
dan Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret Surakarta
PROGRAM Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan oleh pemerintah pusat pada Februari 2025 merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit.
Di Surabaya, implementasi program ini mendapat sambutan positif dari warga, namun juga menimbulkan tantangan te rsendiri, terutama terkait beban kerja tenaga kesehatan di Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kesehatan meluncurkan program Cek Kesehatan Gratis sebagai bagian dari upaya deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Tujuan utamanya adalah mendorong masyarakat untuk proaktif memeriksa kondisi kesehatan dasar secara rutin dan mempercepat pencapaian target preventive-promotive dalam Sistem Kesehatan Nasional.
Implementasi CKG di Surabaya
Pemerintah Kota Surabaya telah mengintegrasikan program CKG ke dalam layanan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tersebar di seluruh kota. Warga yang berulang tahun diberikan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gratis dalam rentang waktu 30 hari setelah hari ulang tahunnya.
Pemeriksaan mencakup skrining awal seperti gula darah, kolesterol, tekanan darah, hingga pemeriksaan gigi. Jika ditemukan indikasi masalah kesehatan yang lebih serius, warga akan dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan seperti laboratorium dan Elektrokardiografi (EKG).
Pemerintah Kota Surabaya mulai mengimplementasikan program ini pada awal Februari 2025. Melalui Dinas Kesehatan Kota, program dijalankan dengan skema berikut :
*Â Sasaran: Semua warga Surabaya yang sedang berulang tahun dalam satu bulan berjalan.
*Â Fasilitas layanan: Pemeriksaan dilakukan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan sebagian klinik mitra.
*Â Jenis layanan: Pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, pemeriksaan gigi, dan konseling kesehatan.
*Â Rujukan: Jika ditemukan keluhan atau hasil yang mengarah pada gangguan kesehatan, warga akan dirujuk ke rumah sakit atau layanan laboratorium lanjutan (misal: EKG, pemeriksaan darah lengkap).
Tantangan Beban Kerja Tenaga Kesehatan
Meskipun program ini bertujuan mulia, pelaksanaannya menimbulkan kekhawatiran terkait beban kerja tenaga kesehatan. Pakar kesehatan Prof. Tjandra Yoga Aditama mengingatkan bahwa tanpa persiapan yang matang, tenaga medis di Puskesmas bisa kewalahan menghadapi lonjakan pasien yang ingin memanfaatkan layanan CKG. Hal ini berpotensi mengganggu layanan rutin yang sudah berjalan.
Pemerintah Kota Surabaya mengklaim telah mengantisipasi hal ini dengan memanfaatkan data kelahiran warga untuk memperkirakan jumlah pasien yang akan datang setiap harinya. Dengan demikian, layanan CKG diharapkan tidak mengganggu pelayanan utama di Puskesmas.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa antusiasme warga yang tinggi tetap menimbulkan tekanan tambahan bagi tenaga kesehatan. Meski secara administratif berjalan baik, terdapat beberapa tantangan lapangan yang muncul :
* Lonjakan beban kerja tenaga kesehatan : Puskesmas harus melayani pasien reguler sambil menangani tambahan pasien CKG tanpa tambahan SDM memadai.
*Â Keterbatasan alat medis dan logistik :Â Seperti strip gula darah, reagen kolesterol, dan alat EKG yang terbatas di beberapa fasilitas.
* Variasi pelaksanaan antar wilayah : Ada Puskesmas yang siap melayani hingga 80 pasien CKG per hari, tetapi ada pula yang hanya mampu 20–30 karena keterbatasan SDM.
* Kurangnya integrasi dengan sistem rujukan lanjutan : Tidak semua kasus yang dirujuk dapat ditindaklanjuti segera oleh rumah sakit karena antrean yang panjang.
Upaya Pemerintah Kota Surabaya
Untuk mendukung pelaksanaan program CKG, Pemerintah Kota Surabaya telah mengerahkan kader kesehatan di tingkat Rukun Warga (RW) untuk membantu sosialisasi dan pendampingan warga dalam mengakses layanan ini. Langkah ini bertujuan untuk meringankan beban tenaga medis di Puskesmas dan memastikan bahwa informasi mengenai program CKG tersebar merata di masyarakat.
Untuk meminimalisir lonjakan pasien dan menjaga layanan reguler tetap berjalan, Pemkot Surabaya menerapkan beberapa strategi :
* Pemanfaatan data kependudukan : Melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, data warga yang berulang tahun dikirimkan ke Puskesmas sebagai dasar perencanaan kuota harian layanan.
* Sosialisasi oleh kader kesehatan : Kader di setiap RW bertugas menyampaikan informasi dan memotivasi warga agar memanfaatkan layanan tepat waktu.
*Â Sistem antrean dan pembagian waktu layanan: Beberapa Puskesmas menerapkan sistem reservasi online atau jam layanan tambahan untuk pemeriksaan CKG.
*Â Tidak mengganggu layanan primer: Pemerintah menjamin bahwa pelayanan utama seperti imunisasi, ANC, dan pengobatan tetap berjalan sesuai jadwal.
Rekomendasi dan Kesimpulan
Agar program CKG dapat berjalan efektif tanpa membebani tenaga kesehatan, beberapa langkah perlu dipertimbangkan :
1. Penambahan Sumber Daya Manusia: Merekrut tenaga medis tambahan atau relawan kesehatan untuk membantu pelaksanaan program.
2. Pelatihan dan Pendampingan: Memberikan pelatihan kepada kader kesehatan agar mereka dapat membantu dalam proses skrining awal.
3. Penjadwalan yang Efisien: Mengatur jadwal pemeriksaan dengan sistem antrean yang terorganisir untuk menghindari penumpukan pasien.
4. Evaluasi: Melakukan evaluasi rutin terhadap pelaksanaan program untuk mengidentifikasi kendala dan mencari solusi yang tepat.
Program Cek Kesehatan Gratis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan dan dukungan dari semua pihak, terutama dalam mengelola beban kerja tenaga kesehatan agar tidak mengganggu layanan kesehatan yang sudah ada. *








































