“Ketika Berbeda Haluan Menjadi Catatan Sejarah, dan Sejarah Menjadi Guru Kepemimpinan”

CATATAN PERADABAN

Oleh: Dr. ROMADLON SUKARDI, MM.*

WAFAT KH Syukron Makmun, Ahad 18 Oktober 2026 mengingatkan kita bahwa setiap tokoh pada akhirnya akan meninggalkan panggung sejarah. Yang tersisa bukan lagi jabatan, pengaruh, atau kerasnya perdebatan yang pernah menyertainya, melainkan ilmu, amal, karya, murid, dan pelajaran yang dapat dipetik generasi sesudahnya.

Saya kenal gaya kepemimpinan KH. Syukron Makmun pada saat beliau menjadi ketua umum PP LDNU bersama Drs. KH. Abdurrahim dan Drs. H. Abduh Padare, periode 1990-1995-an. Waktu itu saya menjadi Sekretaris PW LDNU Jatim dan Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, MSi sebagai ketuanya.

KH Syukron Makmun dikenal luas sebagai ulama dan pendakwah dengan kemampuan orasi yang kuat. Julukan Singa Podium bukan sekadar menggambarkan lantangnya suara, tetapi juga perjalanan panjang seorang santri yang memperoleh kesempatan, kepercayaan, dan ruang pengabdian.

Namun, sebagaimana tokoh-tokoh besar lainnya, perjalanan beliau tidak hanya berkaitan dengan dakwah dan pendidikan. Ia juga bersinggungan dengan dinamika organisasi, pemikiran keagamaan, serta pergulatan politik yang pernah mewarnai perjalanan Nahdlatul Ulama.

Di sinilah sejarah menjadi menarik untuk dibaca. Bukan untuk mengadili orang yang telah berpulang, apalagi menghidupkan kembali pertentangan lama, melainkan untuk memahami bagaimana perbedaan pandangan dapat memengaruhi arah sebuah organisasi besar.

Sebab NU bukan hanya memiliki sejarah tentang kebersamaan. NU juga memiliki sejarah tentang perbedaan, perdebatan, dan proses panjang mencari titik temu.
Sejarah yang matang bukan sejarah yang menyembunyikan perbedaan, melainkan sejarah yang mampu mengubah perbedaan menjadi pelajaran.

1. “SYUKRON, SETELAH INI MAU KE MANA?”: AWAL PERJALANAN SINGA PODIUM

Salah satu bagian menarik dari perjalanan KH Syukron Makmun adalah pertemuannya dengan KH Idham Chalid, tokoh besar NU yang pernah memimpin PBNU dan memiliki pengaruh penting dalam politik kebangsaan Indonesia.

Syukron lahir pada 21 Desember 1941 di lingkungan keluarga religius. Ayahnya, KH Makmun Nawawi, merupakan seorang kiai, sedangkan ibunya, Hj. Masturoh, turut membentuk dasar pendidikan keagamaan dalam keluarganya.

Setelah menempuh pendidikan di sejumlah lembaga Islam, Syukron melanjutkan pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo. Di lingkungan pesantren inilah kemampuan berbicara, kedisiplinan, dan keterampilan organisasinya berkembang.

Pertemuan dengan KH Idham Chalid kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya. Dalam kisah yang beredar mengenai hubungan keduanya, Syukron semula berencana pulang ke Madura untuk mengajar di pesantren milik pamannya. Namun, Idham mengajaknya ke Jakarta dan memberinya kesempatan untuk berkembang dalam lingkungan dakwah dan organisasi.

Dari kedekatan tersebut, Syukron memperoleh ruang belajar yang lebih luas: berpidato, bergaul dengan berbagai kalangan, menyampaikan gagasan, dan menghadapi masyarakat dengan latar belakang yang beragam.

Kesempatan tampil menggantikan Idham dalam sebuah kegiatan pada akhir 1960-an menjadi bagian dari proses pengembangan kemampuan orasinya. Selanjutnya, ia semakin sering dipercaya tampil dalam berbagai kegiatan dakwah dan politik.

Perjalanan itu memperlihatkan satu pelajaran penting: seorang mentor tidak hanya mewariskan pengetahuan, tetapi juga membuka jalan agar orang yang dibimbingnya menemukan kapasitas terbaiknya.

Pada 1975, Syukron mendirikan Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jakarta. Di tengah kehidupan metropolitan yang bergerak cepat, pesantren tersebut menjadi bagian dari ikhtiarnya memperluas pendidikan Islam dan kaderisasi santri.

Dari ruang keluarga seorang tokoh, ia melangkah menuju mimbar dakwah. Dari mimbar dakwah, ia mengembangkan lembaga pendidikan. Dari pendidikan, ia membangun pengabdian yang menjangkau generasi berikutnya.

Inilah sisi penting yang patut dikenang: perjalanan seorang santri yang memperoleh kepercayaan, mengembangkan kemampuan, lalu membangun ruang pengabdian bagi masyarakat.

2. GUS DUR DAN KH SYUKRON MAKMUN: DUA KARAKTER, DINAMIKA SATU JAM’IYAH

Nahdlatul Ulama bukan organisasi yang dibangun dari keseragaman pikiran. Sejak awal, NU tumbuh dari perjumpaan ulama dengan pengalaman, pandangan, dan orientasi perjuangan yang beragam.

Ada yang kuat dalam tradisi pesantren. Ada yang menonjol dalam dakwah. Ada yang berpengalaman dalam politik kebangsaan. Ada pula yang lebih menekankan pembaruan pemikiran dan penguatan masyarakat sipil.

Gus Dur dikenal dengan pemikiran yang luas mengenai demokrasi, pluralisme, kemanusiaan, dan kemandirian masyarakat sipil. Ia mendorong NU agar tidak terjebak dalam kepentingan politik praktis serta mampu memainkan peran moral yang lebih besar dalam kehidupan bangsa.

Sementara itu, KH Syukron Makmun dikenal melalui dakwah, pendidikan pesantren, kemampuan orasi, dan keteguhan dalam menyampaikan pandangan.

Dalam dinamika NU pada era 1990-an, keduanya berada dalam lingkungan organisasi yang tidak selalu memiliki kesamaan pandangan mengenai arah perjuangan. Syukron pernah memimpin Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) selama beberapa periode pada masa kepemimpinan Gus Dur di PBNU.

Sebagian kalangan mengenang periode tersebut sebagai masa ketika terdapat perbedaan orientasi antara kepemimpinan PBNU di bawah Gus Dur dan kelompok-kelompok yang memiliki kedekatan historis dengan tradisi politik NU sebelumnya, termasuk lingkungan KH Idham Chalid.

Perbedaan itu berkaitan dengan persoalan yang lebih luas: bagaimana menempatkan NU dalam hubungan dengan negara, politik praktis, dakwah, dan masyarakat.

Namun, membaca sejarah tidak boleh hanya bertumpu pada ingatan kelompok atau penilaian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Klaim bahwa LDNU merupakan lembaga tandingan PBNU atau bahwa seluruh aktivitasnya semata-mata ditujukan untuk melawan Gus Dur perlu diuji melalui dokumen organisasi, kesaksian para pelaku, dan konteks kebijakan pada zamannya.

Kritik terhadap sejarah boleh tajam, tetapi penilaian terhadap manusia harus tetap adil.

Kita dapat mencatat adanya perbedaan haluan tanpa harus menyederhanakan seluruh persoalan menjadi pertarungan antara pihak yang benar dan pihak yang salah.

Sebab, dalam organisasi besar, orang-orang yang sama-sama mencintai NU dapat memiliki penafsiran berbeda tentang cara terbaik membesarkannya.

3. KH IDHAM CHALID DAN WARISAN POLITIK

Kedekatan KH Syukron Makmun dengan KH Idham Chalid juga mengingatkan kita pada satu fase penting perjalanan NU: hubungan antara ulama, organisasi, dan politik kebangsaan.

KH Idham Chalid merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah politik NU. Pengalaman beliau menunjukkan bahwa NU memiliki tradisi panjang dalam memperjuangkan kepentingan umat melalui jalur keagamaan, pendidikan, kemasyarakatan, dan politik.

Namun, setiap zaman menghadirkan tantangannya sendiri. Strategi yang dipandang tepat dalam satu periode belum tentu dapat diterapkan dengan cara yang sama pada periode berikutnya.

Karena itu, ketika Gus Dur mendorong peneguhan kembali orientasi Khittah NU 1926 dan penguatan kemandirian organisasi, muncul perdebatan mengenai bagaimana NU seharusnya berhubungan dengan kekuasaan dan politik praktis.

Perbedaan tersebut tidak cukup dipahami sebagai persoalan suka atau tidak suka terhadap seorang pemimpin. Di dalamnya terdapat pertanyaan mendasar tentang identitas NU, fungsi organisasi, dan batas antara pengabdian keumatan dengan kepentingan politik.

Di sinilah sejarah mengajarkan bahwa warisan seorang tokoh tidak harus diterima tanpa evaluasi. Setiap generasi memiliki kewajiban menghormati jasa pendahulunya, sekaligus menilai kembali strategi perjuangan berdasarkan kebutuhan zamannya.

Menghormati sejarah bukan berarti membekukan sejarah. Menghormati guru bukan berarti menutup ruang ijtihad.

4. KHITTAH NU 1926: MENJAGA JATI DIRI DI TENGAH KEKUASAAN

Khittah NU 1926 merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan jam’iyah. Peneguhan kembali Khittah pada 1984 menjadi momentum untuk memperjelas identitas NU sebagai organisasi sosial-keagamaan, sekaligus menata kembali hubungan organisasi dengan politik praktis.

Khittah tidak berarti NU harus apatis terhadap negara. NU tetap memiliki tanggung jawab moral untuk berbicara mengenai keadilan sosial, pendidikan, kemiskinan, lingkungan, kebijakan publik, dan masa depan bangsa.
Yang perlu dijaga adalah kemandirian dalam mengambil sikap.

NU boleh bekerja sama dengan pemerintah ketika kebijakannya membawa maslahat. NU boleh berdialog dengan kekuasaan untuk memperjuangkan kepentingan umat. Tetapi NU juga harus memiliki keberanian mengingatkan pemerintah ketika kebijakan yang diambil tidak berpihak kepada masyarakat.

Khittah bukan berarti NU menjauhi negara. Khittah berarti NU tidak kehilangan dirinya ketika berhadapan dengan negara.
Pelajaran ini tetap relevan bagi kepemimpinan NU hari ini. Kedekatan dengan pemerintah tidak otomatis berarti ketergantungan. Sebaliknya, sikap kritis tidak otomatis berarti permusuhan.

Ukuran sesungguhnya terletak pada kemampuan organisasi menjaga independensi moral, mengutamakan kepentingan umat, dan menyampaikan kritik secara bertanggung jawab.

5. LEMBAGA KUAT, ORGANISASI SEHAT

Dinamika LDNU pada masa lalu memberikan ruang refleksi mengenai hubungan antara lembaga dan kepemimpinan PBNU.

Dalam organisasi sebesar NU, setiap lembaga memiliki mandat dan bidang pengabdian masing-masing. Lembaga dakwah mengembangkan penyiaran Islam. Lembaga pendidikan menguatkan ilmu dan kaderisasi. Lembaga sosial membantu masyarakat. Sementara struktur kepemimpinan bertanggung jawab menjaga arah, koordinasi, dan kesatuan organisasi.

Perbedaan pendekatan seharusnya memperkaya organisasi, bukan melahirkan pusat-pusat kekuasaan yang saling meniadakan.

Lembaga yang kuat bukan lembaga yang selalu berseberangan dengan pimpinan. Namun, lembaga yang sehat juga bukan lembaga yang selalu menyetujui keputusan tanpa pertimbangan kritis.

Lembaga yang matang mampu menyampaikan kritik dengan argumentasi, menjalankan mandat secara profesional, dan menghormati tata kelola organisasi.
Kritis tanpa merusak. Mandiri tanpa memisahkan diri. Loyal tanpa kehilangan akal sehat. Itulah keseimbangan yang perlu terus dirawat.

6. PELAJARAN BAGI GUS KIKIN: JANGAN HANYA MEMBANGUN KEKUATAN, BANGUNLAH KEPERCAYAAN

Dinamika sejarah tersebut semestinya menjadi cermin bagi kepemimpinan PBNU hasil Muktamar ke-35. Gus Kikin menghadapi tugas besar dalam menyusun kepengurusan yang bukan hanya kuat secara struktur, tetapi juga kompeten, berintegritas, dan sanggup bekerja.

PBNU membutuhkan orang-orang yang memahami sejarah NU, memiliki kemampuan organisasi dan manajemen, tajam membaca perubahan zaman, berjejaring luas, serta bersedia menyediakan waktu untuk menjalankan amanah.

Namun, kompetensi saja tidak cukup. Kepengurusan juga memerlukan kebijaksanaan dalam merangkul pihak-pihak yang berbeda pandangan.

Orang yang kritis jangan buru-buru dicurigai sebagai lawan. Orang yang dekat jangan otomatis dianggap paling setia. Orang yang berbeda pilihan dalam Muktamar tetap perlu dinilai berdasarkan kompetensi, integritas, dan kesediaannya berkhidmah.

Jabatan bukan hadiah bagi mereka yang berjasa memenangkan kontestasi. Jabatan adalah amanah yang menuntut pertanggungjawaban. Pemimpin juga membutuhkan pendamping yang berani menyampaikan kebenaran. Jangan sampai lingkungan kepemimpinan dipenuhi orang-orang yang hanya pandai menyenangkan atasan, tetapi tidak berani mengingatkan ketika keputusan mulai menyimpang.

Orang dekat belum tentu orang tepat. Orang yang selalu berkata “iya” belum tentu sedang menyelamatkan pemimpinnya.

Gus Kikin membutuhkan tim yang mampu menjaga tradisi, membaca zaman, mengelola organisasi, memperluas jaringan, dan menerjemahkan gagasan menjadi hasil nyata.

Yang paling penting, tim tersebut harus mampu mengubah perbedaan menjadi energi kolaborasi.

7. JANGAN MEWARISKAN PERTENGKARAN, WARISKANLAH KEBIJAKSANAAN

Sejarah Gus Dur, KH Syukron Makmun, dan KH Idham Chalid memperlihatkan bahwa perjalanan NU dibentuk oleh beragam karakter, strategi, dan pandangan.

Ada warisan dakwah. Ada warisan politik kebangsaan. Ada warisan pemikiran. Ada pula pengalaman tentang ketegangan dan perbedaan.

Generasi sekarang tidak harus mengulang seluruh perdebatan itu. Yang perlu dilakukan ialah mengambil pelajaran terbaik dari setiap fase.

Dari Gus Dur, kita dapat merenungkan pentingnya keberanian berpikir, kemandirian moral, demokrasi, dan keterbukaan terhadap kemanusiaan.

Dari KH Syukron Makmun, kita dapat mengenang ketekunan dakwah, kekuatan komunikasi, dan pengabdian melalui pendidikan pesantren. Dari KH Idham Chalid, kita dapat mempelajari pengalaman panjang hubungan ulama, organisasi, dan politik kebangsaan.

Masing-masing memiliki jejak dan konteksnya sendiri. Tidak perlu memaksa mereka menjadi satu suara untuk mengakui bahwa sejarah NU dibentuk oleh kontribusi banyak tokoh.

Perbedaan tidak perlu dihapus. Yang harus dihindari adalah kebiasaan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling meniadakan.

Kritik tidak perlu dibungkam. Yang harus dijaga ialah agar kritik bertumpu pada fakta, argumentasi, dan niat memperbaiki.

Kepemimpinan tidak harus menyenangkan semua pihak. Namun, keputusan harus diambil secara adil, amanah, dan bertanggung jawab.
Jangan mewarisi luka sejarah sebagai senjata untuk menyerang lawan. Warisilah sejarah sebagai pelajaran untuk membangun masa depan.

CATATAN PINGGIR: NU LEBIH BESAR DARIPADA TOKOH-TOKOHNYA

Pada akhirnya, NU bukan milik satu generasi, satu kelompok, atau satu figur.

NU adalah amanah para muassis, rumah besar para ulama, tempat berkhidmah para kader, dan harapan jutaan umat.
Ukuran keberhasilan kepemimpinan bukanlah berapa banyak orang yang berhasil dikalahkan, melainkan berapa banyak persoalan umat yang berhasil diselesaikan.

Bukan seberapa keras suara seseorang mempertahankan kelompoknya, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Bukan siapa yang paling lama menguasai jabatan, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh menggunakan amanah untuk mencari ridha Allah SWT.

Mengenang KH Syukron Makmun semestinya tidak berhenti pada pujian atas kemampuan dakwahnya, sebagaimana mengenang Gus Dur tidak cukup hanya dengan mengulang gagasan-gagasannya. Keduanya perlu ditempatkan dalam pembacaan sejarah yang utuh, adil, dan bermanfaat bagi generasi penerus.

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah KH Syukron Makmun, mengampuni segala khilaf beliau, melapangkan kuburnya, dan menempatkan beliau dalam rahmat serta maghfirah-Nya. Semoga keluarga, santri, dan seluruh murid beliau diberi ketabahan.

Semoga NU terus menjadi rumah besar yang teguh dalam prinsip, luas dalam pergaulan, dewasa dalam perbedaan, dan nyata dalam pengabdian.

Sebab sejarah telah memberi kita banyak tokoh. Kini tugas kita bukan memperpanjang pertentangan mereka, tetapi melanjutkan pengabdian terbaik yang dapat kita pelajari dari perjalanan mereka. Merawat Sejarah, Menjaga Marwah, Mengelola Perbedaan, Menata Masa Depan. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

*Dr. ROMADLON SUKARDI, MM. Catatan Peradaban — Membaca Peristiwa, Merawat Nilai, Menata Masa Depan.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry