SURABAYA | duta.co – Ini kabar baik bagi penderita diabet, pemilik tubuh bongsor, atau siapa saja yang ingin diet dari asupan manis. Sekarang ada gula dengan low glycemic index. Pertama kali diproduksi di Indonesia, gula asli dengan kandungan zat antioksidan ‘polifenol’. Namanya GULANAS.

“Selama ini kita hanya mengenal CSR, gula low glycemic produk luar negeri. Mahal, hanya orang berduit yang bisa beli. Hari ini, kita bisa menikmati GULANAS, gula asli dengan low glycemic index. Gula ini diproduksi dengan mesin khusus, tidak menggerus kandungan zat antioksidan ‘polifenol’. Bukan sekedar aman bagi penderita diabet, tetapi meringankan kerja pankreas. Harga terjangkau,” demikian H Kahfi Suharto, distributor GULANAS kepada duta.co, Minggu (8/9/2019).

GULANAS ini juga telah diteliti (uji laboratorium) oleh dr Didah Nur Faridah, S.TP, MSI dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Hasilnya, cukup mengejutkan. Angka glycemic berada pada titik respon 55 menit ke bawah. Artinya, masuk katergori IG (glycemic index) rendah atau low glycemic index.

“Pangan yang memiliki IG rendah, karbohidratnya akan dipecah dengan lambat, sehingga cara melepaskan glukosa ke dalam darah, juga lambat,” demikian hasil laboratorium dr Didah Nur Faridah terhadap produk GULANAS.

Masih menurut Didah Faridah, sebagai pangan acuan digunakan glukosa murni yang memiliki nilai IG 100. Dijelaskan, ditilik dari IG, makanan atau minuman itu memiliki tiga kategori. Pertama, kategori IG rendah maksimal respon 55 menit, kedua pangan dengan IG sedang berada pada titik respon 56-69 menit, ketiga asupan dengan IG tinggi di atas 70 atau bahkan sampai 120 menit.

Itulah sebabnya, menurut H Kahfi Suharto, GULANAS bukan sekedar solusi baru bagi penderita diabet dan pemilik tubuh bongsor, tetapi juga bagi siapa saja yang ingin hidup sehat, sayang terhadap pankreas.

“Dengan mengkonsumsi GULANAS kerja (produksi insulin) pankreas menjadi ringan, memberi kesempatan pankreas untuk kembali normal. Dan, tak kalah penting, bebas dari pemanis buatan,” tegasnya.

Stop Pemanis Buatan

Selama ini banyak orang bertanya: Mengapa gula kita ‘jahat’? Mengapa (organ) pankreas mudah ‘menyerah’, tak mau melepaskan insulin sesuai dengan kebutuhan tubuh kita? Akhirnya, banyak yang lari ke pemanis buatan (PB). Padahal dampak buruknya, tak kalah serius.

“Apakah Anda salah satunya,” demikian tanya Dr Karin, jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dengan gelar cum laude di www.klikdokter.com.

Kalau ‘Ya’, stop konsumsi pemanis buatan. Pemanis buatan memang dapat mendatangkan manfaat. Tak heran, banyak orang yang tergoda mengonsumsinya dalam jumlah banyak, dengan alasan terhindar dari pertambahan berat badan maupun peningkatan kadar gula darah.

Fenomena tersebut mendorong para ahli untuk melakukan penelitian mengenai dampak kesehatan dari konsumsi pemanis buatan. Tahun 1970, pemanis buatan jenis siklamat diduga menyebabkan kanker dan ditarik dari pasar.

Namun demikian, ada pemanis buatan yang diizinkan FDA (Food and Drug Association) masih terbukti aman dan tidak menyebabkan peningkatan risiko kanker, dengan catatan tidak dikonsumsi secara berlebihan. Karena jika dikonsumsi berlebihan (lebih dari 1680 mg per hari), pemanis buatan yang awalnya aman tetap dapat menyebabkan kanker kandung kemih.

“Tak hanya itu, sebuah studi yang dilakukan selama 11 tahun di Inggris menunjukan bahwa orang yang mengonsumsi dua kaleng atau lebih minuman manis dalam sebulan, memiliki risiko penyakit jantung koroner dan penyakit ginjal kronis lebih tinggi,” tulis Karin.

Di sisi lain, studi yang melibatkan penyandang diabetes melitus tipe 2 menyebutkan bahwa konsumsi rutin sarapan pagi yang mengandung pemanis buatan jenis aspartam atau sukralosa tetap menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Ini sama dengan mengonsumsi gula biasa.

Sedangkan, studi yang dilakukan terhadap 5.158 orang dewasa di San Antonio mendapatkan hasil bahwa konsumsi pemanis buatan secara rutin terbukti dapat meningkatkan berat badan. “Bahkan, konsumsi minuman soda diet ternyata lebih menyebabkan kegemukan ketimbang minuman soda yang mengandung gula asli,” jelasnya sebagaimana dikutip www.klikdokter.com.

Masalah Harga

Gula dengan produk khusus, menghasilkan kandungan zat antioksidan ‘polifenol’ cukup atau disebut low glycemic index, harganya memang lebih mahal. Misalnya, produk CSR dengan Low Glycemic Healthy, Gula Sehat Diabetes dari luar negeri itu dibandrol Rp 175 ribu/750 gram. Artinya 1 kg gula asli Low Glycemic bisa sampai Rp233 ribu.

“Nah, GULANAS tidak sampai segitu. Untuk ukuran 500 gram hanya Rp62,5 ribu. Kami juga sediakan bentuk cair. Selain bahan tebu, GULANAS juga memproduksi gula aren dengan low glycemic index. Saatnya kita hidup sehat dengan gula asli, hentikan asupan pemanis buatan,” tegasnya.

Kalau ada yang membutuhkan, jelas Ustad Kahfi, panggilan akrabnya, bisa menghubungi Koperasi BISMA (Bina Swadaya Masyarakat) Jawa Timur. Hubungi Arie Murtashiyah 081-2166-9599. (rls,kd.c)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry