurus tetap mengelola organisasi, seorang pejabat tetap menjalankan pemerintahan, tetapi semuanya dilakukan dengan hati yang tidak diperbudak oleh dunia.
Nilai inilah yang diwariskan para muassis Nahdlatul Ulama.
<ol>
<li>Hasyim Asy’ari meletakkan dasar bahwa ilmu harus dibangun di atas adab dan keikhlasan. Dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, beliau menegaskan bahwa keberkahan ilmu bergantung pada kelurusan niat. Ilmu yang dicari untuk memperoleh kedudukan, kemasyhuran, atau keuntungan dunia akan kehilangan cahaya yang semestinya mengantarkan manusia semakin dekat kepada Allah. Sebaliknya, ilmu yang dilandasi ikhlas akan melahirkan kebijaksanaan, ketawadukan, dan keberanian menyampaikan kebenaran.</li>
</ol>
Bagi Hadratussyaikh, ulama bukan sekadar orang yang menguasai kitab-kitab, melainkan penjaga amanah agama. Amanah itu menuntut keberanian moral untuk berkata benar sekalipun pahit, serta kerendahan hati untuk menerima kritik sekalipun datang dari orang yang lebih muda. Inilah karakter kepemimpinan yang membuat ulama tetap menjadi pelita bagi umat sepanjang zaman.
Sementara itu, KH. Wahab Chasbullah mewariskan teladan yang tidak kalah penting. Beliau dikenal sebagai ulama yang luwes dalam membangun komunikasi dengan berbagai kalangan, termasuk para pemimpin bangsa, tanpa pernah melepaskan prinsip-prinsip perjuangan. Dari beliau, kita belajar bahwa kedekatan dengan negara bukanlah bentuk ketundukan, melainkan ikhtiar menghadirkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan kebangsaan.
Inilah pelajaran penting bagi Nahdlatul Ulama hari ini. Hubungan harmonis antara pesantren, masyarakat, dan negara harus dibangun di atas fondasi saling menguatkan, bukan saling memanfaatkan. Negara membutuhkan kejernihan moral dari ulama agar kebijakan selalu berpihak kepada kemaslahatan rakyat. Sebaliknya, pesantren membutuhkan negara yang menghadirkan keadilan, keamanan, dan ruang yang sehat bagi tumbuhnya pendidikan, dakwah, serta pengabdian sosial. Keduanya bukanlah dua kutub yang dipertentangkan, melainkan dua amanah yang harus dirajut demi terwujudnya maslahah ‘ammah.
Pada akhirnya, seluruh ajaran para ulama tersebut bermuara pada satu kesadaran yang sama: manusia adalah musafir menuju Allah. Jabatan hanyalah persinggahan. Popularitas hanyalah bayang-bayang. Kekuasaan hanyalah titipan. Yang kekal hanyalah amal saleh yang lahir dari hati yang bersih. Karena itu, vaksin paling ampuh terhadap penyakit wahn bukanlah sekadar regulasi yang lebih ketat ataupun mekanisme organisasi yang lebih baik, meskipun keduanya tetap diperlukan.
Vaksin yang sesungguhnya adalah membangun kembali tradisi riyadhah yang selama ini menjadi napas pesantren: memperbanyak istighfar, menjaga shalat malam, membiasakan puasa sunnah, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berzikir dengan khusyuk, bersahabat dengan para ulama, serta memperbanyak mengingat kematian.
Para salihin sering mengatakan bahwa siapa yang setiap hari mengingat kuburnya, akan sulit tergoda oleh gemerlap dunia. Sebab setiap langkah yang diambil selalu diiringi satu pertanyaan yang jujur: “Apakah amal ini akan menjadi cahaya ketika aku berdiri sendirian di hadapan Allah?”
Apabila pertanyaan itu terus hidup di dalam hati setiap pengemban amanah, insya Allah penyakit wahn tidak akan menemukan tempat untuk tumbuh. Yang lahir bukan sekadar pemimpin yang cerdas, melainkan pemimpin yang takut kepada Allah; bukan sekadar organisator yang piawai, melainkan khadim al-ummah yang menjadikan jabatan sebagai jalan ibadah. Dari sanalah Nahdlatul Ulama akan terus memancarkan wibawa moralnya sebagai penjaga agama, perekat bangsa, dan penebar rahmat bagi seluruh alam.
Muktamar sebesar apa pun tidak akan menghasilkan keberkahan apabila hati para pesertanya dipenuhi persaingan dunia. Sebaliknya, musyawarah yang sederhana dapat melahirkan keputusan luar biasa apabila dipimpin oleh hati-hati yang ikhlas.
Namun masih ada satu obat yang paling ampuh untuk mematikan akar penyakit wahn, yaitu dzikrul maut, memperbanyak mengingat kematian.
Rasulullah ﷺ bersabda agar umatnya memperbanyak mengingat pemutus segala kenikmatan, yakni kematian.
Mengapa kematian menjadi obat?
Karena orang yang benar-benar mengingat kematian akan sulit berlaku sombong. Ia sadar bahwa semua jabatan hanya sementara. Semua tepuk tangan akan berhenti. Semua kekuasaan akan berakhir. Semua gelar akan ditinggalkan.
Yang menemani seseorang ke alam kubur bukan kartu anggota organisasi, bukan jabatan, bukan kendaraan, bukan rumah, bukan pula pengaruh politik.
Yang ikut hanyalah amal.
Kesadaran inilah yang dahulu melahirkan para kiai besar yang begitu ringan memikul amanah sekaligus begitu mudah melepaskannya. Mereka tidak mengejar jabatan, tetapi ketika amanah datang, mereka menerimanya sebagai bentuk pengabdian. Ketika amanah selesai, mereka kembali mengajar kitab di serambi pesantren dengan ketenangan yang sama.
Inilah karakter yang harus dihidupkan kembali.
Bayangkan apabila setiap calon pemimpin organisasi mengawali langkahnya dengan berziarah ke makam para muassis, membaca tahlil, menangis dalam munajat malam, bertanya kepada dirinya sendiri: “Apakah aku layak mempertanggungjawabkan amanah ini di hadapan Allah?”
Barangkali pertanyaan itu lebih berat daripada seluruh proses pemilihan.
Sebab yang sedang diperebutkan sesungguhnya bukan kursi, melainkan hisab.
Maka, menjelang Muktamar ke-35, yang paling dibutuhkan bukan sekadar adu strategi, melainkan gerakan besar riyadhah ruhaniyah. Perbanyak istighfar sebelum menyusun strategi. Perbanyak tahajud sebelum menyusun koalisi. Perbanyak membaca Al-Qur’an sebelum menyusun pidato. Perbanyak ziarah kubur sebelum menentukan pilihan.
Dengan demikian, keputusan organisasi tidak hanya lahir dari kecerdasan berpikir, tetapi juga dari kejernihan hati.
NU telah membuktikan selama hampir satu abad bahwa kekuatan terbesarnya bukan terletak pada jumlah warga ataupun luasnya jaringan organisasi. Kekuatan itu lahir dari keberkahan para ulama yang membangun tradisi ilmu, adab, keikhlasan, dan pengabdian.
Warisan itu jauh lebih berharga daripada sekadar kemenangan politik.
Karena itu, menjaga NU pada hakikatnya bukan hanya menjaga struktur organisasinya, melainkan menjaga ruh yang menghidupinya. Ruh itu adalah keikhlasan, tawaduk, istiqamah, dan kesediaan mendahulukan kepentingan umat, agama, bangsa, dan negara di atas kepentingan pribadi ataupun kelompok.
Apabila Tazkiyatun Nafsi menjadi budaya, Tashfiyatul Qalbi menjadi tradisi, dan dzikrul maut menjadi sahabat setiap pemimpin, maka penyakit wahn akan kehilangan tempat bersemayam.
Saat itulah NU akan kembali memancarkan wibawa moralnya—bukan karena kedekatannya dengan kekuasaan atau jauhnya dari kekuasaan, melainkan karena kedekatannya kepada Allah. Dari kedekatan itulah akan lahir keberanian berkata benar, kebijaksanaan dalam bermusyawarah, keteguhan menjaga independensi moral, serta kemampuan merangkul seluruh komponen bangsa.
Bukankah pada akhirnya itulah cita-cita para muassis: menghadirkan Nahdlatul Ulama sebagai rumah besar yang menebarkan rahmat, memperkuat persaudaraan, menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengantarkan umat menuju keselamatan dunia serta kebahagiaan akhirat.
Semoga setiap langkah menuju Muktamar bukan sekadar perjalanan menuju ruang sidang, melainkan juga perjalanan pulang menuju hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih suci, dan kesadaran bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Yang Maha Adil. Di sanalah sesungguhnya vaksin paling ampuh bagi penyakit wahn: hati yang selalu hidup bersama Allah dan mata batin yang tidak pernah lupa bahwa kematian adalah awal dari kehidupan yang kekal.
Jakarta, 5 Juli 2026
*Abdur Rahman El Syarif adalah Anggota Lajnah Pengkajian dan Penelitian Turots dan Sanad Thariqah Idarah Aliyah JATMAN.





































