
JOMBANG | duta.co – Penetapan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional tahun 2025 disambut suka cita oleh keluarga besar Nahdlatul Ulama di Kota Santri. Sebagai bentuk syukur, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Jombang menggelar tasyakuran pada Sabtu, 15 November 2025, bertempat di Masjid Baitul Mukminin, yang berdiri megah persis di depan Alun-Alun Jombang.
Sejak sore, jamaah mulai berdatangan. Para kader Banser, pengurus ranting, sesepuh Ansor, dan masyarakat umum larut dalam suasana penuh kekhidmatan. Kegiatan dimulai dengan pembacaan tahlil dan doa bersama, yang dipimpin para kiai muda Jombang, menghadirkan suasana yang hangat sekaligus haru mengenang jasa Gus Dur.
Ketua PC GP Ansor Jombang, Taufiqi Fakkaruddin Assilahi, atau yang akrab disapa Gus Fiqi, menegaskan bahwa penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional bukan hanya kebanggaan bagi NU, tetapi juga penghormatan bagi Jombang sebagai tanah kelahiran Presiden ke-4 RI itu.
“Bagi kami, Gus Dur adalah guru bangsa. Beliau mengajarkan keberanian moral pada saat banyak orang memilih diam. Mengajarkan kemanusiaan ketika sebagian sibuk membangun sekat. Dan mengajarkan cinta tanah air yang melampaui kepentingan politik apa pun,” ujar Gus Fiqi di hadapan jamaah.
Ia menambahkan bahwa gelar Pahlawan Nasional ini mengukuhkan kembali warisan perjuangan Gus Dur sebagai tokoh transnasional yang dihormati lintas agama, etnis, dan golongan.
Dalam sambutannya, Gus Fiqi mengingatkan bahwa tantangan kebangsaan hari ini semakin kompleks. Karena itu, generasi muda NU, terutama Ansor Banser, harus meneladani prinsip keberanian Gus Dur. Yakni, keberanian membela minoritas, keberanian melawan ketidakadilan, keberanian mengatakan kebenaran meski berbeda dengan arus utama.
“Ansor Jombang berkomitmen merawat nilai-nilai itu. Ini bukan sekadar seremoni, tetapi deklarasi moral,” tegasnya.
Tasyakuran ditutup dengan doa keselamatan bangsa. Para peserta memanjatkan harapan agar Indonesia tetap dijauhkan dari fitnah, perpecahan, dan krisis moral yang menggerogoti generasi muda.
Bagi para kader Ansor Jombang, tasyakuran ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perjuangan Gus Dur tidak boleh berhenti pada gelar. Ia harus hidup dalam tindakan, kebijakan, dan keberanian setiap kader Ansor dan Banser hari ini. (din)





































