Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, SpOG (K). DUTA/dok

SURABAYA | duta.co  – Angka infertilitas di negara berkembang masih sangat tinggi, termasuk di Indonesia.

Berdasarkan data Evaluasi Demographic and Health Surveys (DHS) yang dilakukan WHO pada  2004 memperkirakan lebih dari 186 juta wanita usia subur (WUS) yang pernah menikah di negara berkembang mengalami infertilitas.

Angka ini setara dengan satu dari setiap empat pasangan usia subur   (PUS) usia 15-49 tahun.

Di Indonesia, dari 67 jjutaPUS, sebanyak  10 hingga 5 persen atau 8 juta mengalami infertilitas atau gangguan kesuburan yang membuat mereka sulit mendapatkan anak. Hal itu berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia, 2012 lalu.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), prevalensi infertilitas di Indonesia meningkat setiap tahun. Pada 2013, tingkat prevalensi adalah 15-25% dari semua pasangan (Riskesdas, 2013).

Berdasarkan data dari Perhimpunan Fertilisasi In Vitro Indonesia (Perfitri) pada 2017, terdapat 1.712 pria dan 2.055 wanita yang mengalami infertilitas.

Selain itu, WHO memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri  atau saty dari tujuh pasangan bermasalah dengan kesuburannya. Setiap tahun akan muncul 2 juta pasutri dengan masalah yang sama.

Di Indonesia angka kejadian infertilitas diperkirakan terjadi pada lebih dari 20 persen pasutri. Angka kejadian infertilitas pada perempuan usia 30 – 34 tahun 15 persen, pada usia 35-39 tahun 30 persen dan pada usia 40 – 44 tahun adalah 55 persen.

Plt. Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) BKKBN, Ir. Dr. Dwi Listyawardani, membeberkan pasutri dinyatakan mengalami Infertilitas apabila belum hamil meski telah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 12 bulan tanpa menggunakan alat proteksi atau kontrasepsi.

Pasutri dinyatakan memiliki masalah infertilitas primer jika belum pernah ada riwayat kehamilan dan dinyatakan sebagai infertilitas sekunder.

“Jika pasutri tersebut tidak berhasil hamil atau tidak mampu hamil atau tidak mampu mempertahankan kehamilannya setelah memiliki anak hidup sebelumnya,” ujar Dwi dalam rilisnya Rabu (3/6/2020).

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, SpOG (K) pada Acara Webinar Penanganan Infertilitas dalam Kesehatan Reproduksi beberapa waktu lalu mengatakan saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi, bahkan akan segera berlalu beberapa tahun lagi.

BKKBN bersama Instansi terkait, pakar dan mitra kerja terus saling membantu menciptakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas.

“Untuk memetik bonus demografi harus memenuhi dua syarat yaitu tidak hanya dari segi kuantitas namun juga kualitas dari segi kuantitas, sehingga salah satu untuk menciptakan SDM berkualitas adalah kesehatan reproduksinya,” ujar Hasto.

Hasto berharap, melalui acara webinar ini dapat meningkatkan pemahaman dan kompetensi para peserta baik seluruh pejabat dan staf di lingkungan internal BKKBN, maupun tenaga kesehatan dan mitra terkait lainnya mengenai isu-isu strategis di bidang kesehatan reproduksi.

Selain itu mendorong munculnya ide-ide kreatif serta inovasi yang mendukung keberlangsungan pelayanan serta promosi dan konseling kesehatan reproduksi di masa pandemi ini. end/ril

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry