SURABAYA | duta.co – Setelah Ilham Maulana, alumni UIN SA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) Surabaya undur diri, kini Muhammad Faris Habiburrahman, alumni Universitas Al-Azhar Kairo yang menggantikannya. Kebetulan Faris, panggilan akrabnya, domisili rumahnya tidak jauh. Sama dengan lokasi Museum NU, Kelurahan Menanggal, Kecamatan Gayungan, Surabaya.

“Ini tantangan baru. Meski selama ini telah belajar Aswaja (Ahlussunnah wal jamaah) An-Nahdliyah, tetapi menjadi guide Museum NU, adalah pertama dalam hidup ini,” demikian disampaikan Muhammad Faris, lelaki murah senyum itu kepada duta.co, di Gedung Museum NU, Jl Gayungsari Timur, 35, Surabaya, Selasa (22/7/25).

Tidak mudah memang menjadi guide. Dia berposisi sebagai penghubung antar-budaya dan pengetahuan bagi pengunjung. Sementara pengunjung Museum NU tidak jarang adalah siswa madrasah, baik Ibtidaiyah atau SD, Tsanawiyah (SMP), Aliyah (SMA) juga mahasiswa. Bahkan tidak jarang para pengamat dalam dan luar negeri.

“Kalau yang berkunjung siswa MI atau SD, maka, materi untuk mereka jelas berbeda dengan mahasiswa. Perlu ada kesamaan silabi, sehingga bisa menambah keilmuan mereka dalam memahami Aswaja An-Nahdliyah,” terangnya serius.

Menurut Faris, sebagai guide ia berkewajiban mengemas informasi lebih menarik. Ini untuk mematri informasi Aswaja NU. Guide harus mampu mengelola informasi kompleks menjadi cerita yang mudah dimengerti. Dengan keterampilan berkomunikasi yang ulung, mereka mampu menjadikan kunjungan Museum NU lebih menarik dan memberi kesan mendalam bagi setiap pengunjung. “Ini tantangan serius. Syukur nanti setiap foto masyayikh ada barcode yang bisa difoto dan dibaca secara lengkap,” usulnya.

Saat tampil sebagai pemandu berbagi cerita menarik tentang artefak yang dipamerkan,  lanjutnya, guide menawarkan lebih dari sekadar informasi, harus bisa memperkaya pengetahuan pengunjung tentang sejarah, seni, dan budaya. Hal ini untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi pengunjung terhadap warisan budaya yang mereka temui, sehingga memberikan pengalaman wisata yang lebih bermakna dan mendalam.

“NU itu tidak kehabisan cerita, baik terkait ibadah, tasawuf, termasuk tentang kebangsaan. Pun hasanah lain, seperti keris, benda-benda keramat, kitab-kitab klasik sampai jejak perang para kiai. Ini menarik, di samping itu, tentu, untuk meneruskan perjuangan orangtua,” tegas putra almarhum H Kahfi Suharto mantan Ketua Yayasan Museum NU dengan senyum.

Selain alumni Universitas Al-Azhar Kairo, Muhammad Faris Habiburrahman juga alumni Madrasah Aliyah (MA) Amanatul Ummah, Pacet Mojokerto. Ia juga rajin mengikuti organisasi Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir. Faris aktif mengikuti pergerakan Organisasi Kekeluargaan Jawa Timur di Mesir. Semoga bermanfaat. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry