Sebagian penulis buku anomali, kumpulan 22 karya tulis peserta kelas menulis batch 3 yang digelar Padmedia Publisher. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Para peserta kelas menulis batch 3 yang digelar Padmedia Publisher melaunching buku yang diberi judul Anomali secara virtual, Minggu (4/4/2021).

Buku ini adalah kumpulan karya tulis dari 22 penulis pemula yang merupakan peserta dari kelas menulis tersebut.

Padmedia Publisher memang menggelar kelas menulis bagi para pemula yang selama pandemi ini diharuskan berada di rumah saja. Sehingga mereka yang memiliki banyak waktu, diajak untuk ikut kelas menulis ini. Dan dari sana, peserta bisa menghasilkan karya. Yang kali ini berupa cerita pendek (cerpen).

Kelas menulis batch 3 ini digelar secara daring selama 10 kali pertemuan. Ada delapan guru yang mengajar kelas ini yang kesemuanya adalah penulis berskala nasional. Yakni Damhuri Muhammad, Sunlie Thomas Alexander, Yanusa Nugroho, Kurnia Effendi, Ni Komang Ariani, Yusri fajar, Mashdar Zainal dan Wina Bojonegoro.

CEO Padmedia Publisher, Wina Bojonegoro mengatakan kelas menulis ini banyak disukai peserta yang berasal dari berbagai kota di Indonesia,bahkan ada yang dari luar negeri.

“Sekarang ini buku analogi sudah menjamur, kemudahan menerbitkan buku terbuka lebar, maka tantangan bagi para penulis, apalagi yang baru belajar menulis, adalah bagaimana menemukan sesuatu yang tidak biasa, baik ceritanya, cara berceritanya, sudut pandangnya, maupun eksekusinya. Itulah mengapa kami beri judul buku ini, Anomali,” jelasnya, Senin (5/4/2021).

Kelas menulis ini, berlangsung melebihi target pertemuan yang ditetapkan yakni 10 minggu menjadi 16 minggu. Hal itu karena proses pematangan naskah, kurasi dan editing. Tujuannya agar hasilnya benar-benar maksimal.

Salah satu cerpen yang ada dalam buku itu adalah Tentang Cerita-cerita Pendek karya Doan Widiandhono. Ini adalah cerita fantasi tentang catatan kehidupan seorang moralis yang ternyata tidak lolos menuju pintu surga, hanya karena persoalan selilit.

Mirip dengan cerita Quo Vadis Justitia yang ditulis Evie Suryani, akankah kita lolos dari api neraka jika di dunia kita tidak berlaku adil pada sesama manusia? Cerita senada ditulis oleh Tedy Heryadi, Dua Penulis Jasa di Insulinde, menggunakan metafor malaikat yang bertukar peran dalam mencatat kebaikan dan keburukan , ternyata manusia hanyalah hamba-hamba yang pamrih.

Kisah-kisah fantasi juga dapat ditemukan di buku ini, antara lain Celung karya Adekaart. Kisah anomali tentang pesugihan yang di cerpen ini pesugihannya adalah kucing hitam. Candala dan Sepasang Pembunuh Bayaran adalah karya Winda Listyani yang juga kategori fantasi, bagaimana sepasang sepatu dapat menjadi pembunuh.

Dunia Tanpa Tuan sebagai karya utama Endang P.Uban merupakan sebuah anomali POV, di mana yang menjadi narator adalah sifat-sifat di dalam diri manusia. Dunia psikologi yang bertautan dengan legenda atau mitos dibahas dalam Tulah Asmara karya Eva K. Sundari yang mengangkat kehidupan anak-anak mongolid.

Sementara benda-benda bicara juga ditemukan dalam memahat Ibu karya Hanuta. Bidang Berwarna adalah ruang-ruang dan tembok yang berbicara dan melakukan pengakuan, merupakan karya Jani P. Jasfin yang pertama.

Serupa dengan karya Made D. Adnjani yang diwakili sebuah cermin untuk bertutur tentang manusia. Karya Sari Sahara, Penakata pun merupakan benda bicara penuh kritik bagi manusia yang rakus dan penuh intrik. Seperti yang ditulis oleh Rie Blora, benda berupa Sampur bicara soal sisi gelap laki-laki dalam dunia Tayub.

Metta Mevlana menulis benar-benar anomali, yaitu merangkai cerita hanya dengan satu titik dalam judul Nukilan dari Bab XI/21 :Hudhud sementara .

Iva Hasyim mencatat perjalanan anomali seorang perempuan yang dinilai baki namun kuasa Tuhan akhirnya takdir bicara lain. Lala Khansa adalah peserta termuda di kelas ini, usianya baru 22 tahun, ia menorehkan kisah seorang pelukis yang mengalami kebimbangan dalam menemukan tujuan hidup.

Sementara Pada Sebuah Ujung karya Leny Milla justrua mengisahkan seseorang yang ingin segera menemukan akhir, Pada Sebuah Ujung. Sementara Dian KD menuliskan nasib para sapi aduan yang berakhir di tangan jagal di Madura, Takdir Kacong. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry