SURABAYA | duta.co – Berbagai komunitas pendaki di Indonesia terus menunjukkan kepeduliannya terhadap kelestarian alam, khususnya di jalur pendakian gunung. Salah satunya komunitas Pendaki U-50 Jawa Timur, yang aktif menggelar kegiatan konservasi berupa aksi tanam pohon sebagai bagian dari peringatan Hari Bumi sekaligus upaya menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan yang semakin rentan mengalami kerusakan akibat meningkatnya aktivitas pendakian.

Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan Camp Ceria & Anniversary ke-2 Pendaki U-50 Jawa Timur yang digelar pada Sabtu–Minggu, 11–12 April 2026 di kawasan Sumber Lumpang. Kegiatan ini diikuti sekitar ratusan peserta dan diisi dengan seminar, talkshow, silaturahmi komunitas, serta penanaman puluhan bibit pohon buah.

Selain sebagai perayaan ulang tahun komunitas, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi keselamatan pendakian serta penguatan solidaritas antaranggota yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun.

Dalam sesi sharing, relawan dari Wanadri menekankan pentingnya menjaga kesiapan fisik dan keterampilan sebelum melakukan aktivitas pendakian, terutama bagi pendaki usia senior maupun pendaki pemula yang tertarik naik gunung karena pengaruh media sosial.

Ia menyampaikan bahwa komunitas seperti U-50 memiliki peran penting sebagai ruang belajar bersama sekaligus tempat berbagi pengalaman lintas generasi.

“Banyak yang dulu aktif mendaki saat muda, lalu sekarang kembali lagi ke gunung melalui komunitas seperti ini. Ada juga yang baru tertarik karena melihat media sosial. Yang penting fisik tetap dijaga dan skill harus direview kembali,” ujarnya Cak SugiSugi (Sugiarto) yang berhasil menemukan jasad pendaki Yazid di Bukit Mongkrang.

Ia mengibaratkan kemampuan pendakian seperti pisau yang perlu diasah kembali agar tetap tajam. Pengalaman para pendaki senior diharapkan bisa menjadi bekal edukasi bagi generasi muda agar lebih memahami risiko dan teknik pendakian yang benar.

Menurutnya, meningkatnya jumlah pendaki saat ini tidak selalu diimbangi dengan edukasi yang memadai. Akibatnya, risiko kecelakaan seperti hipotermia masih sering terjadi di jalur pendakian.

“Bahaya di gunung itu ada bahaya subjek dan objek. Banyak yang belum memahami kesiapan perlengkapan, sepatu, pakaian, hingga manajemen perjalanan. Edukasi harus terus ditingkatkan,” jelasnya.

Ia berharap komunitas U-50 dapat menjadi agen penyebar “virus kebaikan” melalui edukasi keselamatan pendakian kepada keluarga, anak-anak, dan masyarakat luas.

Ketua panitia kegiatan, Paulus Andjar, mengatakan bahwa peringatan anniversary ke-2 ini menjadi momentum mempererat silaturahmi antaranggota sekaligus meningkatkan semangat kebersamaan komunitas.

“Kegiatan ini selain anniversary kedua juga menjadi ajang halal bihalal karena masih dalam suasana Idul Fitri. Tujuannya mempererat tali silaturahmi agar komunitas semakin solid dan kompak,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa komunitas Pendaki U-50 Jawa Timur tidak hanya berorientasi pada kegiatan rekreasi, tetapi juga menjaga kesehatan melalui aktivitas fisik yang terarah dan aman.

“Kami ingin menumbuhkan solidaritas, saling memahami, dan tetap aktif bergerak agar kesehatan tetap terjaga meskipun usia sudah di atas 50 tahun,” tambahnya.

Dalam sesi edukasi navigasi darat dan digital, instruktur navigasi nasional Agus Dares menegaskan pentingnya perencanaan perjalanan sebelum melakukan aktivitas di alam bebas.

Menurutnya, navigasi bukan sekadar kemampuan membaca peta, tetapi bagian penting dari manajemen risiko perjalanan.

“Sebelum menuju sasaran pendakian, perjalanan harus direncanakan dengan baik. Dengan perencanaan, kita bisa mengatur perlengkapan dan meminimalisir potensi kecelakaan,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemahaman aklimatisasi, pemilihan lokasi camp, serta penggunaan teknologi navigasi digital yang kini semakin mudah diakses pendaki.

Agus berharap komunitas U-50 terus mengembangkan kegiatan edukatif seperti seminar dan sharing session agar tidak hanya menjadi komunitas rekreasi, tetapi juga komunitas pembelajaran keselamatan pendakian.

Selain seminar dan talkshow, kegiatan anniversary juga diisi dengan aksi penanaman puluhan bibit pohon buah sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan jalur pendakian.

Aksi ini menjadi simbol komitmen komunitas Pendaki U-50 Jawa Timur untuk terus berkontribusi menjaga ekosistem pegunungan agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Melalui kegiatan yang memadukan unsur edukasi, rekreasi, dan silaturahmi, komunitas Pendaki U-50 Jawa Timur berharap dapat terus berkembang menjadi komunitas pendaki senior yang aktif, sehat, serta berperan sebagai penggerak edukasi keselamatan pendakian di Indonesia.(gal)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry