Farida Umamah dan R. Khairiyatul Afiyah saat dinobatkan sebagai juara pertama Pengmas Award Unusa. DUTA/endang

Anak Cerdas, tidak instan. Dibutuhkan proses bukan sejak memasuki usia sekolah, melainkan sejak di dalam kandungan.

Karena dengan menjagak bayi dalam kandungan berkomunikasi, maka ketika lahir dan dewasa anak akan lebih cerdas dibandingkan seusianya. Tidak percaya? Buktikan saja!

Jangan berpikir janin di dalam kandungan itu tidak bisa mendengar. Mereka bisa mendengar apa yang diucapkan orang di sekitarnya terutama ibunya. Mereka juga bisa merasakan apa yang dirasakan di sekitarnya terutama ibunya.

Karenanya, sejak dalam kandungan, janin harus diperdengarkan hal-hal yang positif. Janin juga harus diperlakukan dengan baik dan diajak untuk melakukan hal-hal yang baik.

Karena kunci agar di janin kelak menjadi orang yang pintar, berakhlaq dan sebagainya bermula saat dalam kandungan.

Perlu diketahui, komunikasi pertama yang dilakukan janin adalah dengan cara menendang dan bergerak dalam kandungan.

Gerakan-gerakan janin dalam perut bisa diartikan sebagai sapaan khas kepada ibunya.

Saat merasakan gerakan janin  alangkah baiknya membalas dengan mengelus juga bercakap-cakap dengan janin, memberikan nasihat-nasihat  dan pelajaran-pelajaran yang berguna bagi kehidupannnya kelak (Hidajati, 2010).

Mengajak janin berbicara adalah sebuah cara untuk merangsang kehidupannya dan  mengajak untuk berdialog.

Janin akan mengetahui kasih sayang dan cinta dari orangtuanya, kehadirannya diharapkan jika janin diajak berbicara dan diberikan kasih sayang lewat belaian, sentuhan, dan usapan.

Saat ini banyak orang tua yang mengabaikan komunikasi  (mengajak berbicara, mendengarkan suara, memberikan sentuhan)  dengan janin misalnya tidak pernah diajak berbicara.

Hasil studi  pendahuluan  pada ibu hamil  trimester II dan trimester III  didi Poli KIA RS Islam  Surabaya, menyebutkan dari 10 orang ibu hamil, empat orang memberikan sentuhan, 1 orang  mengajak berbicara dengan janin.

Satu orang berkomunikasi dengan cara mendengarkan suara seperti mendengarkan musik dan empat  orang tidak  melakukan komunikasi dengan janin (memberikan sentuhan, mengajak berbicara janin dan memperdengarkan musik).

Komunikasi sejak dalam kandungan penting dilakukan  dalam membentuk ikatan batin ibu dan anak. Sentuhan pertama antara ibu dan anak adalah sesuatu yang istimewa.

Karena sentuhan adalah media komunikasi dan hal pertama yang dapat dirasakan dari keseluruhan perkembangan panca  indra janin.

Tidak hanya sentuhan saja yang penting,  stimulasi saat masih berada dalam rahim sangat penting untuk mengoptimalkan kinerja kedua belahan otak pada janin.

Sel-sel otak janin berkembang lebih aktif. Hal ini bermanfaat bagi pertumbuhan otak kiri dan otak kanan janin, sehingga fungsi otak kiri dan kanannya menjadi seimbang.

Edukasi kepada para ibu hamil di Poli KIA RSI Ahmad Yani Surabaya. DUTA/istimewa

Manfaat lainnya  anak tumbuh menjadi pribadi  kuat,  memiliki rasa percaya diri tinggi, mampu menyerap banyak hal, memahami perasaan orang lain atau mampu berempati, serta lebih siap dalam mempelajari lingkungannya.

Selain itu komunikasi yang baik dengan janin dapat  merangsang gerak, denyut jantung janin, serta merangsang kreativitas dan kecerdasan anak (Rusdie, 2012).

Komunikasi dengan janin dilakukan dengan tujuan  untuk membangun karakter, kedekatan dengan buah hati, juga mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan.

Untuk mencapai hasil yang  optimal, peran  serta bidan dalam pelayanan antenatal care  sangat penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang cara komunikasi dengan janin.

Tim pengmas Unusa berfoto bersama. DUTA/istimewa

Misalnya dengan memberikan informasi melalui konseling, selebaran,  maupun penyuluhan sehingga  dapat membantu dalam peningkatan pengetahuan ibu dalam berkomunikasi dan menstimulasi janin.

Dua dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Farida Umamah  dan R. Khairiyatul Afiyah mencoba melakukan pengabdian masyarakat berdasarkan riset-riset para ahli itu.

Itu dilakukannya kepada para ibu hamil yang sedang memeriksakan kehamilannya di Poli Kesehatan Ibu Anak (KIA) RSI Surabaya Ahmad Yani, beberapa waktu lalu.

Farida dan Khairiyatul mencoba mengedukasi para ibu dan keluarganya agar sering-sering mengajak komunikasi janin di dalam kandungannya.

“Caranya bermacam-macam. Misalnya dengan menyebutkan angka-angka, huruf, menyebut nama-nama keluarga dan sebagainya,” ujar Farida.

Dari sana, janin yang mendengar akan merekamnya di dalam otak sehingga ketika anak lahir, sudah mulai memiliki bakat kepintaran.

“Jadi tidak instan. Dari janin sudah dibentuk agar anak bisa cerdas tidak hanya cerdas ilmu dunia tapi akhiratnya,” tambah Farida.

Farida dan Khairiyatul dibantu mahasiswa Keperawatan juga mengajari para ibu hamil agar bisa melakukan komunikasi dengan janin di rumah dalam setiap kesempatan.

“Kita ajari bagaimana caranya. Sehingga di rumah mereka bisa melakukannya sendiri,” tukasnya.

Pengmas yang dilakukan keduanya, ternyata mendapatkan apresiasi dari kampus. Pihak Unusa memberikan penghargaan kepada keduanya.

Pengmas dengan judul Pentingnya Komunikasi pada Janin saat Hamil ini meraih juara pertama Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Award 2018. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.