
Oleh Dr. H.A. Mukholis, MM.Pd*
DI sebuah sekolah dasar, seorang guru pernah bercerita bahwa ada murid yang hampir setiap pagi datang dengan wajah lesu.
Ketika pelajaran dimulai, ia lebih sering menundukkan kepala daripada mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan. Bukan karena ia tidak cerdas.
Bukan pula karena tidak ingin belajar. Belakangan diketahui, pagi itu ia berangkat ke sekolah tanpa sempat sarapan.
Bagi seorang guru, peristiwa seperti itu bukan cerita yang asing. Perut yang lapar sering kali membuat pelajaran terasa lebih berat. Huruf-huruf di papan tulis sulit dipahami, sementara pikiran lebih sibuk memikirkan kapan waktu istirahat tiba.
Karena itu, setiap ikhtiar yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak-anak patut diapresiasi.
Kepedulian terhadap kesehatan dan kecukupan nutrisi peserta didik merupakan langkah penting untuk menyiapkan generasi yang lebih sehat dan lebih siap belajar.
Namun pengalaman panjang di dunia pendidikan juga mengajarkan satu hal. Anak-anak tidak hanya membutuhkan makanan.
Mereka juga membutuhkan perhatian.
Mereka membutuhkan kasih sayang.
Mereka membutuhkan guru yang menginspirasi.
Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan cerita mereka sepulang sekolah.
Dan mereka membutuhkan lingkungan yang membuat belajar terasa menyenangkan.
Makanan bergizi memang membantu tubuh bertumbuh dengan baik. Akan tetapi, karakter, rasa ingin tahu, kejujuran, semangat belajar, dan kepedulian kepada sesama tidak tumbuh hanya karena sepiring makanan.
Semua itu tumbuh melalui keteladanan yang mereka lihat setiap hari.
Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang masuk ke dalam perut anak, tetapi lupa memperhatikan apa yang masuk ke dalam pikirannya.
Padahal setiap hari mereka juga “memakan” banyak hal: tontonan, percakapan, kebiasaan, dan contoh dari orang-orang di sekitarnya.
Di sinilah pendidikan mempunyai peran yang jauh lebih luas.
Sekolah bukan sekadar tempat anak menerima pelajaran.
Sekolah adalah ruang tempat mereka belajar menghormati teman, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika berbuat salah, bekerja sama, serta memahami bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari nilai rapor.
Begitu pula keluarga.
Sesibuk apa pun orang tua bekerja, beberapa menit untuk mendengarkan cerita anak sering kali lebih berharga daripada nasihat yang panjang.
Anak-anak tumbuh bukan hanya karena apa yang mereka makan, tetapi juga karena apa yang mereka rasakan.
Mungkin karena itulah pendidikan tidak pernah bisa diselesaikan oleh satu program saja. Setiap kebijakan memiliki perannya masing-masing.
Namun keberhasilan pendidikan selalu lahir dari kerja sama banyak pihak: pemerintah yang menghadirkan kebijakan, sekolah yang membangun suasana belajar, keluarga yang mendampingi, dan masyarakat yang menciptakan lingkungan yang baik.
Barangkali inilah saatnya kita memandang pendidikan secara lebih utuh.
Ketika anak mendapatkan makanan bergizi, kita patut bersyukur karena tubuhnya memiliki bekal untuk bertumbuh sehat.
Ketika anak mendapatkan kasih sayang, keteladanan, dan pendidikan yang baik, kita patut berharap karena jiwanya juga sedang bertumbuh.
Bangsa ini tentu membutuhkan anak-anak yang sehat. Namun bangsa ini juga membutuhkan anak-anak yang jujur, peduli, bertanggung jawab, gemar belajar, dan memiliki cita-cita.
Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak hanya menyiapkan anak untuk hari ini.
Pendidikan sedang menyiapkan manusia untuk masa depan.
Maka, setiap kali kita berbicara tentang makanan bagi anak-anak, jangan lupa membicarakan pula “gizi” bagi hati dan pikirannya.
Karena ketika keduanya berjalan bersama, kita bukan hanya sedang mengenyangkan perut mereka.
Kita sedang menumbuhkan generasi.(*)



































